Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Pekerja Informasi. Siapa Gerangan?

Posted by putubuku pada Juli 4, 2008

Istilah “pekerja informasi” atau lebih lengkapnya “pekerja informasi profesional” (information professionals) mulai banyak disebut-sebut sejalan dengan semakin populernya istilah “masyarakat informasi” dan “industri informasi” di tahun 1970an. Kelak, ketika fenomena manajemen pengetahuan (knowledge management) merebak di tahun 1980an, muncul pula julukan “pekerja pengetahuan” (knowledge worker) yang kedengarannya lebih keren. Pada saat sama, julukan itu tentunya juga hanya menambah bingun, selain mengundang protes dari orang-orang yang sudah lebih dahulu hadir: para pustakawan, arsiparis, dokumentalis.

Apa boleh buat. Manusia memang suka sekali membuat kategorisasi. Sebelum julukan-julukan terhadap pekerjaan di bidang informasi dan pengetahuan meramaikan khasanah profesionalisme, kita sebenarnya juga sudah punya julukan “klasik” yaitu pekerja kerah putih (white collar) dan kerah biru (blue collar). Si kerah putih konon duduk di belakang meja, sementara si kerah biru berdiri mengendalikan mesin. Si kerah putih senang disapa dengan kata “manajer”, si kerah biru bangga dengan status-ideologis “buruh”. Di negara tertentu, si kerah putih memilih partai politik kanan, si kerah biru akrab dengan politisi kiri.

Di Indonesia, kata “buruh” bisa terdengar mengejek, tapi bisa juga terdengar mengancam. Di jaman Orde Baru, julukan “buruh” menimbulkan kegamangan dan pemerintah memaksakan istilah “pekerja”. Bahkan dengan bersemangat, para penguasa mengecat ulang tembok industrialisasi dengan mengibarkan nama “karyawan”. Lalu, untuk memonopoli makna dan untuk mengarahkan kebenaran tentang fungsi karyawan ini, dibuatlah sebuah mesin politik bernama Golongan Karya.

Tetapi, apa kaitannya semua ini dengan “pekerja informasi”?

Pemisahan kerah putih dari kerah biru (atau manajer dan buruh) dapat membantu kita mengenali ciri pekerja informasi. Dua penulis, Schement dan Curtis menulis buku menarik berjudul Tendencies and Tentions in the Information Age (Transaction Publishers, 1995). Di buku yang mengalir lancar ini, para pengarang membagi jenis pekerjaan menjadi dua, sepeti ini:
Pekerjaan Fisik

  • Terjadi di tingkat fisik (tentu saja!)
  • Mengandung perilaku spesifik: mencocokkan (adjust), merangkai-menyelaras (align), menyusun fisik (assemble), mengenakan, membersihkan, mengkonstruksi, memfabrikasi, menyelipkan, dan memasang kabel
  • Hasil kerjanya dapat ditimbun (stockpile).
  • Pekerjaannya terlihat, dan produknya dapat dipisah-pisah. Sebuah “produk kecil” (misalnya sebuah sekrup) memberi sumbangan pada “produk besar” (misalnya sebuah mobil).

Pekerjaan Informasi

  • Terjadi di tingkat kognitif.
  • Mengandung perilaku spesifik: menganalisa, mengklasifikasi, menyusun komposisi, mendiagnosa, memperkirakan, mengevaluasi, mengorganisasikan, merencanakan, membuat dugaan, mencatat, menyusun agenda, menyelidiki, membuat ringkasan, melakukan sintesa, dan menyampaikan pesan.
  • Hasil kerjanya cenderung tidak dapat ditimbun.
  • Pekerjaannya tidak terlihat kekal, berubah sejalan dengan waktu, dan tidak meninggalkan bekas. Produk informasi akhir (final information product) seringkali abstrak, sehingga untuk “melihat” hasil kerja informasi kita mengamati gerakan atau arus informasi. Akibat dari ini, para pekerja informasi berada di arus informasi. Akibatnya pula, seringkali “jejak” pekerja informasi ini tak terlihat di produk-akhir.

Pembagian seperti di atas memang masih terlalu umum, dan tidak seluruhnya benar. Misalnya, hasil kerja informasi juga dapat ditimbun (stockpile) dalam bentuk himpunan informasi atau dalam bentuk automatisasi (program komputer yang berjalan sendiri walaupun si pembuatnya sudah lama berhenti bekerja). Demikian pula, dalam sebuah industri raksasa, jejak para pekerja, baik itu buruh maupun manajer, sama-sama hilang tak berbekas. Kepemilikan dan keuntungan seringkali tidak menyentuh manajer maupun buruh, melainkan si pemilik (dan keluarganya, dan kawan-kawannya, dan politikus dekatnya.. he he he).

Disiplin dalam industri juga telah lama memisahkan pekerja dari hasil kerjanya, sehingga walaupun mereka bisa memproduksi sesuatu dengan tangan (atau otak) mereka sendiri, mereka tidak boleh mengklaim-nya sebagai produk mereka. Dengan menjual kemampuan kerja atau “labor” mereka, para pekerja pun menjadi komoditas. Setelah masuk ke pabrik atau ke kantor, perilaku pekerja diatur lewat pembagian kerja sehingga setiap orang berperilaku seperti baut dan sekrup di sebuah mesin raksasa. Bagi banyak pekerja, peran mereka dalam produksi menjadi begitu kecil dan abstrak seingga tidak mungkin mengidentifikasi diri dengan hasil atau produk-akhir kantor atau pabrik tempat mereka bekerja.

Ketika pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan informasi mulai lebih berperan, memang muncul beberapa “kelainan”. Jelaslah bahwa si pekerja informasi berurusan dengan simbol (atau lebih tepatnya: manipulasi simbol). Seorang pekerja informasi berurusan dengan simbol yang adalah “wakil dari yang sesungguhnya”. Jadi, si pekerja informasi bekerja di sebuah ruang maya yang terpisah dari ruang fisik. Selain itu, si pekerja dapat langsung memanipulasi simbol seperti dia memanipulasi dirinya sendiri. Sebab, simbol itu “melekat” ke manusia yang membuat dan menggunakannya, bukan?

Ambil contoh seorang penulis (writer) dan seorang penulis program (programmer). Pekerjaan dua sosok yang sama-sama memanipulasi simbol ini memungkinkan aktualisasi diri lebih langsung. Penulis dapat menjadikan tulisannya khas, penulis program dapat membuat program yang khas (dan dalam banyak kasus dapat membuat program yang “mematikan”, seperti virus komputer). Fenomena “hackers” muncul sebagai contoh kejayaan pekerja informasi yang amat mandiri dan bebas dari disiplin industri, apalagi disiplin pabrik. Sekarang, fenomena “bloggers” dan “wikiers” mengikuti jejak para “hackers” merebut kedaulatan Negeri Informasi.

Sudah barang tentu, industri raksasa dan para pengatur juga akan selalu menampilkan jurus-jurus baru. Para pekerja informasi belum boleh tertawa lebar karena “hackers” bisa dijerat undang-undang anti penetrasi jaringan komputer, dan “bloggers” bisa diburu oleh polisi rahasia seperti di jaman dahulu para agen penguasa menangkapi para penulis mbalelo. Hak cipta dan hak intelektual jadi ajang rebutan antara individu dan korporasi. Para akademisi dipaksa menandatangani kontrak dengan universitas, para ilmuwan dipaksa mengaku pegawai laboratorium.

Di tengah hiruk pikuk globalisasi dan google-isasi, “pekerja informasi profesional” berkutat dengan citra-diri, standar gaji, profesionalisme, dan masa depan karir. Apa yang mereka alami amat menarik untuk diteliti. Siapa yang mau mulai?🙂

Untuk menambah informasi, ada baiknya tengok situs-situs ini:

  1. Pekerja informasi menurut SLA (Special Library Association)
  2. Asosiasi pekerja informasi independen
  3. Chartered Institute of Library and Information Professional (CILIP), asosiasi pustakawan dan pekerja informasi, kelanjutan dari Library Association.

Bacaan:

Schement, Jorge Reina dan Terry Curtis (1995), Tendencies and Tensions in the Information Age, New Brunswick : Transaction Publishers.

Satu Tanggapan to “Pekerja Informasi. Siapa Gerangan?”

  1. I am often searching for recent informations in the WWW about this issue. Thanks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: