Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Mencari dan Menjaring di Internet

Posted by putubuku pada Mei 11, 2008

Gambar di sebelah ini adalah sebuah model yang diusulkan Savolainen (2001) untuk memahami kemampuan (atau ketidak-mampuan) seseorang dalam menemukan informasi di sebuah jaringan komputer. Dalam konteks keberaksaraan (literasi) informasi, model ini menjadi penting bagi upaya pustakawan dan manajer informasi untuk membantu para pengguna perpustakaan atau sistem informasi. Kita tahu, bahwa saat ini jaringan komputer, khususnya dalam bentuk Internet, adalah salah satu sumber utama bagi banyak orang, sekaligus juga merupakan sumber yang sering disalah-gunakan dan disalah-artikan.

Saat ini, kompetensi seseorang dalam memanfaatkan jaringan komputer ketika ia sedang membutuhkan informasi menjadi salah satu faktor penting di sekolah, kampus, maupun di tempat kerja. Tidak saja seseorang perlu ‘melek informasi’ (information literate), tetapi juga harus ‘melek jaringan’ (network literate). Menurut Savolainen, khusus dalam kegiatan menemukan informasi (information seeking), maka pemanfaatan jaringan ini sangat dipengaruhi oleh setidaknya 4 hal, yaitu:

  1. Situasi dan tujuan tindakan atau upaya menemukan informasi itu,
  2. Kriteria yang digunakan seseorang dalam memilih saluran komunikasi,
  3. Pengetahuan seseorang tentang sumber informasi yang tersedia,
  4. Hambatan yang mungkin timbul ketika seseorang mengakses Internet

Lalu bagaimana kita dapat memahami apa yang terjadi pada diri seseorang ketika ia melanglang dunia cyber di Internet (dan bahkan tersesat di dalamnya)? Savolainen mengusulkan penggunaan teori sosial-kognitif buatan Albert Bandura (1986) untuk membedah persoalan ini. Teori Bandura ini didasarkan pada pandangan bahwa lingkungan dan konteks dari sebuah perilaku merupakan faktor yang saling berkait. Perilaku seseorang di satu situasi tertentu akan dipengaruhi oleh faktor situasional dan kontekstual. Sebaliknya, perilaku itu juga mempengaruhi situasi dan konteks di mana seseorang berperilaku. Jadi, ada baku-kait (reciprocal relationships) antara situasi, konteks, dan perilaku.   yang sebaliknya juga dipengaruhi oleh perilaku.

Teori sosial kognitif secara khusus menganggap bahwa perilaku manusia dituntun oleh insentif internal, yang sebagian besarnya tertanam di dalam aktivitas kognitif (di benak manusia). Khususnya lagi, perilaku manusia dituntun oleh harapan-harapan (expectancies). Ada dua harapan yang disorot secara khusus oleh Bandura dan dianggap relevan oleh Savolainen untuk menjelaskan perilaku informasi seseorang di Internet.

Pertama adalah harapan seseorang yang berkaitan dengan hasil tindakannya. Harapan ini merupakan hal yang penting sebab adalah wajar sekali jika seseorang lebih cenderung melakukan perilaku yang ia percaya akan memberikan hasil baik bagi dirinya. Kedua adalah rasa percaya seseorang terhadap ‘self-effifacy‘ berperan amat penting dalam perilaku seseorang. Kata efficacy di sini berarti kapasitas atau kemampuan seseorang untuk menimbulkan efek tertentu dari perbuatannya. (lihat http://www.websters-online-dictionary.org/definition/efficacy)

Menurut Bandura, ‘perceived self-efficacy’ adalah gambaran seseorang tentang kemampuannya sendiri untuk melakukan sesuatu perbuatan yang kemudian akan mempengaruhi kejadian-kejadian dalam hidup mereka. Gambaran tentang self-efficacy ini menentukan bagaimana seseorang merasa, berpikir, dan berperilaku.

Jika tertarik pada teori-teori Bandura, silakan tengok situs-situs ini:

  1. http://condor.admin.ccny.cuny.edu/~hhartman/SOCIAL%20COGNITIVE%20APPROACH%20TO%20PERSONALITY%20ALBERT%20BANDURA%20(1925-).htm (berisi ringkasan teori)
  2. http://webspace.ship.edu/cgboer/bandura.html (biografi ringkas Bandura)
  3. http://www.des.emory.edu/mfp/BanEncy.html (teori self efficacy).

Savolainen mengaitkan teori self-efficacy ini dengan keterampilan berjaringan, sebab sangat relevan untuk situasi ketika seseorang belum terbiasa menggunakan Internet untuk menemukan informasi, walau sudah tertarik atau berminat untuk menggunakannya. Teori tentang self-efficacy ini juga relevan untuk menjelaskan mengapa ada pengguna awal yang belum nyaman dan belum yakin kepada kemampuan mereka sendiri dalam menemukan informasi di Internet.

Hasil kegiatan atau performance outcome merupakan faktor penting dalam teori self-efficacy. Kesuksesan tentunya menaikkan gambaran seseorang tentang self-efficacy, dan sebaliknya kegagalan membuat nilai self-efficacy itu merosot. Berdasarkan teori Bandura itulah, Savolainen menawarkan sebuah model kompetensi jaringan yang bersifat kontekstual sebagaimana terlihat di gambar di atas. Dalam model tersebut, kompetensi jaringan dianggap sebagai bagian integral dari tindakan penemuan informasi, dan merupakan faktor yang mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh tindakan itu.

Dalam model tersebut Savolainen menekankan kaitan antara berbagai faktor utama. Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan Internet selalu terjadi di konteks sosial-kultural tertentu, misalnya tempat kerja, di sekolah,  atau bahkan di tempat leha-leha. Berbagai faktor saling berkait secara timbal balik. Kompetensi jaringan – sebagai kombinasi dari ‘knowing that’ (paham) dan ‘knowing how’ (terampil)- ikut ditentukan oleh keyakinan tentang self-efficacy. Terutama di dalam diri para pengguna awal, kompetensi sangat ditentukan oleh seberapa percaya-diri seseorang tentang kemampuannya menggunakan komputer dan mencari informasi.

Lebih khusus, model ini menyatakan bahwa pengalaman menemukan informasi dari lingkungan jaringan dipengaruhi oleh harapan tentang hasilnya. Pengalaman menggunakan jaringan akan menimbulkan reaksi emosi, baik berupa kenyamanan maupun ketegangan atau kegelisahan. Adalah wajar bahwa pengalaman yang sukses akan mempengaruhi self-efficacy dan harapan keberhasilan di masa depan. 

Bacaan:

Savolainen, R. (2001), “Network competence and information seeking on the Internet”, Journal of Documentation, vol. 58 no. 2, hal. 211-226.  

Satu Tanggapan to “Mencari dan Menjaring di Internet”

  1. bumisegoro said

    pengalaman dalam internet searching. umumnya lebih mudah menemukan informasi yang berasal dari dunia barat daripada dari negeri sendiri. salah satunya karena ketidakimbangan pasokan.

    nice posting, anyway. tx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: