Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Posts Tagged ‘Filsafat informasi’

Terinformasi dan/atau Berpengetahuan

Posted by putubuku pada April 30, 2008

Mudah bagi kita semua membayangkan sebuah continuum alias rentang dari data –> informasi –> pengetahuan –> kebajikan. Nyaris otomatis pula kita membuat hirarki bahwa data adalah bahan mentah dari informasi, lalu informasi menjadi pengetahuan, dan orang yang berpengetahuan menjadi bijak-bestari. Namun sebenarnya agak sulit memisahkan informasi dari pengetahuan, apalagi menjelaskan secara enak bagaimana sesungguhnya informasi berubah menjadi pengetahuan.

Coba kita mulai dengan membahas dahulu apa yang kita maksud dengan ‘tahu’ (know) di dalam kata pengetahuan (knowledge). Harap maklum adanya, pertanyaan tentang hal ini adalah pertanyaan yang sudah berusia tua sekali dan dapat dilacak ke masa-masa awal peradaban, sebelum resmi jadi pembicaraan filsuf di jamannya Plato dan Aristoteles. Jauh lebih tua dari pertanyaan tentang ‘informasi’ yang setidaknya baru resmi jadi ocehan ilmuwan di tahun 1940an.

Sebenarnya dari fakta itu saja, kita sudah musti memeriksa kembali continuum data-informasi-pengetahuan. Jangan-jangan seharusnya continuum itu terbalik, yaitu pengetahuan-informasi-data… he he he.

Secara umum kita sebenarnya punya tiga pengertian tentang ‘tahu’ (knows), yaitu:

  1. Pengetahuan yang mengandung proposisi (Propositional knowledge) atau pengetahuan tentang fakta/kenyataan tertentu atau disebut juga true proposition. Misalnya kalau kita mengatakan bahwa ‘Kita tahu bahwa langit adalah biru’ maka apa yang kita ketahui tersebut adalah pengetahuan yang mengandung proposisi (bahwa langit adalah biru). Harus dibedakan antara kalimat yang menyatakan sebuah proposisi dan proposisinya itu sendiri. Misalnya, kalimat ‘Langit adalah biru’ berbeda dari ‘the sky is blue’ dan dari ‘le ciel est bleu’ atau ‘langite pelung’. Keempat kalimat itu berbeda, tetapi proposisinya sama. Selain itu, keempatnya juga mengandung keyakinan atau kepercayaan (belief) bahwa langit memang biru (setidaknya ketika langit itu berwarna biru, sebab kadang kala langit berwarna merah, atau oranye, atau hitam, atau ungu, atau…. hmmm.. hijau? Kuning kebiru-biruan?).
  2. Pengetahuan karena mengenal (acquintance knowledge) atau pengetahuan karena pernah bertemu dengan atau berada di sebuah keadaan atau mengalami keadaan tertentu. Jelas pula bahwa pengetahuan karena mengenal dapat mengandung proposisi atau sebaliknya. Kalau kita mengatakan bahwa ‘Kita tahu bahwa mangga Lalijowo rasanya manis’, maka ini mungkin adalah petunjuk bahwa kita pernah makan mangga itu dan adalah benar bahwa mangga itu manis (setidaknya ketika mangga itu sedang terasa manis, sebab kadang kala mangga itu kecut, asem, sepet, pahit,  atau… hmmm.. agak asin?). Pengetahuan karena mengenal sesuatu ini harus dibedakan dengan pengetahuan yang mengandung proposisi, karena kalau kita mengatakan bahwa ‘Kita tahu Paris adalah kota yang indah’ maka ada kemungkinan kita belum pernah (belum mengenal atau berada) di Paris.
  3. Pengetahuan untuk melakukan sesuatu (how-to knowledge) atau pengetahuan yang berhubungan dengan tindakan melakukan atau mengerjakan sesuatu. Dalam bahasa Indonesia, kata ‘tahu’ yang berkaitan dengan how-to knowledge ini bersinonim dengan ‘dapat’ atau ‘mampu’ (kata-kata formal) atau ‘bisa’ (kata sehari-hari). Kalau seseorang mengatakan, ‘Saya bisa main gitar’ itu artinya ‘Saya tahu bagaimana caranya bermain gitar’. Walau begitu, pengertian ‘tahu bagaimana caranya bermain gitar’ ini tidak selalu berarti benar-benar akan berwujud kegiatan bermain gitar. Ada banyak pengetahuan tentang bagaimana cara melakukan sesuatu tidak benar-benar terwujud sebagai kegiatan melakukan sesuatu. Misalnya, seseorang mengatakan ‘Saya tahu bagaimana caranya menggulingkan pemerintah’ tetapi ia tidak pernah melakukannya, walau ia benar-benar tahu caranya. Ada banyak pengetahuan ‘how to’  yang dimiliki seseorang tetapi tetap tinggal sebagai pengetahuan. Jika itu keadaannya, maka kita dapat pula mengatakan bahwa seseorang memiliki pengetahuan proposisional tentang pengetahuan untuk melakukan sesuatu.

Di antara ketiga jenis pengetahuan di atas, maka jenis pertama adalah yang paling sering dibahas secara  filosofis, terutama karena dikaitkan dengan persoalan tentang percaya (belief) dan kebenaran (truth). Dalam tradisi filsafat, persoalan pengetahuan manusia ini seringkali dibahas sebagai persoalan S dan P, yaitu Subjek dan Proposisi dengan pertanyaan pokok, ‘Apa artinya jika  S tahu bahwa P’ (dapat diganti menjadi  apa artinya jika’ Susan tahu bahwa Paris itu indah’ atau ‘Syamsul tahu bahwa Pisau itu tajam’). 

Salah satu definisi pengetahuan yang sudah ada sejak jaman dulu menyatakan S tahu bahwa P jika S punya justified true belief bahwa  P. Pengertian justified true belief ini dapat diterjemahkan secara bebas sebagai keyakinan yang dapat dibenarkan. Kita dapat menguji definisi ini secara bertahap dan tetap mengaitkan antara proposisi dan sikap percaya atau yakin. Kita dapat mulai dengan persamaan sederhana.

  • S tahu bahwa P = S percaya bahwa P. Misalnya: Syamsul tahu bahwa Pisau itu tajam, sama dengan Syamsul percaya bahwa Pisau itu tajam. Dengan kata lain, kita percaya maka kita tahu dan tidak ada proposisi yang salah. Tetapi bagaimana kalau seorang anak percaya bahwa 2 + 3 = 6?  Menurut rumus di atas, anak itu memiliki pengetahuan proposisional yang benar. Padahal itu salah, sebab 2+2 = 4 (hmmm.. benarkah?).

Maka persamaannya perlu diubah menjadi:

  • S tahu bahwa P = S percaya bahwa P dan P adalah benar. Jadi, Susan tahu bahwa Paris itu indah sama artinya dengan Susan percaya bahwa Paris itu indah dan benar bahwa Paris itu indah. Definisi ini lumayan lebih bisa diandalkan daripada yang pertama. Namun kita masih dapat meragukannya, sebab ada banyak hal yang benar-benar kita percayai tetapi belum tentu kita ketahui apakah yang kita percayai itu benar! (wah… ini makin njlimet!).

Misalnya, Susan membaca horoskop di majalah dan di situ tertulis bahwa hari ini adalah hari keberuntungannya. Tak berapa lama kemudian, Susan menemukan uang Rp. 300.000 di kantongnya. Apakah itu artinya Susan tahu bahwa dia beruntung dan percaya bahwa ia beruntung dan pengetahuannya itu memang benar.  Apakah ‘percaya akan mendapat uang’ sama dengan ‘tahu bahwa akan mendapat uang’? Bagaimana kalau Susan tidak percaya dan tetap dapat uang, apakah itu artinya dia tahu tapi tidak percaya? Bagaimana kalau Susan percaya, tetapi tidak dapat uang? Definisi nomor dua di atas ternyata belum cukup kokoh, maka dibuat rumus berikutnya:

  • S tahu bahwa P = S percaya bahwa P dan P adalah benar dan P secara epistemologis dapat dibenarkan bagi S. Dengan definisi ini maka Susan tahu bahwa Paris itu indah = Susan percaya bahwa Paris itu indah dan Paris itu indah adalah benar, dan Paris itu indah secara epistemik dapat dibenarkan oleh Susan.

Nah lo… sekarang kita punya rumus-rumus untuk benar-benar mengetahui apa yang kita ketahui sebagai hal yang kita percaya bahwa kita ketahui dan terpercaya!! Kalau kalimat ini terdengar rumit, silakan salahkan para filsuf itu. Tetapi kita belum benar-benar mengalami kerumitan yang sesungguhnya, karena pertanyaan kita sekarang adalah:

Kalau seseorang memiliki pengetahuan bahwa ‘Paris itu indah’, lalu apa yang kita maksudkan dengan informasi bahwa ‘Paris itu indah’? Apakah pengetahuan bahwa ‘Paris itu indah’ = informasi bahwa ‘Paris itu indah’? Ataukah ada hal-hal lain yang terkandung dalam informasi yang kemudian menjadi pengetahuan bahwa ‘Paris itu indah’?

Wah… bagaimana ini? Tambah runyam lagi kalau kita bertanya lebih lanjut, di mana ‘data’ yang kemudian menjadi informasi dan lalu menjadi pengetahuan bahwa ‘Paris itu indah’?

Daripada makin pusing, mendingan kita hentikan saja tulisan ini 🙂

 

Iklan

Posted in Kognisi | Dengan kaitkata: , | 1 Comment »

Informasi: Transmisi? Isi? Makna?

Posted by putubuku pada April 23, 2008

Peristiwa Satu: di suatu malam menjelang pagi, di kejauhan terdengar alarm mobil berbunyi melengking dan menjerit. Tak berapa lama, bel pintu depan di sebuah rumah juga berbunyi. Para penghuni rumah sedang menonton film di televisi, asyik memperhatikan adegan polisi mengejar bandit di sebuah jalan bebas hambatan. Salah satu penghuni bangkit, menuju pintu. Ia berpikir, “Tamu kok malam-malam, jangan-jangan ada maling mobil”.

Peristiwa Dua: kakak beradik Wulan dan Tari (dari ‘bulan’ dan ‘matahari’ 🙂 ) sedang bersiap-siap berangkat sekolah. Sambil menunggu jemputan yang akan membawa mereka dari Depok ke Lenteng Agung, keduanya asyik menonton kartun di televisi. Ibu mereka masih sibuk menyiapkan bekal, dan tinggal memasukkan satu kotak makanan berisi potongan buah segar dan biskuit. Tiba-tiba si Ibu teringat sesuatu, dan dari dapur ia berteriak ke anak-anak, “Ambil jas hujan kalian, Nak.. Koran Kompas Online bilang hari ini akan hujan lebat..”

Okay. Dua peristiwa di atas cuma rekayasa, tetapi penting untuk pembahasan kita.  Di kedua peristiwa ada banyak ‘kejadian informasi’ (information events) dan istilah ini kita pakai sebab kita ingin membahas tiga hal: transmisi, isi, dan makna. Coba kita perhatikan baik-baik. Ada kejadian berupa transmisi (perpindahan dari satu lokasi ke lokasi lainnya). Misalnya, perpindahan orang dari tempat duduk di depan televisi ke pintu (Peristiwa Satu), dan perpindahan dari rumah ke sekolah, walau baru dalam bentuk ‘rencana’, dan dari dapur ke tas, yaitu ketika Ibu memindahkan boks makanan (Peristiwa Dua). Tetapi kejadian-kejadian itu bukan kejadian informasi. Transmisi yang berkaitan dengan informasi adalah:

  1. Di Peristiwa Satu: Dari alarm mobil ke gendang telinga penghuni rumah, dari bel pintu ke gendang telinga penghuni rumah, dari stasiun televisi ke mata-telinga penghuni rumah (via antene dan pesawat televisi).
  2. Di Peristiwa Dua: Dari stasiun televisi ke Wulan dan Tari, dari Kompas Online ke Wulan dan Tari (via stasiun cuaca ke Kompas lalu ke Internet dan Ibu mereka).

Di setiap transmisi ada ‘isi’. Ini agak lebih sulit dilacak daripada transmisinya sendiri. Lebih mudah melacak isi tranmisi kotak makanan dari dapur ke tas sekolah anak-anak. Apa isi transmisi dari alarm mobil dan bel pintu ke gendang telinga penghuni rumah? Apa isi transmisi film laga dari stasiun televisi ke mata-telinga penghuni rumah? Apa isi transmisi film kartun? Apa isi transmisi Kompas Online dan ucapan Ibu tentang cuaca? 

Pihak yang paling cepat menjawab pertanyaan tentang isi informasi di atas biasanya adalah pihak tekniksi. Dengan mudah mereka dapat mengatakan bahwa transmisi informasi dari alarm mobil adalah getaran suara berukuran x desibel, berjumlah y bits, dengan kecepatan z frekuensi. Cara menguraikan isi seperti ini juga dapat mereka lakukan terhadap transmisi informasi bel pintu, stasiun televisi, koran online, maupun suara manusia. Itulah isi fisik dari informasi yang dapat diukur dan disalurkan melalui mekanisme tertentu. Di dalam saluran juga selalu ada media (alarm, bel, televisi, Internet, mulut manusia)

Kaum pustakawan dan pekerja informasi juga senang memisahkan ‘isi’ dari ‘format’. Misalnya, sebuah buku mereka pisahkan, antara isinya dan formatnya. Walaupun agak jarang bicara tentang transmisi, tetapi dalam konsep tentang format sebuah buku juga terkandung hal-hal yang berkaitan dengan tranmisi, setidaknya transmisi dari pengarang ke penerbit, dan dari penerbit ke perpustakaan (via pedagang buku dan pustakawan bagian pengadaan, atau kerjasama antara keduanya 🙂 ).

Sampai di sini, kita seolah-olah melihat bahwa transmisi informasi dan isi informasi adalah hal-hal yang menyangkut mekanisme-prosedural, alias teknis dan teknologis. Jika kita bicara tentang ‘kemajuan teknologi’, biasanya kita bicara tentang volume dan kecepatan, atau tentang jangkauan transmisi dan besaran isi. Hampir selalu, pembicaraan tentang aspek-aspek ini menyangkut kuantifikasi atau hal kasat mata (tangible).

Walau sebenarnya ada persoalan berikutnya yang masih mengusik. Kalau memang benar isi informasi adalah desibel, bits, dan frekuensi, bagaimana dengan cerita di film laga dan kartun dalam contoh di atas? Bagaimana dengan ‘ramalan cuaca’? Bukankah cerita dan ramalan itu juga adalah isi informasi? Orang-orang bahasa akan segera ngotot bahwa isi alarm dan bel pintu memang sederhana, tetapi tetap mengandung ‘isi’ yang lebih dari sekadar getaran. Sebagaimana halnya film laga dan ramalan cuaca, isi informasi alarm dan bel pintu adalah tanda dan simbol yang tergolong ke dalam bahasa sebagai pengertian yang sangat umum. Sama dengan gerakan menggeleng dan mengerdipkan sebelah mata, bukan sekadar gerakan otot leher dan  otot muka tetapi juga ‘bahasa tubuh’.

Makin sulit dan rumit lagi jika kita terus merangsek dengan pertanyaan berikutnya: bagaimana dengan ‘makna’ atau arti dari semua bla-bla-bla di atas? Tidakkah kita perlu memahami Peristiwa Satu maupun Peristiwa Dua sebagai perwakilan dari sebuah ‘dunia makna”? Kalau memang alarm dan bel pintu sama-sama berisi tanda, mengapa ada pikiran tentang ‘tamu dan maling’? Lalu, bagaimana si Ibu dapat berpikir tentang ‘hari ini akan hujan’ padahal mungkin tanda-tanda yang terkandung dari seluruh rangkaian informasi itu adalah angka di mesin-mesin stasiun cuaca di Cengkareng yang kemudian ditransmisikan ke kantor redaktur Kompas di Pal Merah sebelum terbaca di kamar si Ibu di Depok (ini Ibu modern, nih.. selalu baca koran di komputer.. he he he).

Orang teknik dan orang bahasa akan berdebat panjang lebar tentang mana yang lebih penting: melihat isi sebagai kejadian fisik, atau sebagai tanda/simbol. Persoalan akan tambah runyam kalau perdebatan berlanjut dengan perdebatan tentang: mana yang lebih perlu diperhatikan, transmisi yang jernih dari sumber ke penerima (argumentasi orang teknik) atau kejelasan penggunaan tanda dan simbol (argumentasi orang bahasa). Orang teknis akan bilang, “Halaaah… gk pnting bgt, y pnt info ny sampe, gt kan?” (ini bahasa SMS), sementara orang bahasa akan bilang SMS itu merusak bahasa yang baik dan benar.

Kedua belah pihak pasti juga akan bertengkar lebih jauh kalau sudah bicara tentang hal yang lebih hakiki lagi, yaitu ‘kebenaran‘ (truth) di balik ‘makna‘ yang terkandung di dalam ‘isi‘ di setiap ‘transmisi‘ informasi!

Nah… kalau sudah begini, pustakawan dan para pekerja profesional yang mengaku aktif bergerak di bidang ‘informasi’ pasti nggak boleh bengong! 🙂 Kalau bengong, ntar kualat, loh..

Posted in Kepustakawanan, Kognisi | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »