Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Gerilyawan Pustakawan

Posted by putubuku pada Agustus 20, 2008

Di tahun 1999, kamus Encarta World English memasukkan sebuah entri baru:

Guerrilla librarianship noun, the use of surreptitious measures by librarians determined to resist the large-scale “deaccessioning” of rarely used books: “A branch librarian … sometimes goes around with a due-date stamp, furtively stamping into currency books that she feels are imperiled…. [Employees of the San Francisco Public Library] call it ‘guerrilla librarianship'” (The New Yorker).

Kepustakawanan gerilya – apa pula ini? Dalam definisi di atas terlihat bahwa ada saat ketika seorang pustakawan menolak melakukan tugas yang digariskan oleh kebijakan perpustakaannya. Khususnya, penolakan ini terjadi untuk menentang upaya penyiangan terhadap koleksi yang dianggap tak terlalu banyak gunanya. Biasanya, penyiangan didasarkan pada catatan tentang seberapa laris sebuah koleksi dimanfaatkan oleh pengguna perpustakaan. Nah, seorang “gerilyawan” di perpustakaan itu akan diam-diam memanipulasi data pemanfaatan koleksi tertentu, sehingga koleksi itu lolos dari saringan penyiangan dan tidak jadi berakhir di gudang tukang loak.

Dalam penjelasan selanjutnya, kamus itu juga mengatakan:

BACKGROUND: Guerrilla librarianship can also involve such tactics as transferring endangered books from one department to another and hiding books in lockers, to be reintroduced to the collection “when the danger has passed,” as The New Yorker puts it. The term has so far generally been restricted to the controversy over the purge, or weeding, of deselected books in the new San Francisco Public Library (thousands of tomes have been relegated to landfills; thousands of others, however, are said to have been quietly saved through the methods described above). It may, however, gain wider currency if new libraries elsewhere are designed, as the San Francisco facility was, with generous space for computer terminals, meeting rooms, and art, but inadequate space for books. (lihat: http://www.theatlantic.com/issues/97apr/watch.htm)

Terlihat dalam penjelasan di atas, kegiatan bergerilya di perpustakaan menjadi sangat “kreatif”; apa pun dilakukan si gerilyawan demi mempertahankan keberadaan buku tertentu. Bahkan selanjutnya, kegiatan gerilyawan pustakawan ini juga ada hubungannya dengan semangat mempertahankan “buku kertas” dari serbuan teknologi digital yang menghadirkan mesin-mesin komputer ke ruang perpustakaan.

Kegiatan pustakawan yang membangkang terhadap kebijakan perpustakaannya sendiri tersebut sempat menjadi kontroversi ketika diangkat oleh majalah The New Yorker. Dalam salah satu edisinya di tahun 1996, majalah tersebut memuat artikel seorang novelis yang menuduh Kepala Perpustakaan umum San Fransisco telah menyingkirkan ribuan buku demi melapangkan lantai perpustakaannya bagi mesin-mesin komputer. Tuduhan ini melahirkan debat yang berkepanjangan, tidak saja di kalangan pustakawan yang pro dan kontra, tetapi juga di masyarakat umum. Dari debat tersebutlah, istilah “gerilyawan pustakawan” sering disebut-sebut.

Sebenarnya, fenomena pembangkangan pustakawan secara diam-diam ini bukanlah fenomena baru. Pada tahun 1981, J.A. Hennesy pernah menulis sebuah artikel di Journal of Librarianship and Information Science dengan judul Guerrilla librarianship? A review article on the librarianship of politics and the politics of librarianship. Dalam artikel tersebut, Hennessy bersemangat menelaah hubungan antara pengelola perpustakaan dan para penguasa politik. Menurutnya, secara umum pihak pustakawan berada dalam posisi tak berdaya. Henessy beralasan, walaupun pustakawan adalah “penguasa perpustakaannya”, ia tak selalu bisa mengambil keputusan dalam hal koleksi, terutama jika koleksi tersebut bersifat kontroversial secara politis.

Walaupun kurang diakui secara terbuka, namun sudah banyak kasus memperlihatkan betapa pustakawan sebenarnya tak terlalu punya wewenang dalam hal koleksi. Proses pengadaan bahan-bahan pustaka seringkali direduksi menjadi proses teknis-rutin yang sangat bergantung pada kegigihan para penjaja koleksi alias vendor. Di perguruan tinggi, para pustakawan seringkali sekadar memenuhi “permintaan yang mendesak” dari para dosen senior atau peneliti kawakan. Di sekolah, para pustakawan seringkali mendapat telepon dari kepala sekolah untuk menerima seorang wakil dari Penerbit XYZ yang sudah membawa daftar buku untuk ditandatangani pembeliannya oleh sang pustakawan. Di perpustakaan umum, para birokrat, pejabat kota, atau pemuka masyarakat dari golongan tertentu, seringkali lebih berwenang menentukan isi koleksi daripada si pustakawan. Dalam banyak kasus, daftar koleksi di perpustakaan umum seringkali didominasi oleh kepentingan golongan politik atau agama tertentu.

Ketika pustakawan ingin mengatakan “tidak!” maka ia menghadapi dua kemungkinan pahit. Pertama, ia dianggap sok tahu dan melewati batas wewenangnya. Kedua, ia mungkin akan dipindahkan ke lokasi yang paling dekat dengan pintu masuk perpustakaan: sebagai penjaga locker, misalnya🙂.Dalam keadaan tertekan oleh kesewenangan pihak-pihak di luar perpustakaan itulah, sebagian pustakawan memilih menjadi gerilyawan.

Bahkan, semangat bergerilya yang meniru pejuang kemerdekaan ini kemudian juga meluas ke berbagai bidang, tidak hanya dilakukan dalam konteks pengadaan atau penyiangan koleksi.

Simak misalnya blog Bobbie Johnson yang terang-terangan menyatakan muak melihat buku-buku pseudoscience (buku-buku setengah ilmiah) yang dipajang di toko-toko bersama-sama buku yang benar-benar ilmiah. Dia mengusulkan agar para pencita buku ilmiah melakukan gerilya ke toko-toko tersebut dan memindahkan buku setengah-ilmiah ke tempat yang lebih layak, agar tak mengganggu kemurnian ilmu! (http://blogs.guardian.co.uk/technology/archives/2007/08/01/reclaiming_the_bookshelves_for_reason.html)

Atau tengoklah blog Chris yang dengan lantang berteriak, “Guerrilla librarianship, if anything, is about empowering librarians. It’s about individuals taking ownership of and responsibility for their own professional lives, their institutions, and their communities!” (http://libraryriot.com/2008/05/05/guerilla-librarians/)

Sementara Kevin Manion menggunakan prinsip-prinsip gerilyanya untuk memasarkan jasa perpustakaannya kepada pihak-pihak terkait di kantornya (http://units.sla.org/chapter/chip/sept04news/terese-rep.htm), dan Amanda Credaro di Australia sudah lama bergerilya sebelum akhirnya menerbitkan Warrior Librarian Weekly sebagai respon atas “kegilaan-kegilaan pemerintah yang mengurusi perpustakaan sekolah“ (http://www.ala.org/ala/alonline/inetlibrarian/2002columns1/junejuly2002.cfm)

Layaknya di perang perjuangan kemerdekaan, para gerilyawan pustakawan ini tak kenal menyerah!
 
Bacaan:     

Hennessy, J.A. (1981), “Guerrilla librarianship? A review article on the librarianship of politics and the politics of librarianship” dalam Journal of Librarianship and Information Science, Vol. 13, No. 4, 248-255 (1981)

6 Tanggapan to “Gerilyawan Pustakawan”

  1. Subhan said

    Kalau sudah terang-terangan, bukan gerilya lagi dong namanya, Pak🙂

    Saya belum pernah menemukan pustakawan Indonesia yang melakukan gerilya semacam Pak Putu ulas di atas.

    Padahal kalau melihat konteks Kepustakawanan Indonesia yang masih dirundung ketidakbebasan, bisa menjadi alasan kuat bagi pustakawan untuk melakukan gerilya, dengan berbagai bentuk aktivitasnya.

    Barangkali hal itu terjadi karena kekosongan ideologi, prinsip yang menjadi landasan atau alasan berjuang; sebagaimana yang selama ini Pak Putu kampanyekan: KEBEBASAN, KEMERDEKAAN.
    Lagipula, Kepustakawanan Indonesia sudah terlalu lama dikooptasi oleh birokratisme dan korporatisme negara.

    Kalaupun bisa disebut bergerilya dalam hal perbukuan, saya baru menemui sedikit keterangan mengenai distribusi buku karya Tan Malaka yang ditulis di luar negeri lalu diselundupkan ke Indonesia untuk kemudian dibaca oleh kaum pergerakan kemerdekaan Indonesia.

  2. bobry said

    kayanya posisi pustakawan ga strategis banget ya… pustawakan lebih banyak dijepit oleh pihak2 lain. bahkan dalam pengadaan koleksi -yang seharusnya menjadi prerogatif pustakawan- pun mereka seringkali diintimidasi. kalo memang ini terus terjadi dan tidak ada tindak lanjut, nampaknya pustakawan akan menjadi makhluk sangat langka dan keberadaanya patut dilindungi undang-undang hehehe…. betul tidak

  3. MUDAH2AN PUSTAKA SEMAKIN JAYA

  4. JULI said

    hai……….

  5. norasiska said

    gimana kalo mo jd pustakawanyang propesianal selain jenjang universitas. adakah pelatihan? dan dimana kalau wilaya sumsel.saya tertarik menjadi pustakawan.karena sekarang ini saya petugas perpustakaan SD.TERIMA KASIH

  6. murad said

    Saya baru tahu, apa yang kulakukan selama ini untuk perpustakaanku ternyata saya seorang gerilyawan pustakawan….walau sekarang harus jadi opisisi……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: