Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Posts Tagged ‘Diskursus’

Rumah, Sekolah, Perpustakaan

Posted by putubuku pada Agustus 28, 2008

Konon lintah datang dari sawah turun ke kali, cinta datang dari mata turun ke hati. Lalu, darimana datangnya “membaca”? Sebagian orang mengatakan, kebiasaan membaca datang dari rumah. Anak-anak yang lahir dan besar di keluarga yang suka membaca, akan tumbuh menjadi anak yang suka membaca. Sebaliknya, anak-anak yang datang dari keluarga tak membaca, akan tumbuh menjadi anak yang kurang menyukai buku dan bacaan.

Hmmm… begitu sederhana dan linear, ya?  Kalau memang “teori” di atas memang benar, malang betul nasib anak-anak yang lahir di keluarga tak mampu, yang tak punya bacaan selain koran bekas bungkus ikan asin atau majalah usang yang kebetulan tercecer di pinggir jalan. Beruntunglah anak-anak kelas menengah atas, yang keluarganya mampu menyisihkan lebih dari cukup uang untuk membeli buku selain permainan elektronik dan berbagai gadget musik+komunikasi+video (baca: telepon selular!).

Bagi anak-anak yang datang dari keluarga tak mampu, pergi ke sekolah mungkin jadi satu-satunya jalan untuk menjajal dunia baca-tulis. Dan mereka yang tinggal bersebelahan dengan perpustakaan desa atau perpustakaan umum mungkin akan lebih beruntung lagi. Apakah anak yang “dibesarkan” di sekolah dan di perpustakaan akan berbeda dalam hal membaca, dibanding mereka yang tak kekurangan pasok buku di rumah?

Pertanyaan ini bukan melulu soal teknik membaca  -sesuatu yang seringkali diajarkan lewat sekolah semata. Artinya, anak dari keluarga mampu, keluarga sedang, maupun keluarga tak mampu sama-sama mendapatkan keterampilan mengeja dan membaca teks dari sekolah (dengan asumsi sekolah itu terjangkau orang miskin, lho..). Dengan asumsi ini, kita boleh menganggap bahwa setiap anak yang pergi ke sekolah dan tidak membolos pelajaran bahasa, akan sama-sama punya kemampuan teknik membaca, tak peduli dia anak saudagar atau anak buruh.

Persoalannya adalah pada: apa yang mereka anggap patut dibaca, bacaan-bacaan apakah yang mereka akhirnya pilih ketika dewasa kelak? Dengan kata lain, kita boleh menyoal apakah ada perbedaan diskursus (discourse) dalam membaca antara anak-anak yang dibesarkan oleh buku-buku pilihan orangtua mereka dan anak-anak yang mengenyam buku hasil pilihan guru atau pustakawan. Lalu, dengan asumsi bahwa pilihan guru dan pilihan pustakawan berbeda, apakah ada perbedaan selera antara anak-anak yang tumbuh dengan buku-buku di luar rumah, dan anak-anak yang tumbuh dengan buku pemberian orangtua?

Persoalan perkembangan diskursus membaca di masyarakat ini menjadi kajian menarik bagi para ahli membaca dan literasi. Dalam beberapa penelitian, terlihat bahwa ada semacam “tensi” (ketegangan akibat perbedaan) antara selera baca “rumahan” dan selera baca “luar rumah”. Kalau kita tahu bahwa membaca bukanlah melulu teknik mengeja teks, tetapi juga bagaimana mencerna, mengaitkan, memahami, dan bahkan mendebat isi buku, maka adalah wajar jika timbul kecurigaan bahwa kebiasaan membaca sangat dipengaruhi oleh di mana seorang anak dibesarkan.

Teori tentang pengaruh masa kanak-kanak sudah banyak dikaitkan dengan perkembangan budaya teks dan keterampilan membaca-menulis di perguruan tinggi (lihat Canagarajah, 2002; Delpit, 1995; Fox, 1994). Kemampuan menyerap pengetahuan dengan membaca buku ilmiah dan kemampuan menulis argumen untuk tugas-tugas kuliah, ternyata dapat dikaitkan dengan bagaimana seorang anak dibesarkan dan buku-buku apa yang dibacanya. Tak selalu bahwa anak-anak yang lahir di keluarga mampu, akan memiliki keterampilan membaca dan berargumentasi yang memadai ketika di perguruan tinggi. Mungkin saja, buku-buku pilihan orang tua mereka justru menjadikan mereka orang yang kurang kritis dan kurang mampu berargumentasi, sementara “anak-anak jalanan” yang besar dengan buku tanpa sensor, mungkin akan berkembang menjadi orang yang kritis dan pandai berargumentasi.

Bacaan dan ketersediaan bacaan di rumah dan di sekolah Juga dikaitkan dengan bagaimana seseorang bersikap terhadap bacaan ketika ia sudah dewasa (Dyson, 1997; Lillis, 2001; Tate, 1998). Jika muncul kontroversi tentang sebuah bacaan, maka kita dapat melacak sikap pro-kontra seseorang ke masa kanak-kanaknya. Misalnya, dapat diduga bahwa akan ada pro-kontra tentang buku pelajaran reproduksi manusia, yang sangat mungkin berisi penjelasan tentang hubungan kelamin. Dapat diduga, orang yang masa kanak-kanaknya tumbuh di keluarga liberal dan bersekolah di sekolah yang juga liberal, akan bersikap lebih relaks. Sementara mungkin ada orang yang terus bimbang, sebab barangkali ia dulu bersekolah di sekolah yang liberal, tetapi datang dari keluarga yang konservatif. Banyak pula orang yang mungkin menjadikan pengalaman di sekolah dan perpustakaan umum sebagai landasan sikap mereka.

Demikian pula kontroversi tentang buku-buku “terlarang” dan pornografi. Sangatlah menarik untuk menyelidiki seberapa jauh perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum punya peran dalam membentuk pro dan kontra di masyarakat. Ini topik yang menarik banget, yaa.. 🙂

Bacaan yang mungkin perlu dibaca jika tertarik topik ini adalah:

Canagarajah, A.S. (2002). A geopolitics of academic writing. Pittsburgh, PA: University of Pittsburgh Press.
Delpit, L. (1995). Other people’s children: Cultural conflict in the classroom. New York: The New Press.
Dyson, A.H. (1997). Writing superheroes: Contemporary childhood, popular culture, and classroom literacy. New York: Teachers College Press.
Fox, H. (1994). Listening to the world: Cultural issues in academic writing. Urbana, IL: National Council of Teachers of English.
Lillis, T.M. (2001). Student writing: Access, regulation, desire. London: Routledge.
Tate, G. (1998). “Halfway back home”. dalam A. Shepard, J. McMillan, & G. Tate (Eds.), Coming to class: Pedagogy and the social class of teachers (hal. 252-261). Portsmouth, NH: Boynton/Cook.

Iklan

Posted in Kepustakawanan, Masyarakat Informasi | Dengan kaitkata: | 5 Comments »

Keberaksaraan, Media, dan Sikap Kritis

Posted by putubuku pada Juni 19, 2008

Konsep keberaksaraan atau literasi mengandung harapan tentang keterampilan dan pengetahuan dalam membaca, memahami, dan menghasilkan teks sebagai bagian dari perangkat dan kapasitas intelektual seseorang jika ia ingin berpartisipasi secara penuh di kebudayaan dan masyarakat tempatnya hidup. Secara umum kita sepakat bahwa pendidikan dan keberaksaraan adalah dua hal yang saling berkait erat.

Secara spesifik, keberaksaraan adalah sebuah kompetensi yang terutama amat diperlukan agar seseorang dapat secara efektif mempelajari dan menggunakan berbagai format dan representasi komunikasi yang diciptakan oleh sebuah masyarakat. Kompetensi ini seringkali berkaitan pula dengan kesepakatan dan aturan yang ada di masyarakat bersangkutan. Itu sebabnya keberaksaraan seringkali terlihat sebagai hasi dari sebuah “konstruksi sosial” yang dilakukan di sekolah dan institusi-institusi budaya, baik secara formal maupun secara non-formal dan informal. Seringkali pula “konstruksi sosial” ini dilakukan melalui wacana atau diskursus terbuka. Tak jarang, wacana ini dibentuk secara populer dan “bergaya”, misalnya dalam bentuk kelompok-kelompok penggemar buku yang bertemu sebulan sekali untuk ngobrol dan ngopi di sebuah kafe.

Dalam dunia yang berputar amat cepat seperti sekarang ini, keberaksaraan seringkali juga melibatkan pergeseran-pergeseran dalam rangka menanggapi sebuah perkembangan baru. Misalnya, reformasi politik di Indonesia menimbulkan keinginan menggebu untuk membebaskan diri dari pembatasan informasi. Keinginan ini dapat berwujud dalam bentuk sebuah kelompok penggemar komik yang membahas berbagai karya komikus dunia. Atau dapat muncul sebagai tren menyukai kisah-kisah perjalanan ke negeri orang lain yang dilengkapi dengan diskusi dengan pengarangnya. Atau dapat pula menjelma menjadi kelompok penggemar buku “kiri” yang gandrung membahas karya-karya Marx  -sebuah nama yang tabu disebut secara terbuka di jaman Suharto.

Seringkali keberaksaraan juga muncul sebagai reaksi yang tak kalah kuatnya untuk mengembalikan hegemoni sebuah kelas, atau mengembalikan “ketertiban” yang sudah terganggu oleh kesukacitaan reformasi. Dus, apa yang disebut sebagai “gerakan membaca” seringkali berisi “titipan” daftar bacaan yang “patut dibaca”  -sebuah upaya halus untuk mengajak orang lain “ikut kita, yuk..”. Kelompok-kelompok bacaan bermunculan di desa-desa, membawa gaya hidup orang kota yang didukung buku-buku bersampul licin dan cerita-cerita tentang modernisasi. Kelompok-kelompok yang didukung ideologi besar, baik berbasis agama maupun partai politik, bermunculan dalam bentuk blog dengan teks yang riuh rendah membicarakan kehebatan dan “kemurnian” diri mereka masing-masing.

Tambah hiruk pikuk pula fenomena keberaksaraan saat ini manakala kita melihat bahwa teks bukanlah semata yang tertera di atas kertas atau pita seluloid. Format media sudah menjadi amat beragam, dan ucapan filsuf Marshall McLuhann bahwa the medium is the message terngiang-ngiang di telinga semua orang. Keberaksaran lalu bukan hanya menyangkut teks per se, melainkan juga menyangkut media. Dus, ada yang gemar berucap tentang keberaksaraan media alias literasi media (media literacy).

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat pada umumnya, muncul perdebatan tentang media, terutama tentang “media baru” yang kehadirannya bikin jantung deg-degan. Contoh paling kongkrit tentunya adalah kehadiran telepon selular (ponsel) alias hape yang menghadirkan media baru berupa video klip atau foto digital. Di saat sama ponsel ini digunakan oleh wartawan suratkabar online mengirim berita instan, anak-anak remaja yang “nakal” menggunakan alat serupa untuk saling tukar video klip “tidak senonoh”. Dan masyarakat  -terutama masyarakat “orang tua”- kerepotan memahami apa arti sopan santun di kepala remaja-remaja itu: mengapa yang “senonoh” saat ini dahulu kala disebut “kurang ajar”?

Lalu muncullah di masyarakat debat dan pro-kontra. DI satu sisi ada pihak yang memposisikan diri sebagai “pelindung kehormatan” alias kaum proteksionis yang konon ingin menjaga nilai-nilai bangsa dari gerusan “nilai-nilai asing”. Sementara di pihak lain ada yang bicara atas nama kebebasan dan pembebasan. Bentrokan antara keduanya pernah terjadi ketika keduanya tak sepaham tentang apa yang dimaksud “porno” di Indonesia ini. Dalam keadaan seperti itu, keberaksaraan media jadi penting. Lha.. wong yang bikin gara-gara tentang semua ini, kan, media itu; khususnya media massa dan media personal itu. Keberaksaraan media juga jadi penting ketika media personal (seperti ponsel, sebenarnya, kan, barang milik pribadi) sudah menjadi media massa (distribusi isyu santet dan berbagai isyu seram lainnya dilakukan lewat ponsel). Masyarakat kita sebenarnya sedang dalam situasi chaois karena ruang pribadi jadi ruang publik, dan industri infotainment harus ikut bertanggungjawab tentang hal ini.

Media elektronik dan digital, dari ponsel sampai blog sampai wiki sampai YouTube, adalah Kurusetra baru, tempat peperangan baru. Di “lokasi digital” inilah muncul keberaksaraan baru. Orang-orang yang terampil menggunakan ponsel, rajin mengisi blog, dan pandai memakai kamera digital untuk berkreasi di YouTube, adalah para kesatria baru. Persoalannya, sebagian kesatria itu adalah “Pandawa” dan sebagian lain adalah “Kurawa”, dan ada juga di antara mereka para “Dorna”, para “Sengkuni”, dan para “dasamuka” (yang terakhir ini memang banyak, lho!).

Kalau keberaksaraan memang nyangkut dan lengket dengan dunia pendidikan seperti prangko dan amplopnya, maka kita pun patut bertanya: apakah di dunia pendidikan Indonesia perlu memahami media baru dan tingkah polah para kesatria digital itu? Tidakkah kini waktunya para guru (dan para guru-pustakawan atau pustakawan-guru atau apa, lah, namanya!) mulai mengembangkan keberaksaraan media sebagai bagian dari upaya mempersiapkan para peserta didik untuk hidup di “dunia yang sebenarnya”?

Usulan tentang keberaksaraan media ini, antara lain, dapat dilihat di situs ini: http://www.medialit.org/ 

Di situ ada beberapa isyu yang patut diperiksa oleh para guru dan para guru-pustakawan. Sebagian dari isyu itu amat relevan dengan keadaan di Indonesia.

Jadi…, tunggu apa lagi? 🙂

Posted in Kepustakawanan, Masyarakat Informasi | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »