Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Informasi: Transmisi? Isi? Makna?

Posted by putubuku pada April 23, 2008

Peristiwa Satu: di suatu malam menjelang pagi, di kejauhan terdengar alarm mobil berbunyi melengking dan menjerit. Tak berapa lama, bel pintu depan di sebuah rumah juga berbunyi. Para penghuni rumah sedang menonton film di televisi, asyik memperhatikan adegan polisi mengejar bandit di sebuah jalan bebas hambatan. Salah satu penghuni bangkit, menuju pintu. Ia berpikir, “Tamu kok malam-malam, jangan-jangan ada maling mobil”.

Peristiwa Dua: kakak beradik Wulan dan Tari (dari ‘bulan’ dan ‘matahari’🙂 ) sedang bersiap-siap berangkat sekolah. Sambil menunggu jemputan yang akan membawa mereka dari Depok ke Lenteng Agung, keduanya asyik menonton kartun di televisi. Ibu mereka masih sibuk menyiapkan bekal, dan tinggal memasukkan satu kotak makanan berisi potongan buah segar dan biskuit. Tiba-tiba si Ibu teringat sesuatu, dan dari dapur ia berteriak ke anak-anak, “Ambil jas hujan kalian, Nak.. Koran Kompas Online bilang hari ini akan hujan lebat..”

Okay. Dua peristiwa di atas cuma rekayasa, tetapi penting untuk pembahasan kita.  Di kedua peristiwa ada banyak ‘kejadian informasi’ (information events) dan istilah ini kita pakai sebab kita ingin membahas tiga hal: transmisi, isi, dan makna. Coba kita perhatikan baik-baik. Ada kejadian berupa transmisi (perpindahan dari satu lokasi ke lokasi lainnya). Misalnya, perpindahan orang dari tempat duduk di depan televisi ke pintu (Peristiwa Satu), dan perpindahan dari rumah ke sekolah, walau baru dalam bentuk ‘rencana’, dan dari dapur ke tas, yaitu ketika Ibu memindahkan boks makanan (Peristiwa Dua). Tetapi kejadian-kejadian itu bukan kejadian informasi. Transmisi yang berkaitan dengan informasi adalah:

  1. Di Peristiwa Satu: Dari alarm mobil ke gendang telinga penghuni rumah, dari bel pintu ke gendang telinga penghuni rumah, dari stasiun televisi ke mata-telinga penghuni rumah (via antene dan pesawat televisi).
  2. Di Peristiwa Dua: Dari stasiun televisi ke Wulan dan Tari, dari Kompas Online ke Wulan dan Tari (via stasiun cuaca ke Kompas lalu ke Internet dan Ibu mereka).

Di setiap transmisi ada ‘isi’. Ini agak lebih sulit dilacak daripada transmisinya sendiri. Lebih mudah melacak isi tranmisi kotak makanan dari dapur ke tas sekolah anak-anak. Apa isi transmisi dari alarm mobil dan bel pintu ke gendang telinga penghuni rumah? Apa isi transmisi film laga dari stasiun televisi ke mata-telinga penghuni rumah? Apa isi transmisi film kartun? Apa isi transmisi Kompas Online dan ucapan Ibu tentang cuaca? 

Pihak yang paling cepat menjawab pertanyaan tentang isi informasi di atas biasanya adalah pihak tekniksi. Dengan mudah mereka dapat mengatakan bahwa transmisi informasi dari alarm mobil adalah getaran suara berukuran x desibel, berjumlah y bits, dengan kecepatan z frekuensi. Cara menguraikan isi seperti ini juga dapat mereka lakukan terhadap transmisi informasi bel pintu, stasiun televisi, koran online, maupun suara manusia. Itulah isi fisik dari informasi yang dapat diukur dan disalurkan melalui mekanisme tertentu. Di dalam saluran juga selalu ada media (alarm, bel, televisi, Internet, mulut manusia)

Kaum pustakawan dan pekerja informasi juga senang memisahkan ‘isi’ dari ‘format’. Misalnya, sebuah buku mereka pisahkan, antara isinya dan formatnya. Walaupun agak jarang bicara tentang transmisi, tetapi dalam konsep tentang format sebuah buku juga terkandung hal-hal yang berkaitan dengan tranmisi, setidaknya transmisi dari pengarang ke penerbit, dan dari penerbit ke perpustakaan (via pedagang buku dan pustakawan bagian pengadaan, atau kerjasama antara keduanya🙂 ).

Sampai di sini, kita seolah-olah melihat bahwa transmisi informasi dan isi informasi adalah hal-hal yang menyangkut mekanisme-prosedural, alias teknis dan teknologis. Jika kita bicara tentang ‘kemajuan teknologi’, biasanya kita bicara tentang volume dan kecepatan, atau tentang jangkauan transmisi dan besaran isi. Hampir selalu, pembicaraan tentang aspek-aspek ini menyangkut kuantifikasi atau hal kasat mata (tangible).

Walau sebenarnya ada persoalan berikutnya yang masih mengusik. Kalau memang benar isi informasi adalah desibel, bits, dan frekuensi, bagaimana dengan cerita di film laga dan kartun dalam contoh di atas? Bagaimana dengan ‘ramalan cuaca’? Bukankah cerita dan ramalan itu juga adalah isi informasi? Orang-orang bahasa akan segera ngotot bahwa isi alarm dan bel pintu memang sederhana, tetapi tetap mengandung ‘isi’ yang lebih dari sekadar getaran. Sebagaimana halnya film laga dan ramalan cuaca, isi informasi alarm dan bel pintu adalah tanda dan simbol yang tergolong ke dalam bahasa sebagai pengertian yang sangat umum. Sama dengan gerakan menggeleng dan mengerdipkan sebelah mata, bukan sekadar gerakan otot leher dan  otot muka tetapi juga ‘bahasa tubuh’.

Makin sulit dan rumit lagi jika kita terus merangsek dengan pertanyaan berikutnya: bagaimana dengan ‘makna’ atau arti dari semua bla-bla-bla di atas? Tidakkah kita perlu memahami Peristiwa Satu maupun Peristiwa Dua sebagai perwakilan dari sebuah ‘dunia makna”? Kalau memang alarm dan bel pintu sama-sama berisi tanda, mengapa ada pikiran tentang ‘tamu dan maling’? Lalu, bagaimana si Ibu dapat berpikir tentang ‘hari ini akan hujan’ padahal mungkin tanda-tanda yang terkandung dari seluruh rangkaian informasi itu adalah angka di mesin-mesin stasiun cuaca di Cengkareng yang kemudian ditransmisikan ke kantor redaktur Kompas di Pal Merah sebelum terbaca di kamar si Ibu di Depok (ini Ibu modern, nih.. selalu baca koran di komputer.. he he he).

Orang teknik dan orang bahasa akan berdebat panjang lebar tentang mana yang lebih penting: melihat isi sebagai kejadian fisik, atau sebagai tanda/simbol. Persoalan akan tambah runyam kalau perdebatan berlanjut dengan perdebatan tentang: mana yang lebih perlu diperhatikan, transmisi yang jernih dari sumber ke penerima (argumentasi orang teknik) atau kejelasan penggunaan tanda dan simbol (argumentasi orang bahasa). Orang teknis akan bilang, “Halaaah… gk pnting bgt, y pnt info ny sampe, gt kan?” (ini bahasa SMS), sementara orang bahasa akan bilang SMS itu merusak bahasa yang baik dan benar.

Kedua belah pihak pasti juga akan bertengkar lebih jauh kalau sudah bicara tentang hal yang lebih hakiki lagi, yaitu ‘kebenaran‘ (truth) di balik ‘makna‘ yang terkandung di dalam ‘isi‘ di setiap ‘transmisi‘ informasi!

Nah… kalau sudah begini, pustakawan dan para pekerja profesional yang mengaku aktif bergerak di bidang ‘informasi’ pasti nggak boleh bengong!🙂 Kalau bengong, ntar kualat, loh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: