Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Archive for the ‘Kognisi’ Category

Gaya Belajar dan Perilaku Informasi

Posted by putubuku pada Oktober 15, 2008

Dalam soal “gaya-gaya“an manusia adalah mahluk yang sangat kreatif. Lalu, apakah ada gaya berbeda dalam belajar dan dalam mencari informasi di kalangan siswa atau mahasiswa. Sejauh ini gaya mahasiswa yang tertampak adalah gaya “mejeng” 🙂 . Mungkinkah kita meneliti gaya lain selain fashion dan pola konsumsi di kantin? Mungkin saja!! Misalnya adalah penelitian tentang proses belajar di Inggris.

Sebagai bagian dari penelitian tentang pendidikan pada pertengahan 1970-an, G. Pask dan kawan-kawan meneliti bagaimana murid menjalani proses belajar tentang berbagai topik yang tergolong rumit, seperti taksonomi biologi, jaringan mata-mata internasional, kinetika, dan jaman pemerintahan Raja Henry VIII. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada dua “gaya” (style) umum di kalangan murid, yaitu holist dan serialist.

  • Gaya holist (holistik) cenderung menggunakan pendekatan global, memeriksa keterkaitan berbagai topik sejak awal proses belajar, dan berkonsentrasi pada upaya membangun gambaran yang menyeluruh tentang suatu persoalan di awal proses belajar.
  • Sebaliknya, gaya serialist (serialis) cenderung menggunakan pendekatan “lokal” dan berkonsentrasi pada berbagai topik secara terpisah terlebih dahulu, sebelum membangun keterkaitan antar topik. Jika dihadapkan pada isu yang mengandung aspek teoritis (dunia ideal) dan praktis (dunia nyata), para pelajar serialis biasanya berupaya memahami masing-masing aspek secara terpisah, sebelum mencari kaitannya. Sebaliknya, para pelajar holistik sejak awal sudah berupaya bolak-balik antara teori dan realita.

Secara lebih lengkap, perbedaan kaum holistik dan kaum serialis dapat dilihat di tabel berikut:

SERIALIS

HOLISTIK

  • Linear-sequential, memahami topik demi topik
  • Fokus lokal
  • Pemelajaran dengan “langkah-langkah kecil”
  • Terganggu jika ada data yang kurang penting
  • Reproduktif, mengandalkan memori verbatim
  • Sangat pasti dalam membangun konsep
  • Konsentrasi pada rangkaian logika yang sederhana
  • Memisahkan teori dan dunia nyata di awal proses
  • Menyukai hipotesis yang sederhana
  • Lebih siap jika diminta mengembangkan prosedur
  • Mendapat gambaran total di penghujung akhir
  • “Improvidence” – pengetahuan terpecah-pecah
  • Holistic/parallel – belajar semua topik “sambil jalan”
  • Fokus global
  • Pemelajaran dengan “langkah-langkah lebar”
  • Menghargai data yang memperkayai pemahaman
  • Elaborasi untuk mengembangkan makna pribadi
  • Kurang pasti dalam membangun konsep
  • Berupaya mencari pola antarhubungan
  • Sejak awal menggabung teori dan dunia nyata
  • Tidak punya masalah dengan hipotesis rumit
  • Lebih cocok untuk mengembangkan deskripsi
  • Sejak awal sudah punya gambaran umum
  • “Globetrotting” – membuat generalisasi berlebihan

Menurut penelitian Pask, gaya belajar para murid terbukti mencerminkan cara mereka mengembangkan pengetahuan dan pemahaman. Walaupun berbeda, kedua gaya ini akhirnya sama-sama dapat digunakan mencapai (tentu saja lewat rute berbeda) tingkat pengetahuan yang cukup tinggi. Kaum holistik cenderung mengembangkan deskripsi, sementara kaum serialis lebih mementingkan prosedur.

Pada akhirnya, sebuah pengetahuan selalu memerlukan keduanya, deskripsi maupun prosedur. Kemampuan deskriptif diperlukan untuk memahami keseluruhan bidang persoalan yang memerlukan pengetahuan. Kemampuan prosedural diperlukan untuk kegiatan yang lebih operasional dan rinci untuk mendukung makna keseluruhan. Analoginya adalah arsitek dan insinyur sipil. Seorang arsitek menggambar dan mendeskripsikan bangunan secara menyeluruh, sementara seorang insinyur sipil memimpin pembangunan yang sesungguhnya, batubata demi batubata.

Pask kemudian juga menyatakan bahwa murid yang bergaya holistik dan cenderung membangun deskripsi seringkali merupakan pelajar yang menekankan komprehensi (comprehensive learners). Murid yang bergaya serialis dan menyukai langkah-langkah prosedural yang terinci seringkali merupakan pelajar yang menekankan aspek operasional (operation learners).

Pada titik ekstrim, seorang pelajar komprehensif mungkin saja terlalu bersemangat mengembangkan deskripsi bidang pengetahuan global (globetrotting) sehingga melupakan rincian pendukung, dan akhirnya melakukan generalisasi yang berlebihan (overgeneralization). Sebaliknya, pelajar operasional yang terlalu menekankan rincian proses operasi cenderung kurang dapat melihat “gambar besar” yang harus dipahaminya, sehingga berisiko mengalami improvidence (kekurangcermatan) karena pengetahuannya terpecah-pecah.

Pask mengatakan, bahwa pelajar yang tidak menunjukkan ekstrimitas dalam gaya belajar mereka, akan memperhatikan baik aspek deskripsi maupun aspek prosedur dari suatu proses belajar. Pelajar ini dikelompokkan sebagai pelajar yang lentur dan cekatan (versatile learners).

Lalu bagaimana kaitan semua ini dengan perilaku informasi? Walaupun hal ini tidak dibahas di artikel Pask dan kawan-kawan, namun kita dapat melihat bahwa gaya belajar ini akan segera memengaruhi cara seorang murid mencari informasi. Dapat kita bayangkan, misalnya, seorang murid yang cenderung holistik akan punya kebiasaan mencari informasi dari yang umum ke yang khusus, sementara temannya yang serialis cenderung memecah persoalannya dahulu sebelum mulai mencari informasi.

Lebih jauh lagi, pastilah ada perbedaan antara cara mencari informasi di kalangan arsitek dan insinyur. Seorang arsitek mungkin akan menyukai informasi-informasi deskriptif dalam jumlah cukup besar yang dapat membantunya memberi gambaran menyeluruh, sementara seorang insinyur lebih suka pada informasi-informasi prosedural. Mahasiswa yang mengambil bidang biologi mungkin akan berbeda dari mahasiswa di bidang farmasi, dan bahkan antar mahasiswa biologi pun mungkin punya perbedaan gaya belajar yang akan memengaruhi pola pencarian mereka.

Adalah tantangan bagi para peneliti bidang perpustakaan dan informasi untuk mengungkap keberadaan berbagai gaya belajar dan perilaku informasi itu. Persoalannya tinggal: mau nggak ambil topik ini. Atau mungkin mau memastikan dulu Anda sendiri punya gaya belajar apa? Gaya belajar malezzzz.. he he he. Peace, man!

Bacaan

Pask, G. (1976). “Styles and strategies of learning” dalam The British Journal of Educational Psychology, 46:128–148.

Iklan

Posted in Kajian Pemakai, Kognisi | Dengan kaitkata: , | 3 Comments »

Mencari dan Menjaring di Internet

Posted by putubuku pada Mei 11, 2008

Gambar di sebelah ini adalah sebuah model yang diusulkan Savolainen (2001) untuk memahami kemampuan (atau ketidak-mampuan) seseorang dalam menemukan informasi di sebuah jaringan komputer. Dalam konteks keberaksaraan (literasi) informasi, model ini menjadi penting bagi upaya pustakawan dan manajer informasi untuk membantu para pengguna perpustakaan atau sistem informasi. Kita tahu, bahwa saat ini jaringan komputer, khususnya dalam bentuk Internet, adalah salah satu sumber utama bagi banyak orang, sekaligus juga merupakan sumber yang sering disalah-gunakan dan disalah-artikan.

Saat ini, kompetensi seseorang dalam memanfaatkan jaringan komputer ketika ia sedang membutuhkan informasi menjadi salah satu faktor penting di sekolah, kampus, maupun di tempat kerja. Tidak saja seseorang perlu ‘melek informasi’ (information literate), tetapi juga harus ‘melek jaringan’ (network literate). Menurut Savolainen, khusus dalam kegiatan menemukan informasi (information seeking), maka pemanfaatan jaringan ini sangat dipengaruhi oleh setidaknya 4 hal, yaitu:

  1. Situasi dan tujuan tindakan atau upaya menemukan informasi itu,
  2. Kriteria yang digunakan seseorang dalam memilih saluran komunikasi,
  3. Pengetahuan seseorang tentang sumber informasi yang tersedia,
  4. Hambatan yang mungkin timbul ketika seseorang mengakses Internet

Lalu bagaimana kita dapat memahami apa yang terjadi pada diri seseorang ketika ia melanglang dunia cyber di Internet (dan bahkan tersesat di dalamnya)? Savolainen mengusulkan penggunaan teori sosial-kognitif buatan Albert Bandura (1986) untuk membedah persoalan ini. Teori Bandura ini didasarkan pada pandangan bahwa lingkungan dan konteks dari sebuah perilaku merupakan faktor yang saling berkait. Perilaku seseorang di satu situasi tertentu akan dipengaruhi oleh faktor situasional dan kontekstual. Sebaliknya, perilaku itu juga mempengaruhi situasi dan konteks di mana seseorang berperilaku. Jadi, ada baku-kait (reciprocal relationships) antara situasi, konteks, dan perilaku.   yang sebaliknya juga dipengaruhi oleh perilaku.

Teori sosial kognitif secara khusus menganggap bahwa perilaku manusia dituntun oleh insentif internal, yang sebagian besarnya tertanam di dalam aktivitas kognitif (di benak manusia). Khususnya lagi, perilaku manusia dituntun oleh harapan-harapan (expectancies). Ada dua harapan yang disorot secara khusus oleh Bandura dan dianggap relevan oleh Savolainen untuk menjelaskan perilaku informasi seseorang di Internet.

Pertama adalah harapan seseorang yang berkaitan dengan hasil tindakannya. Harapan ini merupakan hal yang penting sebab adalah wajar sekali jika seseorang lebih cenderung melakukan perilaku yang ia percaya akan memberikan hasil baik bagi dirinya. Kedua adalah rasa percaya seseorang terhadap ‘self-effifacy‘ berperan amat penting dalam perilaku seseorang. Kata efficacy di sini berarti kapasitas atau kemampuan seseorang untuk menimbulkan efek tertentu dari perbuatannya. (lihat http://www.websters-online-dictionary.org/definition/efficacy)

Menurut Bandura, ‘perceived self-efficacy’ adalah gambaran seseorang tentang kemampuannya sendiri untuk melakukan sesuatu perbuatan yang kemudian akan mempengaruhi kejadian-kejadian dalam hidup mereka. Gambaran tentang self-efficacy ini menentukan bagaimana seseorang merasa, berpikir, dan berperilaku.

Jika tertarik pada teori-teori Bandura, silakan tengok situs-situs ini:

  1. http://condor.admin.ccny.cuny.edu/~hhartman/SOCIAL%20COGNITIVE%20APPROACH%20TO%20PERSONALITY%20ALBERT%20BANDURA%20(1925-).htm (berisi ringkasan teori)
  2. http://webspace.ship.edu/cgboer/bandura.html (biografi ringkas Bandura)
  3. http://www.des.emory.edu/mfp/BanEncy.html (teori self efficacy).

Savolainen mengaitkan teori self-efficacy ini dengan keterampilan berjaringan, sebab sangat relevan untuk situasi ketika seseorang belum terbiasa menggunakan Internet untuk menemukan informasi, walau sudah tertarik atau berminat untuk menggunakannya. Teori tentang self-efficacy ini juga relevan untuk menjelaskan mengapa ada pengguna awal yang belum nyaman dan belum yakin kepada kemampuan mereka sendiri dalam menemukan informasi di Internet.

Hasil kegiatan atau performance outcome merupakan faktor penting dalam teori self-efficacy. Kesuksesan tentunya menaikkan gambaran seseorang tentang self-efficacy, dan sebaliknya kegagalan membuat nilai self-efficacy itu merosot. Berdasarkan teori Bandura itulah, Savolainen menawarkan sebuah model kompetensi jaringan yang bersifat kontekstual sebagaimana terlihat di gambar di atas. Dalam model tersebut, kompetensi jaringan dianggap sebagai bagian integral dari tindakan penemuan informasi, dan merupakan faktor yang mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh tindakan itu.

Dalam model tersebut Savolainen menekankan kaitan antara berbagai faktor utama. Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan Internet selalu terjadi di konteks sosial-kultural tertentu, misalnya tempat kerja, di sekolah,  atau bahkan di tempat leha-leha. Berbagai faktor saling berkait secara timbal balik. Kompetensi jaringan – sebagai kombinasi dari ‘knowing that’ (paham) dan ‘knowing how’ (terampil)- ikut ditentukan oleh keyakinan tentang self-efficacy. Terutama di dalam diri para pengguna awal, kompetensi sangat ditentukan oleh seberapa percaya-diri seseorang tentang kemampuannya menggunakan komputer dan mencari informasi.

Lebih khusus, model ini menyatakan bahwa pengalaman menemukan informasi dari lingkungan jaringan dipengaruhi oleh harapan tentang hasilnya. Pengalaman menggunakan jaringan akan menimbulkan reaksi emosi, baik berupa kenyamanan maupun ketegangan atau kegelisahan. Adalah wajar bahwa pengalaman yang sukses akan mempengaruhi self-efficacy dan harapan keberhasilan di masa depan. 

Bacaan:

Savolainen, R. (2001), “Network competence and information seeking on the Internet”, Journal of Documentation, vol. 58 no. 2, hal. 211-226.  

Posted in Kajian Pemakai, Kognisi, Teori | Dengan kaitkata: | 1 Comment »