Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Posts Tagged ‘Perilaku informasi’

Perilaku Informasi, Semesta Pengetahuan

Posted by putubuku pada Agustus 7, 2008

Perilaku manusia tak lekang dari semesta yang menghidupinya. Bagi profesor TD Wilson, kalimat ini berlaku mutlak dalam upaya mempelajari perilaku informasi (information behavior).  Inti dari pendapat Wilson pada masa awal upayanya mengembangkan teori tentang perilaku informasi ini dapat dilihat dalam bentuk gambar berikut:

Gambar tersebut merupakan adaptasi dari artikel Wilson, “On user studies and information needs” yang termuat di Journal of Documentation vol. 35 no. 1 tahun 1981. Di model tersebut terlihat ada tiga faktor yang dianggap penting untuk menjelaskan fenomena kebiasaan menemukan informasi (information seeking), yaitu konteks kehidupan pencari informasi, sistem informasi yang digunakannya, dan sumberdaya informasi yang mengandung berbagai informasi yang diperlukan. Ketiga aspek ini berada di dalam apa yang dinamakan “semesta pengetahuan”.

Wilson juga menekankan bahwa “sistem” dalam model di atas dapat berupa sistem yang sepenuhnya hastawi (manual), atau yang sepenuhnya berbantuan mesin (komputer), atau sistem yang digunakan sendiri secara mandiri oleh pencari, atau dapat pula berupa sistem yang menyediakan bantuan perantara alias mediator.

Jelaslah bahwa “user” (pemakai/pengguna)  sebagai objek penelitian perilaku informasi perlu selalu diletakkan dalam konteks sosialnya. Wilson (2000) memperjelas konsep “pemakai/pengguna” ini dalam 5 sub-konsep berikut:

  1. Pemakai sebagai komunikator yang memakai sumberdaya informasi pribadi maupun organisasinya, dan menggunakan sumberdaya ini dalam berkomunikasi dengan sesama. Dalam hal ini, maka pemakai dapat ditinjau dari aspek psikologi sosial dan komunikasi pada umumnya;
  2. Lalu orang ini berupaya menemukan informasi (information-seeker); di sini dia menjadi komunikator tetapi dalam proses yang lebih spesifik berupa pencarian dan penemuan informasi, berkaitan dengan sebuah kegiatan komunikasi yang terpisah dari kegiatan komunikasi umum, melibatkan tidak saja komunikasi inter-personal, melainkan juga:
  3. pemakaian sistem informasi formal, yang merupakan keseluruhan dari peralatan, produk, atau sistem yang secara khusus diciptakan untuk menyimpan, memelihara, menemukan kembali, atau mengemas-ulang informasi. Termasuk di sini adalah perpustakaan, berbagai institusi jasa informasi, jurnal dan pangkalan-data terpasang, berkas rekod organisasi, sistem arsip, dan sebagainya. Seringkali, kajian tentang pemakai berkonsentrasi pada satu aspek ini saja, yaitu aspek interaksi antara manusia dan sistem; padahal seseorang juga dapat bertindak sebagai:
  4. seorang penerima jasa informasi (recipient) ,  sebab tidak semua sistem informasi bersifat pasif. Sebagian besar sistem informasi secara aktif menawarkan jasa mereka, misalnya dalam bentuk jasa kesiagaan informasi (current awareness). Berbagai upaya promosi informasi melalui media massa juga dianggap oleh Wilson sebagai contoh sifat aktif dari sistem informasi;
  5. sehingga akhirnya seseorang adalah pengguna dari informasi yang tersedia di dalam sistem informasi. Wilson mengritik kajian perilaku informasi yang mengabaikan aspek penggunaan atau pemanfaatan informasi yang sudah ditemukan atau disediakan oleh sebuah sistem informasi.

Dengan memakai konsep “pemakai/pengguna” seperti di atas, maka Wilson meletakkan keseluruhan perilaku informasi dalam konteks sosial dan komunikasi yang lebih luas daripada sekadar interaksi antara manusia dan sistem informasi. Pada saat yang sama, Wilson juga meletakkan perilaku informasi sebagai bentuk komunikasi yang lebih spesifik, berbeda dari komunikasi pada umumnya, untuk tujuan-tujuan tertentu dan melibatkan pemakaian sebuah sistem yang secara khusus (atau dalam istilah Wilson, “formal”) untuk keperluan itu. Hasil akhir dari proses kegiatan yang melibatkan perilaku inter-personal maupun interaksi manusia-sistem ini kemudian menimbulkan nilai kemanfaatan atau kegunaan.  

Konsep “pemakai/pengguna” yang luas inilah yang kemudian melahirkan model penjabaran perilaku informasi lebih lanjut, yaitu sebagaimana terlihat di gambar berikut:

Di gambar terlihat bahwa perilaku informasi dipengaruhi oleh kebutuhan pribadi yang berkaitan dengan kebutuhan fisiologis, akfektif, maupun kognitif. Pada gilirannya, kebutuhan ini terkait pula dengan peran seseorang dalam pekerjaan atau kegiatan, dan oleh tingkat kompetensi seseorang sebagaimana diharapkan oleh lingkungannya. Wilson merasa peru menegaskan bahwa lingkungan manusia dapat terdiri dari lingkungan kerja, sosio-kultural, politik, ekonomi, selain tentu saja lingkungan fisik. 

Sewaktu seseorang terdorong untuk mencari informasi, semua faktor di atas akan menentukan bagaimana sesungguhnnya seseorang berperilaku mencari informasi. Selain itu, ada faktor rintangan yang juga akan menentukan bagaimana akhirnya seseorang bertindak-tanduk dalam lingkungan sebuah sistem informasi.

Secara lebih rinci, Wilson bahkan mengusulkan sebuah model yang cukup komprehensif, seperti terlihat di bawah ini:

Di dalam gambar terakhir ini, jelaslah Wilson menanggap bahwa perilaku informasi merupakan proses melingkar yang langsung berkaitan dengan pengolahan dan pemanfaatan informasi dalam konteks kehidupan seseorang. Terlihat pula bahwa kebutuhan akan informasi tidak langsung berubah menjadi perilaku mencari informasi, melainkan harus dipicu terlebih dahulu oleh pemahaman seseorang tentang tekanan dan persoalan dalam hidupnya (Wilson menggunakan istilah “teori” untuk hal ini, walaupun yang dimaksud adalah pengetahuan pribadi seseorang tentang dunianya). Kemudian, setelah kebutuhan informasi berubah menjadi aktivitas mencari informasi, ada beberapa hal yang mempengaruhi perilaku tersebut, yaitu:

  1. Kondisi psikologis seseorang. Cukup masuk akal, bahwa seseorang yang sedang risau dan bertampang memble akan memperlihatkan perilaku informasi yang berbeda dibandingkan dengan seseorang yang sedang gembira dan berwajah sumringah.
  2. Demografis, dalam arti luas menyangkut kondisi sosial-budaya seseorang sebagai bagian dari masyarakat tempat ia hidup dan berkegiatan. Kita dapat menduga bahwa “kelas sosial” juga dapat mempengaruhi perilaku informasi seseorang, walau mungkin pengaruh tersebut lebih banyak ditentukan oleh akses seseorang ke media perantara. Perilaku seseorang dari kelompok masyarakat yang tak memiliki akses ke Internet pastilah berbeda dari orang yang hidup dalam fasilitas teknologi melimpah.
  3. Peran seseorang di masyarakatnya, khususnya dalam hubungan interpersonal, ikut mempengaruhi perilaku informasi. Misalnya, peran “menggurui” yang ada di kalangan dosen akan menyebabkan perilaku informasi berbeda dibandingkan perilaku mahasiswa yang lebih banyak berperan sebagai “pelajar”. Jika kedua orang ini berhadapan dengan pustakawan, peran-peran mereka akan ikut mempengaruhi cara mereka bertanya, bersikap, dan bertindak dalam kegiatan mencari informasi.
  4. Lingkungan, dalam hal ini adalah lingkungan terdekat maupun lingkungan yang lebih luas, sebagaimana terlihat di gambar sebelumnya ketika Wilson berbicara tentang perilaku orang perorangan.
  5. Karakteristik sumber informasi, atau mungkin lebih spesifik: karakter media yang akan digunakan dalam mencari dan menemukan informasi. Berkaitan dengan butir 2 di atas, orang-orang yang terbiasa dengan media elektronik dan datang dari strata sosial atas pastilah menunjukkan perilaku informasi berbeda dibandingkan mereka yang sangat jarang terpapar media elektronik, baik karena keterbatasan ekonomi maupun karena kondisi sosial-budaya.

Kelima faktor di atas, menurut Wilson, akan sangat mempengaruhi bagaimana akhirnya seseorang mewujudkan kebutuhan informasi dalam bentuk perilaku informasi.

Selain itu, ada faktor lain yang akan ikut menentukan aktivitas pencarian dan penemuan informasi seseorang, yaitu pandangan seseorang tentang risiko dan imbalan yang kelak akan dihadapinya jika ia benar-benar melakukan pencarian informasi. Di tahap ini, seseorang menimbang-nimbang, apakah perilakunya perlu disesuaikan atau diselaraskan dengan kondisi yang ia hadapi. Misalnya, untuk contoh kasar saja, seorang ilmuwan kondang yang merasa akan terlihat “bodoh” di hadapan pustakawan, mungkin akan berperilaku berbeda dibandingkan seorang dosen yang cuek dalam hal citranya di mata pustakawan. Si ilmuwan mungkin berpikir bahwa bertanya secara langsung kepada pustakawan akan berisiko menurunkan gengsinya, sementara si dosen mungkin tak peduli pada risiko itu sebab ia berkonsentasi pada “imbalan” yang akan diperolehnya dari pustakawan.

Pada akhirnya, di dalam model Wilson terlihat bahwa berbagai perilaku informasi (mulai dari yang hanya berupa “perhatian pasif”, misalnya dalam bentuk observasi dan browsing serampangan, sampai pencarian yang berkelanjutan) bukanlah wujud langsung dari kebutuhan informasi seseorang. Terlalu sederhana jika kita menganggap bahwa seseorang yang datang ke perpustakaan mempunyai kebutuhan yang pasti dan mutlak. Ada berlapis-lapis faktor yang mengantarai “kebutuhan” dan “perilaku”.

Jika Anda ingin meneliti perilaku informasi, lapisan-lapisan itulah yang harus ada kentarai satu per satu.

Bacaan:

Wilson, T.D. (1999), “Models in information behaviour research” dalam Journal of Documentation, vol 55 no. 33, hal. 259 – 270.

Wilson, T.D. (2000)  “Recent trends in user studies: action research and qualitative methods” dalam Information Research, vol. 5, no. 3 Diturunkan dari : http://informationr.net/ir/5-3paper76.html

 

 
 

Posted in Kajian Pemakai, Teori | Dengan kaitkata: , | 13 Comments »

Membumi Bersama David Ellis

Posted by putubuku pada Mei 17, 2008

Salah satu teori paling populer di kalangan peneliti perilaku informasi (information behaviour) adalah teori karya David Ellis (1987, 1989a, 1989b, 1990). Ia mengembangkan teori perilaku pencarian informasi yang dikaitkannya secara langsung dengan sistem information retrieval. Di dalam argumentasinya, Ellis mengatakan bahwa perilaku lebih mudah ditelusuri daripada kognisi, dan bahwa pendekatan perilaku lebih layak digunakan untuk mengembangkan sistem daripada model kognitif.   

Ellis mengadakan penelitian di kalangan para ilmuwan yang sedang melaksanakan kegiatan sehari-hari mereka, yaitu mencari bacaan, meneliti di lapangan atau di laboratorium, menulis makalah, mengajar, dan sebagainya. Hasil dari penelitian itu adalah sebuah teori untuk menjelaskan perilaku informasi secara umum dalam bentuk serangkaian kegiatan yang terdiri dari:

  1. Starting – terdiri dari aktivitas-aktivitas yang memicu kegiatan pencarian informasi. 
  2. Chaining – kegiatan mengikuti rangkaian sitasi, pengutipan atau bentuk-bentuk perujukan antar dokumen lainnya. 
  3. Browsing – merawak, mengembara tetapi dengan agak terarah, di wilayah-wilayah yang dianggap punya potensi. 
  4. Differentiating – pemilahan, menggunakan ciri-ciri di dalam sumber informasi sebagai patokan untuk memeriksa kualitas isi/informasi. 
  5. Monitoring – memantau perkembangan dengan berkonsentrasi pada beberapa sumber terpilih. 
  6. Extracting – secara sistematis menggali di satu sumber untuk mengambil materi/informasi yang dianggap penting. 

Ellis menyatakan bahwa enam butir di atas saling berkaitan untuk membentuk aneka pola pencarian-informasi, dan seringkali bukan merupakan tahapan-tahapan yang teratur. Selain itu, ia juga menemukan bahwa ada beberapa perbedaan di kalangan ilmuwan yang bergelut dengan bidang berbeda. Misalnya, di kalangan peneliti budaya dan sastra ada tiga tambahan kegiatan spesifik, yaitu Surveying – semacam upaya ‘mengenal medan’ dengan membaca berbagai literatur di suatu bidang atau topik tertentu; Selection and sifting – semacam kegiatan ‘tebang pilih’ untuk menentukan sumber mana yang patut dicermati dan diikuti; dan Assembly and dissemination – kegiatan menghimpun materi tertulis untuk publikasi dan diseminasi. 

Ini agak berbeda dengan kalangan peneliti ilmu kimia yang punya dua kebiasaan khusus, yaitu Verifying  (kebiasaan mengulang cek ketepatan sebuah informasi), dan Ending (secara khusus menetapkan akhir kegiatan pencarian informasi).  Sementara kalangan insinyur dan peneliti ilmu pasti-alam merasa perlu melakukan dua hal khusus, yaitu Distinguishing (kebiasaan membuat urut-urutan sumber informasi berdasarkan nilai-pentingnya, dan Filtering (melanjutkan kegiatan distinguishing untuk menyaring informasi yang relevan, menggunakan kriteria dan mekanisme yang digunakan ketika melakukan kegiatan distinguishing). 

Yang agak ‘ceriwis’ mungkin adalah kalangan ilmuwan dan peneliti fisika, karena mereka punya kebiasaan khusus yang paling banyak dibandingkan kalangan lain, yaitu:

  1. Initial familirization – upaya pengenalan awal dan familiarisasi dengan sumber-sumber informasi yang ada, dilakukan di awal kegiatan pencarian informasi. 
  2. Chasing – atau ‘mengejar’ sitasi dari satu dokumen ke dokumen lain dengan seksama. 
  3. Source prioritization – mirip dengan kebiassaan distinguishing dan filtering yang para insinyur, yaitu dengan menetapkan prioritas sumber yang dianggap paling penting. 
  4. Maintaining awareness – semacam kegiatan memantau perkembangan dengan tujuan membuat diri selalu up-to-date
  5. Locating – secara khusus menyediakan waktu khusus untuk menemukan sendiri sumber yang diperlukan. 

Temuan-temuan Ellis menjadi salah satu picu bagi berbagai penelitian selanjutnya tentang perilaku informasi ilmuwan. Rincian aktivitas yang berbeda-beda di kalangan ilmuwan berbagai cabang di atas juga telah melahirkan penelitian tentang perilaku komunitas peneliti, dan akhirnya juga membantu strategi pengembangan jasa perpustakaan dan informasi yang lebih terarah. Misalnya, hasil penelitian Ellis ini dapat dijadikan acuan untuk membentuk cluster (pengelompokan) jasa rujukan atau jasa current awareness di sebuah universitas yang punya berbagai fakultas dan jurusan.

Hal lain yang tak kalah pentingnya dari penelitian dan teori Ellis ini adalah metode penelitian yang digunakannya. Berbeda dengan rekan-rekan peneliti di jamannya, Ellis memberanikan diri ‘menyimpang’ dari tradisi survei dan eksperimen. Ia menggunakan metode yang dikenal dengan nama Grounded Theory atau biasa disingkat GT  Metode ini memang merupakan metode penelitian yang paling banyak dirujuk dan dianggap sebagai wakil dari metode kualitatif. Metode ini dikembangkan di pertengahan 1960-an oleh dua sosiolog dari University of California, yaitu Barney Glaser dan Anselm Strauss. 

Salah satu ciri penting dari metode GT adalah penggunaan cara yang seksama untuk secara perlahan dan hati-hati ‘menyaring’ data dari lapangan, memilah-milah dan mengaitkannya menjadi konsep yang semakin lama semakin abstrak. Istilah grounded dalam metode GT merujuk ke tekad peneliti untuk ‘apa adanya’ dan selalu menggunakan data lapangan yang benar-benar ditemukan langsung. Dalam kasus Ellis, misalnya, semua data diperoleh langsung dari peneliti dan langsung dari keterlibatan Ellis dalam pergaulan kelompok peneliti yang sedang ditelitinya.

Dalam bentuk diagram, proses metode GT ini dapat digambarkan sebagai berikut:


 Metode GT dalam diagram di atas jelas sekali mengandalkan kegiatan lapangan, atau boleh lah kita katakan bahwa penelitian GT ini cenderung lebih ‘membumi’. Teori David Ellis tentang perilaku ilmuwan dalam mencari informasi bolehlah kita katakan teori yang membumi.

Jika Anda tertarik pada teori Ellis, silakan baca yang berikut ini:

  • Ellis, D. (1984) “Theory and explanation in information retrieval research”, dalam Journal of Information Science, vol. 8, h. 25 – 38.
  • Ellis, D. (1987), The Derivation of a Behavioral Model for Information System Design, disertasi doktoral, tidak diterbitkan, University of Sheffield, Inggris.
  • Ellis, D. (1989a), “Behavioral approach to information retrieval system design”, dalam Journal of Documentation, vol 45 no. 3, halaman 171-212.
  • Ellis, D. (1989b) “A Behavioral model for information retrieval system design” Special Issue. Journal of Information Science, vol. 15, no. 4/5 hal. 237-247.
  • Ellis, D., D. Cox dan K. Hall (1992), “A Comparison of the information seeking patterns of researchers in the physical and social sciences” dalam Journal of Documentation, vol. 49 no. 4, hal. 356 – 369.

 Beberapa penjelasan tentang metode GT dapat dilihat di sini:

 

Posted in Kajian Pemakai, Teori | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »