Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Sense Making Theory

Posted by putubuku pada Maret 27, 2008

Brenda Dervin mengembangkan sebuah teori yang diberinama Teori Sense-Making (selanjutnya TSM) untuk membantu peneliti bidang informasi memahami fenomena kebutuhan dan pencarian informasi. Agar dapat memahami dan menggunakan TSM, kita perlu memahami aspek ontologi dan epistemologi yang mendasarinya. Secara sederhana, “ontologi” adalah unsur “apa” (hakikat fenomena) sedangkan “epistemologi” adalah unsur “bagaimana memahami” unsur apa itu. Artinya, setiap teori selalu menegaskan apa yang patut diteliti dan bagaimana menelitinya.

Secara umum, TSM menganjurkan agar penelitian bidang informasi memfokuskan perhatian pada bagaimana seseorang “make sense” (memaknai, memahami, mengenali, mengerti) dunia sekelilingnya melalui persentuhan dengan berbagai institusi, media, pesan, dan situasi. Landasan TSM adalah paham fenomenologi (phenomenology), yakni paham yang percaya bahwa manusia secara aktif membentuk dunia sekeliling mereka dengan melakukan observasi dan pemaknaan terhadap segala yang terjadi. Dengan kata lain, “dunia sekeliling” terdiri dari “dunia buatan” yang dibentuk di pikiran manusia melalui persepsi, pandangan, dan pemaknaan. Dunia sekeliling bukanlah semata-mata “dunia fisik”. Justru unsur terpenting dalam kehidupan manusia adalah “dunia buatan” itu. Dalam bahasa sehari-hari, dunia buatan ini seringkali disebut sebagai “realita kehidupan”.

Jika kita ingin memakai TSM untuk penelitian, maka titik tolaknya harus dari sisi pandang seseorang tentang dunia sekelilingnya: bagaimana seseorang memandang (persepsi, horison) kehidupannya sendiri. Jika kita ingin memakai TSM untuk penelitian bidang perpustakaan dan informasi, maka titik tolaknya harus dari bagaimana orang membentuk persepsinya tentang perpustakaan dan informasi.       

Lebih jauh lagi, TSM didasarkan pada asumsi bahwa dunia sekeliling manusia atau realita  selalu mengandung dua hal yang selalu bertentangan dan saling meniadakan, yaitu:  keteraturan dan ketidakteraturan. Akibatnya, setiap orang dalam hidupnya selalu berhadapan dengan situasi problematik (problematic situation) dan kesenjangan (gaps). Akibatnya selanjutnya, manusia selalu berhadapan dengan “dunia yang tidak lengkap”. Itu sebabnya, dalam TSM manusia dianggap sebagai mahluk yang terus-menerus berupaya mengatasi problematika dan kesenjangan, agar ia dapat memahami realita walau cuma sejenak. Termasuk dalam problematika dan kesenjangan ini adalah problematika dan kesenjangan informasi. Manusia selalu menghadapi kedua hal ini dengan berupaya mencari dan melengkapi informasi di kepalanya. Inilah inti dari kegiatan mencari dan menggunakan informasi.

TSM dilengkapi sebuah model segitiga yang menggambarkan bagaimana manusia bergerak di antara tiga titik, yaitu SITUASI (di puncak segitiga), PENGGUNAAN (di dasar kiri segitiga), dan KESENJANGAN (di dasar kanan segitiga). Dengan model ini, TSM berasumsi bahwa setiap manusia selalu bergerak dalam pengertian ruang maupun waktu di antara ketiga titik tersebut, agar dunia sekeliling atau realita menjadi bermakna. Setiap saat manusia selalu berupaya mengatasi kesenjangan informasi agar realita menjadi lebih terstruktur dan teratur.

Kalau kita ingin menggunakan TSM untuk penelitian di bidang perpustakaan dan informasi, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah menemukan petunjuk keberadaan ketiga titik itu. Misalnya, kalau kita ingin meneliti mahasiswa dalam konteks perpustakaan perguruan tinggi, maka kita harus memastikan bahwa mahasiswa itu memiliki gambaran (persepsi) tentang SITUASI (situasi perpustakaan, situasi kuliah), PENGGUNAAN (menggunakan katalog, membaca buku), dan KESENJANGAN (apa yang dianggap kurang dari dirinya dan dunia sekelilingnya). Setelah itu, kita harus dapat “melihat” (dari kacamata si mahasiswa, tentunya) bagaimana dia “bergerak” (bagaimana dia memahami, mengatasi, melakukan tindakan) di antara ketiga titik itu. Inilah inti penelitian bidang perpustakaan dan informasi jika memakai TSM.

Hal mendasar yang membedakan TSM dari teori pencarian dan penggunaan informasi lainnya adalah pada asumsi bahwa  semua fenomena dalam sebuah sistem informasi adalah fenomena persepsi manusia. Artinya, “informasi” di sini tidak diartikan sebagai bentuk-bentuk kebendaan, melainkan semata-mata gambaran atau bayangan atau pikiran manusia. Semua hal yang diteliti dengan menggunakan TSM harus dianggap sebagai bagian dari “make sense” (upaya memahami) dunia sekeliling. Sistem informasi bukanlah sistem benda, melainkan sistem pemaknaan manusia atau bahkan sistem kepercayaan manusia.

Sistem informasi itu ada karena manusia memaknai dan percaya bahwa sistem itu ada!

Jika ingin mendapat informasi lebih lanjut tentang TSM, silakan berkunjung ke situs Brenda Dervin di: http://communication.sbs.ohio-state.edu/sense-making/

4 Tanggapan to “Sense Making Theory”

  1. Ridho said

    Pak, bisa lebih jelas lagi gak? Saya lagi penelitian pakai Sense-Making Methodologi. Bagi-bagi referensi dunk Pak.. MAksudnya, Kajian tentang teori sense-making dalam metodologi yang mudah di akses dan download.

    Atau sudah pernah ada penelitian yang metodologi-nya menggunakan sense-making Pak?

    *M.Ridho

    • putubuku said

      Ridho.. kajian yang menggunakan Sense Making sudah banyak di Indonesia, silakan baca skripsi dan thesis teman-teman di jurusan perpustakaan di Jakarta maupun Bandung.

      Pembahasan teoritis dalam bahasa Indonesia memang belum banyak. Mudah-mudahan nanti saya punya bahannya untuk ditulis di sini. Tetapi dalam bahasa Inggris banyak sekali, cari saja di Internet atau di ProQuest.

  2. Ridho said

    Oh, iya Pak.. Saya baru saja di beri tau Ibu Luki (Peprustakaan UI).

  3. Nice post. I used to be checking continuously this weblog
    and I am inspired! Extremely useful info specifically the remaining phase 🙂 I care for such information much. I was seeking this particular information for
    a long time. Thanks and best of luck.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: