Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Karena Berdialog, Maka Relevan

Posted by putubuku pada Juni 17, 2008

Secara fitrahnya, perpustakaan dan sistem informasi berkutat dengan persoalan relevansi. Memang, kata “relevansi” itu sendiri datang dari “orang-orang sistem”, terutama orang-orang yang mendalami information retrieval, tapi para pustakawan sejak lama juga sudah mengantisipasi isyu ini. Ingat saja salah satu wejangan ‘suhu’ Ranganathan tentang ‘every book its reader‘. Di frasa ini ada keyakinan bahwa setiap orang punya buku yang cocok untuknya. Bahkan kita dapat secara dramatis mengatakan, untuk setiap bayi yang lahir di dunia ini ada sebuah buku terbit. Kelak di suatu masa, bayi itu akan membaca buku yang cocok untuknya.

Persoalan relevansi sudah dibahas di mana-mana, termasuk di blog saya yang terdahulu (lihat di sini). Secara lebih spesifik, persoalan relevansi yang berkaitan dengan ketepatan pencarian (dikenal dengan ukuran recall and precision) juga sudah dibahas (lihat di sini). Kedua tulisan tersebut menjelaskan relevansi sebagai sebuah ukuran (measurement), dan ukuran ini dikenakan kepada sebuah kinerja sistem. Dengan kata lain, ukuran ini biasanya datang dari sisi luar sebuah sistem, sebab itu dapat pula disebut sebagai ukuran eksternal.  

Secara konseptual, maka ukuran relevansi yang eksternal ini punya satu kelemahan penting. Dalam konsep relevansi, sebuah dokumen atau buku dianggap relevan jika sesuai dengan kebutuhan pengguna. Kesesuaian ini kemudian ditetapkan sebagai sebuah ukuran kuantitatif yang tetap. Dalam teknik information retrieval cara penetapan ukuran kesesuaian ini seringkali linear (satu arah). Seseorang memasukkan pertanyaan (query) ke sebuah sistem, lalu sistem memberikan jawaban. Berdasarkan jawaban ini dilakukan penghitungan seberapa relevan dokumen yang telah ditemukan oleh sistem.

Konsep linear di atas mengandaikan bahwa sebuah query sudah pasti mencerminkan kebutuhan pengguna. Di sinilah salah satu titik terlemah dari ukuran relevansi eksternal. Mesin dan sistem komputer terpaksa menerima query apa adanya dan tak punya pilihan selain mendaulat si pengguna sebagai pihak yang paling tahu apa yang dibutuhkannya, dan tahu pula bagaimana menyampaikan permintaan yang akurat sekaligus jelas.

Alas, tak semua pengguna tahu bagaimana bertanya dengan baik, sebagaimana halnya tak semua anak-anak tahu bagaimana meminta manisan kepada Ibunya tanpa merengek-rengek.

Dalam perkembangan pemikiran tentang relevansi selanjutnya, muncul pemikiran untuk menanggulangi persoalan akibat sifat komunikasi yang linear antara manusia dan komputer ini. Muncul pemikiran tentang kemungkinan mengubah komunikasi satu arah alias monolog yang selama ini menjadi dasar bagi perhitungan relevansi eksternal. Tentu saja, kandidat paling pas untuk menggusur monolog adalah dengan mengedepankan dialog.

Toh, dialog adalah fitrah kepustakawanan pula! Demikianlah menurut Budd (2004), teori kritis dari filsuf Jerman, Jugen Habermas, dapat digunakan untuk memahami relevansi yang berdasarkan karakteristik dasar komunikasi manusia. Kehidupan yang manusiawi tentu saja tak berisi monolog belaka, melainkan sebenarnya penuh dengan dialog. Salah satu pandangan Habermas tentang sifat dialogis dari komunikasi antar manusia dapat dijadikan patokan. Habermas pernah menyatakan tentang hubungan tripartit (melibatkan tiga hal) dalam komunikasi. Ia mengatakan, “Seorang pembicara mencapai kesepahaman dengan orang lain tentang sesuatu” (Nah, ada tiga hal di situ: pembicara, orang lain, dan sesuatu).

Selain itu Habermas menekankan pada keberadaan “dunia sosial” yang dihuni bersama-sama oleh banyak orang, sehingga menurutnya komunikasi bukanlah proses linear (garis lurus) melainkan sebuah dinamika dan kekuatan transformatif yang menghasilkan kesepahaman. Secara penuh, Budd mengutip wejangan Habermas:

The telos of reaching understanding inherent in the structures of language compels the communicative actors to alter their perspective; this shift in perspective finds expression in the necessity of going from the objectivating attitute of the success-oriented actor, who seeks to effect something in the world, to the performative attitude of a speaker, who seeks to reach understanding with a second person about something.

Habermas percaya, hidup ini sebenarnya nyaman berkat komunikasi yang dialogis. Di dalam komunikasi dialogis, orang-orang akan mengganti-ganti perspektif, sebab struktur bahasa mengandung di dalamnya upaya mencapai kesepahaman. Adalah fitrah manusia pula untuk saling memahami. Kegiatan mengganti-ganti perspektif ini merupakan usaha memahami, dan akan terlihat dalam bentuk perubahan posisi dari seseorang yang berorientasi pada pencapaian kepentingannya (dengan tujuan mempengaruhi dunianya) menjadi seseorang yang bersikap ingin mencapai kesepahaman tentang sesuatu dengan orang lain. Dari orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri, menjadi orang yang menyadari kepentingan bersama.

Menurut Budd, pemikiran pemikir lainnya, yakni Mikhail Bakhtin, juga perlu dipertimbangkan. Bakhtin berhasil menjelaskan kualitas dialog. Menurutnya, semua komunikasi adalah monolog atau dialog. Komunikasi monolog tidak mengijinkan respon, tidak ada apropriasi oleh pembaca atau pendengar. Komunikasi dialogis membutuhkan interaksi antara pendengar dan pembicara, penulis dan pembaca.

Jenis komunikasi dialogis juga memerlukan pemahaman bahwa “bahasa bukanlah sebuah medium netral yang dapat dengan mudah jadi milik pribadi seorang penulis yang punya tujuan/kepentingan pribadi; sebab bahasa itu dihuni  -dihuni secara penuh (overpopulated)-  oleh tujuan/kepentingan orang-orang lain. Pemaksaan agar bahasa menjadi “pelayan” bagi kepentingan pribadi seseorang adalah amat sulit.

Berdasarkan Habermas dan Bakhtin di atas lah, Budd menganggap bahwa relevansi harus diletakkan dalam konteks komunikasi dialogis. Perpustakaan dan sistem informasi seyogyannya menciptakan dunia kehidupan yang lebih adem dan lebih tentrem lewat fasilitas dialog. Cobalah mencari di Google edisi Inggris, dan ketiklah “relevansi” niscaya Anda akan melihat tulisan “Did you mean: relevant“.

Google sedang membuka dialog dengan Anda.   
 

Bacaan:

Budd, J.M. (2004), “Relevance: language, semantics, philosophy” dalam Library Trends, vol 52 no 3, hal 447 – 462

2 Tanggapan to “Karena Berdialog, Maka Relevan”

  1. renc said

    http://sariwangi.wordpress.com/

  2. Fadjri said

    Yups. Bisabisa, tanpa memandang relevansi dialog maka timbul sangka dari anasir berbeda. Dan muncullah ‘pihak ketiga’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: