Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Prakata

Ilmu Perpustakaan dan Informasi adalah singkatan langsung Library and Information Sciences. Blog ini melanjutkan upaya sebelumnya di http://360.yahoo.com/putu_pendit yang memberi pengalaman dan masukan berharga bagi penulis tentang apa saja yang perlu dibahas. Sebagian isi blog ini ada di blog sebelumnya.

Beberapa pertanyaan sering muncul dan mendorong saya menulis blog ini.

Pertanyaan pertama: Mengapa kita meneliti?

Untuk sebagian orang, meneliti mungkin adalah kegiatan formal dalam rangka tugas di kantor atau di kampus. Dorongan dan imbalan untuk kegiatan seperti ini seringkali terumuskan dalam hitungan dan hasil-hasil yang kongkrit, bahkan dapat diterjemahkan menjadi nilai akademik atau hitungan finansial. Hasil dan kepuasan yang didapat dari kegiatan ini pun biasanya terbatas pada lingkup kantor atau kampus.

Ada pula orang yang meneliti karena rasa ingin tahu yang besar tentang sesuatu hal, dan dorongan seperti ini seringkali datang dari diri sendiri. Bukan dari atasan di kantor, atau dosen di kampus. Pertanyaan, kasus, topik, dan masalah yang muncul bersumber dari rasa ingin tahu pribadi. Hasil dan kepuasan yang didapat dari kegiatan penelitian seperti ini cenderung pula pada awalnya adalah kepuasan pribadi.

Tentu akan sangat nyaman, jika dua dorongan untuk meneliti itu -dari luar diri maupun dari dalam diri- berselaras. Nyaman rasanya, jika apa yang kita ingin teliti adalah apa yang orang lain ingin ketahui pula. Hasil dan kepuasan yang didapat dari kegiatan penelitian ini pun kemudian kita bagi-bersama dengan orang lain.

Penelitian ilmiah, menurut pendapat saya, merupakan penelitian untuk berbagi-bersama. Pada saat yang sama, penelitian ilmiah juga seharusnya memuaskan keinginan-keinginan pribadi peneliti. Kalau peneliti kehilangan minat pribadinya, maka tentulah tidak nyaman baginya. Dia menjadi terpaksa melakukan penelitian.

Komunitas peneliti, dalam konteks ini, menjadi penting jika seorang peneliti dapat dengan nyaman menekuni minatnya tetapi sekaligus mendapatkan kesempatan (juga kewajiban) berbagi-bersama dengan anggota komunitas yang lain. Komunitas seperti ini menyediakan ajang dan ruang-lapang untuk pertemuan-pertemuan yang cerdas serta cergas antar para peneliti, tanpa bermaksud memaksa seorang pun dari peneliti itu patuh kepada yang lainnya.

Komunikasi dan antar-interpretasi di dalam komunitas seperti ini menjadi penting. Pikiran dan tindakan setiap peneliti memang adalah penting. Namun yang lebih penting lagi adalah kemauan dan kesedian setiap peneliti untuk saling-interpretasi, dan tidak hanya berkonsentrasi pada pikiran atau tindakannya sendiri saja.

Pertanyan kedua: Mengapa meneliti tentang perpustakaan?

Kadang ada saja orang usil bertanya, “Pak Putu, apa sih menariknya kepustakawanan sehingga perlu diteliti?”

Pertanyaan mengusik itu jadi terasa sangat mengganggu ketika yang bertanya adalah seorang peneliti komunikasi atau peneliti informatika. Kedua bidang ini sedikit-banyaknya sering merasa bahwa kepustakawanan tak lain adalah bagian kecil (terkecil, bahkan!) dari kedua ilmu “besar” itu.

Sebagai orang yang mendapat kesarjanaan dari ilmu komunikasi, dan jelek-jelek begini juga adalah peneliti informatika, pertanyaan di atas kadang bikin jengkel juga!

Tetapi jengkel memang harus dialihkan ke semangat menjawab pertanyaan. Orang yang mengusik harus dijawab dengan usikan pula. Maka biasanya saya menegaskan perbedaan antara komunikasi, informatika, dan kepustakawanan. Pada intinya, saya bilang seperti ini:

Kepustakawanan adalah wujud sebenarnya dari kemauan manusia untuk berbagi pengetahuan. Jika ilmu komunikasi sementara ini lebih memfokuskan diri pada pesan-pesan yang dipertukarkan, dan sedikit sekali memerhatikan pesan yang tersimpan, maka sebaliknya kepustakawanan peduli pada pesan tersimpan itu. Jika ilmu informatika sementara ini lebih mengutamakan kecepatan dan besaran pesan yang dapat dikirim dan disimpan, dan sedikit sekali memerhatikan bagaimana arus-deras dan luapan pesan itu tidak membludak menenggelamkan kemanusiaan, maka sebaliknya kepustakawanan peduli pada kejernihan dan keleluasan memilih dan memakai pesan tersimpan.

Pada kejernihan dan keleluasaan memilih terletak prinsip dasar kemerdekaan manusia. Bagi saya pribadi, kepustakawanan seharusnya adalah kemerdekaan memilih. Jika komunikasi massa mengurus cara terbaik memborbardir (dan mencekam) khalayak lewat pesan-pesan efektif, dan jika informatika lebih rajin memperluas jaringan Internet agar menyeruak ke sendi-sendi kehidupan tanpa tertahankan, maka kepustakawanan memberikan penguatan kepada masing-masing kita untuk memilih.

Kepustakawanan peduli kepada kemampuan memilah dan memilih. Peduli pada kekuasaan seseorang -walaupun ia tak punya kuasa-media atau kuasa-informatika- untuk menerima atau menolak pesan yang ingin diterimanya, disimpannya, dan digunakannya kembali.

Nah, mengapa saya tertarik meneliti kepustakawanan?

Karena memang penelitian tentang kepustakawanan dapat menjawab pertanyaan besar tentang diri kita: seberapa merdeka kah kita bisa memilih pengetahuan untuk disimpan dan digunakan kembali manakala diperlukan?

Ilmu komunikasi dan informatika -setidaknya saat ini- belum terlalu peduli tentang hal itu.

23 Tanggapan to “Prakata”

  1. Gerry Achmad said

    Wooow… salut bwat Pak Putu. dari sekian banyak nya pendapat2 yang mengisyaratkan stigma inferior terhadap dunia kepustakawanan, blog ini bisa menghadirkan paparan mengenai apa itu library science, librarian dan librarianship secara objektif dan (jujur)mengagumkan.

    Banyak orang2 awam yang mengira bahwa ilmu perpustakaan dan informasi itu hanya terbatas pada sebuah ruangan kecil yang berisi tumpukan buku dengan seorang staff berkacamata yang duduk di sudut ruangan. Menurut saya, apabila kita mengasumsikan ilmu perpusatakaan dengan analogi diatas sama halnya dengan membandingkan ilmu manajemen Masjid dengan ilmu Islam. Dalam ilmu islam dipelajari juga mengenai tata cara mengelola sebuah masjid, namun tentunya ilmu islam terlalu luas apabila hanya dikotakan kedalam ilmu pengelolaan masjid. dalam ilmu perpusatakaan & informasi dipelajari juga bagaimana caranya mengelola sebuah perpustakaan atau taman bacaan, namun Ilmu perputakaan & informasi jauh lebih luas dari pada itu.

    Ada sebuah pendapat menarik mengenai pengertian ilmu perpustakaan apabila ditinjau dari sudut pandang komunikasi. Ilmu perpustakaan & informasi mempelajari: how to collect; how to manage; how to package; how to retrieve and how to COMMUNICATE information. (mudah2an saya benar… Amin)

    Go libarian!!

  2. bonekarusia said

    Saya lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi tidak bisa menjawab dengan baik pertanyaan2 orang ttg kepustakawanan, sampai saya baca blog ini… hehe…

    Terima kasih banyak sudah berbagi Pak Putu…

  3. Permisi, salam kenal pak, mo numpang nama

  4. nina said

    Saya setuju apa yg disampaikan pak putu, bahwa “Ada pula orang yang meneliti karena rasa ingin tahu yang besar tentang sesuatu hal, dan dorongan seperti ini seringkali datang dari diri sendiri” pengetahuan saya yg masih sangat terbatas, tapi saya punya keingintahuan mengenai, seberapa banyak pemustaka perpustakaan ditempat saya memanfaatkan jurnal online, dan sejauh mana mereka tahu bahwa kita punya jurnal ol tsb.Terus..apakah mereka telah mampu/terampil mengaksesnya?
    Nah.. penelitian mulai dr mana dan apa yg harus disiapkan pak?
    Matur Nuwun.

  5. putubuku said

    @Nina… sebenarnya kamu sudah temukan jawabannya di halaman “Jejak Langkah”, kan?🙂 Apa pun yang ingin diteliti, sebaiknya mulailah dengan pemahaman tentang objek ilmu perpustakaan dan informasi, lalu selalu lah melakukan “pengamatan pendahuluan” yang seksama. Good luck with your research!

  6. Subekti said

    Pak Putu,

    bagaimana saya bisa menguhubungi bapak secara pribadi. kalau tidak keberatan, saya minta email bapak. email saya: swpriyadharma@yahoo.com
    terima kasih

    salam
    subekti

  7. nufan said

    Saya inget betul dengan jargon-jargon dari salah satu “ilmu besar” yang usil itu, mereka mengatakan bahwa ilmu informasi dan perpustakaan wrong/no way communication,….tulisan Pak Putu, menjawab pertanyaan besar(kebingungan) saya tentang identitas Ilmu Informasi dan Perpustakaan, sekitar 7 tahun yang lalu, di tengah mata kuliah pengantar ilmu perpustakaan, pengantar ilmu komunikasi dan pengantar ilmu pengetahuan dan teknologi.
    Kenyataan yang menarik, ketika divisi IT di tempat saya bekerja, mengklaim bahwa mereka membuat aplikasi (sistem informasi persuratan dan kearsipan) yang canggih dengan menggunakan finger print untuk pengamanan aksesnya. pada saat sosialisasi kepada user, 95% user merasa ribet dengan aplikasi yang baru tsb, finger print bagi user justru menjadi hambatan. kemudian field metadata yang ada dalam aplikasi tersebut tidak sesuai dengan penataan arsip secara fisik. akhirnya aplikasi tsb dibongkar dan orang it yang ‘besar’ itu mengajak saya yang kecil ini untuk bersama-sama mengembangkan aplikasi tsb.
    Kemudian divisi humas yang bertugas melakukan peliputan dan perekaman kegiatan organisasi, sering diomelin pimpinan karena kelamaan menyajikan dokumentasi seputar kegiatan tahun-tahun sebelumnya. Akhirnya tahun 2005 dan 2007 divisi humas tersebut merekrut sarjana ilmu informasi dan perpustakaan.
    Jadi kalau boleh sombong, memang benar kalau Ilmu Informasi dan Perpustakaan peduli terhadap hal yang belum diperdulikan oleh kedua Ilmu ‘besar’ tersebut. Semoga mereka mengerti…
    Salam dan Terima kasih, Pak Putu.

  8. pras said

    cuma mo ngucapin “Selamat dan Terimakasih” kepada pak Putu yang telah berhasil “menggulirkan roda” informasi dan pengetahuan secara terus menerus tanpa lelah dan tetap istiqomah sehingga kita ikut terseret sedikit demi sedikit beranjak dari pondasi ketidaktahuan dan kebuntuan wawasan pribadi.

    salam

  9. Rifqi said

    Benar-benar membuka mata. Saya teringat dengan kuliah umum Pa’Putu waktu di Auditorium Perpusnas RI Salemba tentang pendekatan metodologi penelitian, apakah kual atau kuant.
    Atas pengetahuan saya yang masih teramat sempit-lah yang membuat saya secara malu-malu bertanya: apakah pendekatan yang paling tepat untuk meneliti fenomena-fenomena informasi & perpustakaan di daerah yang relatif jauh dari perkotaan, mengingat keterbatasan fasilitas serta akses informasi.

    Thanks n congratulation

  10. Saya mohon tanggapannya Pak Putu:

    “Piere Butler menolak pustakawan sebagai profesi dan dia meragukan bahwa ilmu perpustakaan sebagai cabang ilmu pengetahuan karena miskin teori.

    Pendapat itu didukung oleh William Goode yang mengatakan, kepustakawanan lemah terhadap kliennya. Hal itu berbeda dengan profesi dokter, apoteker, hakim, dan lainnya yang mampu memengaruhi kliennya.” (http://www.suaramerdeka.com/harian/0709/08/ked02.htm)

  11. putubuku said

    @Saca Firmansyah,

    Berita di koran biasanya ditulis wartawan berdasarkan objek berita. Dalam hal ini objek beritanya adalah pidato pengukuhan Drs. Lasa Hs MSi. Saya belum membaca pidato pengukuhan tersebut, jadi tak bisa mengomentari apakah memang demikian maksudnya.

    Tetapi, kata-kata yang ditulis wartawan mirip dengan teks di halaman 385 dari Encyclopaedia of Library History, di dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Peter J. Gilbert. Di akhir tulisan, disebutkan bahwa pada tahun 1951 Pierce Butler menyimpulkan kepustakawanan tidak akan jadi profesional karena kekurangan dukungan ilmu berdasarkan riset. Atau persisnya seperti ini

    “..due primarily to an insufficiently strong theoritical knowledge base. A decade later William Goode came to much the same conclusion for much the same reason. The debate continues as to whether librarianship is destined to remain an occupation until it develops a scholarly basis for its centuries-old practical knowledge”

    Kenapa Butler mengatakan demikian?

    Sepengetahuan saya, Butler justru menulis sebuah buku tentang ilmu perpustakaan (Butler, P. (1933). An introduction to library science . Chicago, IL, University of Chicago Press.) dan dia antara lain mengatakan bahwa kepustakawanan adalah “transmission of the accumulated experience of society through the instrumentality of the book.” (Butler 1933)

    Di bukunya pula ia menganjurkan sebuah pendidikan ilmu perpustakaan yang mengajarkan dan meneliti tentang kebutuhan informasi pengguna perpustakaan, penelitian sosiologi, psikologi, dan sejarah tentang pembaca dan kegiatan membaca.

    Sebelum menulis buku itu, Butler dan kawan-kawannya juga mendirikan sekolah perpustakaan pertama di Amerika Serikat pada tahun 1927 dan menegaskan bahwa sebuah pendidikan tinggi akan benar-benar menjadikan para pustakawan pekerja profesional. Dalam kata-kata Butler, profesi pustakawan ini bukanlah semata-mata pelaksanaan kegiatan teknis sehari-hari di perpustakaan, melainkan sebuah “administration of the public trust”. Dengan kata lain, Butler justru menegaskan bahwa profesionalisme pustakawan adalah sebuah bentuk legitimasi dari kepercayaan yang diserahkan masyarakat kepada kelompok ini untuk mengelola bahan bacaan mereka.

    Tetapi kemudian Butler dan kawan-kawan tersingkir dari sekolah yang mereka dirikan karena ada desakan dari pihak pustakawan praktisi yang kurang menghendaki pendidikan ilmiah bagi mahasiswa. Para praktisi ingin agar sekolah perpustakaan tak usah mengajarkan “ilmu”, melainkan mengajarkan “praktik” saja. Dalam konteks inilah kemudian Butler “menyerang” para praktisi dan mengatakan bahwa jika pendidikan tidak dilengkapi dengan penelitian akademik dan teoritis, maka lulusannya tidak akan menjadi profesional.

    Sepuluh tahun kemudian perdebatan tentang “teori” versus “praktik” ini marak lagi ketika William Goode menganalisis profesi pustakawan dan membuat kesimpulan serupa dengan Butler.

    Jadi, baik Butler maupun Goode sebenarnya tidak mengatakan bahwa pustakawan adalah kaum non-profesional, melainkan bahwa pustakawan tidak akan pernah menjadi profesional jika tidak didukung oleh ilmu yang berbasis penelitian dan teori. Kedua orang ini sedang berdebat dengan kaum praktisi yang terus menerus menampik pendidikan keilmuan dan mengutamakan pendidikan keterampilan.

    Saya menduga wartawan Suara Merdeka hanya mengutip sebagian dari pidato pengukuhan Drs. Lasa, dan tidak mengaitkannya dengan keseluruhan perdebatan tentang profesionalisme pustakawan.

    Cheers,

    Putu Pendit

  12. Salam,

    Terima kasih untuk tanggapannya Pak Putu.

    Faktanya memang wartawan tersebut hanya mengutip sebagian. Tetapi saya melihat ada keterkaitannya dengan perdebatan tentang profesionalisme pustakawan. Walaupun tidak secara keseluruhan.

    Selanjutnya, soal perdebatan tentang “teori” versus “praktik”, bukankah keduanya seharusnya berjalan seiring. Teori yang ada harus dipraktikkan. Teori yang dipraktikkan tersebut tentunya akan memunculkan kembali teori -teori baru yang berkembang secara dialektis. Maksud saya, adakah perdebatan selanjutnya yang ‘mendamaikan’ keduanya ?

    Bagaimana pula pandangan Pak Putu terhadap pendidikan perpustakaan di Indonesia? Jujur, saya kurang referensi soal ini.

    Terima kasih,

    Saca Firmansyah

  13. Awie al-adani said

    Salam kenal pak putu! Saya ingin menanyakan, bagaimana kita jelaskn kpda kawan-kawan bahkan masyarakat bahwa perpustakaan itu bukanlah jurusan yang kecil dan kolot, gemana caranya agar mereka bisa menerima penjelasan kita? Apa yang kita lakukan untuk memajukan ilmu/perpustakaan?

    Thanks,
    by asnawi

  14. […] Nopember 26, 2008 pada 9:20 am […]

  15. sasangpriyosanyoto said

    mantaf om.. Ilmu Perpustakaan tidak bisa di pandang sebelah mata..!

  16. […] Nopember 26, 2008 pada 9:20 am […]

  17. Adi Hasriadi said

    sedih juga kalo profesiku ini masih diperdebatkan keabsahan profesionalitasnya… padahal saya sudha bangga menjadi pustakawan…

  18. ardelia said

    Salam
    Pak , Putu saya Mahasiswa komunikasi yang sedang menyusun skripsi tentang blog sebagai sumber informasi. Melihat tulisan Pak Putu, saya mau mengajukan apakah Bapak bersedia menjadi Narasumber untuk diwaancara? terima kasih

    Wasalam..

  19. parta said

    Lumayan untuk mengingatkan kembal ilmu perpustakaan yang saya peroleh dalam pendidikan, sekarang kita akui jamannya digitalisasi, namun tetap saja yang paling penting isi (content) dari informasi / subyek pengetahuan itu dapat sampai kepada pemustaka sesuai dengan permintaan. saya hanya mengingatkan bahwa pustakawan disamping memiliki ilmu perpustakaan sebaiknya harus juga memiliki ilmu pengetahuan lainnya (subject specialist)dan inilah yang harus dikembangkan oleh para pustakawan.

    Pak Putu L.P. yth., saya mohon penjelasan apa sih bedanya jurnalis dengan pustakawan ???? jangan jangan jurnalis itu porsinya pustakawan.

    thanks pak putu laxman p.

  20. ima said

    pak putu sya ima,,,, penjaga perpustakaan yg sya tnyakn bagaimana untuk menarik minat baca anak????

  21. In'am said

    salam kenal Pak Putu
    senang sekali bisa berkunjung di blog ini, tulisan Bapak banyak mencerahkan saya
    thanks for All Pak

  22. Putu Astina,S.Sos said

    Dear Pak Putu,

    salam kenal Saya Putu Astina saya mau kuliah ilmu perpustakaan,bisa bantu informasinya pak dimana ada pendidikan perpustakaan?
    Atas Informasinya saya ucapkan terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: