Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Dari Kampus, kah, Datangnya Profesi?

Posted by putubuku pada Juni 12, 2008

Lebih dari satu dekade yang lalu, Day (1996) mengulas kaitan antara profesionalisme dengan pendidikan di universitas. Tulisannya patut kita baca saat ini, sembari bertanya: apakah pendidikan ilmu perpustakaan dan informasi di universitas di Indonesia memang berkaitan dengan profesionalisme di lapangan? Hal menarik yang dapat disimak dari tulisan Day adalah ketika ia menyatakan bahwa sebenarnya universitas lah yang menyebabkan sebuah bidang kegiatan berstatus profesional. Misalnya, rekayasa permesinan (engineering) pada mulanya adalah praktek para tukang yang berada di luar wilayah universitas, karena para cendekiawan waktu itu masih sibuk berurusan dengan teori mekanika atau fisika “murni”. Sampai abad 19, bidang-bidang seperti hukum dan bahkan kedokteran, masih dianggap pertukangan. Baru pada sepertiga terakhir abad tersebut terjadi transformasi besar-besaran dalam pendidikan universitas sehingga hukum, kedokteran atau permesinan segera menjadi fakultas-fakultas besar, kalaulah tidak ingin dikatakan yang terbesar.

Day mengenakan jalan pikir yang sama untuk melihat kaitan antara profesionalisme pustakawan dengan pendidikan universitas yang menghasilkan pustakawan itu. Sifat dan tindak tanduk profesional, menurutnya, ditentukan oleh prinsip-prinsip dasar pendirian pendidikan di universitas. Ia melihat setidaknya ada tiga prinsip berbeda yang berkembang dalam pendidikan untuk pustakawan, terutama di negara Barat (tetapi juga agaknya berimbas ke negara berkembang karena para pengajarnya dididik di Barat).

Pertama, prinsip yang dikembangkan Melvil Dewey ketika ia mendirikan Columbia School of Library Economy. Sebagaimana tercermin dalam namanya, sekolah ini berprinsip bahwa pendidikan kepustakawanan adalah upaya untuk membuat penyelenggaraan perpustakaan lebih efisien dan efektif (dan dengan demikian juga ekonomis). Selain itu, Dewey juga mengembangkan pendidikan yang menganggap bahwa efisiensi dan efektifitas itu diciptakan di universitas dalam bentuk pengetahuan atau teori, untuk dipindahkan ke para mahasiswa, dan akhirnya ke lapangan pekerjaan. Jadi, kendali (control) atas kualitas profesionalisme pustakawan terletak di tangan para penyelenggara pendidikan.

Kedua, prinsip yang dikembangkan Paul Otlet, pendiri dan pengelola International Institute of Bibliography / International Federation for Information and Documentation di Brussel, Belgia. Bagi Otlet, kendali atas kualitas profesionalisme ada di tangan institusi informasi, bukan di tangan para akademisi. Paul Otlet, orang Belgia, dan tidak mendapatkan pendidikan di Amerika Serikat. Ia bersikukuh bahwa pekerja informasi mengurus segala dokumen (bukan hanya buku, tetapi segala bentuk media lainnya, termasuk dokumen elektronik). Harap maklum, beliau adalah seorang dokumentalis. Otlet juga bersikeras, institusionalisasi dan globalisasi pekerjaan bidang informasi akan menentukan profesionalisme di masa depan. Dengan kata lain, profesionalitas itu ditentukan oleh institusi informasi dan pekerjaannya, bukan oleh universitas. Dari sini lahir pandangan: magang di dunia nyata lebih penting daripada nongkrong di laboratorium kampus.

Ketiga, prinsip yang dikembangkan Suzanne Briet, seorang cendekiawan Perancis yang mengatakan bahwa profesionalitas tidak berada di universitas maupun di institusi informasi, melainkan di teknis (technique) pelaksanaan, terutama pada standar dan bahasa teknis yang dikembangkan kalangan profesional. Briet pula yang mempertegas perbedaan antara pustakawan dengan apa yang kini kita sebut “spesialis subyek” (subject specialist). Dengan memperkenalkan konsep spesialis ini, Briet membawa profesi bidang informasi ke bidang riset secara umum, sekaligus menaikkan statusnya menjadi ujung tombak (pointe) penelitian karena tugasnya yang mendahului (avant) para peneliti. Sebab ini pula, Briet menganggap bahwa profesionalitas pekerja informasi sangat dinamis dan kualitasnya ditentukan oleh kemampuan teknis pekerja tersebut dalam memperlancar berbagai penelitian di berbagai bidang.Dengan sederhana, Briet mau bilang, profesionalisme adalah urusannya si profesionalis, terutama lewat asosiasi profesinya.

Kita di Indonesia, terutama di jurusan-jurusan ilmu perpustakaan yang bertebaran seantero Nusantara, tampaknya menganut prinsip yang dikembangkan Dewey. Pada umumnya kita menganggap bahwa teori-teori bidang perpustakaan “sudah jadi dan sudah selesai”, sehingga tinggal dipraktekkan saja di lapangan oleh mahasiswa yang telah lulus. Pendidikan ilmu perpustakaan, dengan demikian, adalah transfer pengetahuan dari pengajar ke kaum profesional. Tentu saja ada improvisasi dari prinsip ini. Misalnya, ada upaya memasukkan para profesional sebagai pengajar tetapi mereka seperti harus mengalami “purifikasi” dahulu dengan mengikuti pendidikan di universitas (misalnya dalam bentuk gelar master), sebelum bisa mengajar. Kalaupun tidak memiliki gelar formal, para pengajar yang datang langsung dari lapangan juga harus tunduk sepenuhnya kepada prinsip universitas, terutama karena harus menyusun semua bahan dan strategi pendidikan sebagaimana dikehendaki oleh kampus.

Pada titik yang ekstrim, prinsip Dewey inilah yang agaknya dapat menimbulkan citra “menara gading”, terutama jika pengajaran sama sekali tidak berdasarkan pengetahuan tentang lapangan. Prinsip ini pula yang cocok dengan pandangan positivis dalam ilmu, yang pada umumnya menganggap bahwa kebenaran bisa ditemukan lewat kegiatan rasional yang dilakukan oleh para cendekiawan di kampus.  Selain itu, prinsip Dewey ini agaknya juga cocok dengan pandangan konservatif dalam pendidikan yang menganggap bahwa fungsi kampus adalah menertibkan kegiatan di lapangan, dan bahwa “disiplin” adalah sikap khas kampus yang harus dipraktekkan di lapangan tanpa reserve.

Sebaliknya, prinsip Otlet dan Briet tampaknya tidak terlalu berperan di Indonesia, walaupun dalam beberapa kesempatan kita sering melihat adanya perbedaan cukup tajam antara para pendidik dan para praktisi dalam melihat persoalan.

Nah, kalau Anda tertarik meneliti profesionalisme informasi, mengapa tidak meneliti pendidikannya di Indonesia. Banyak, lho, yang bisa diteliti🙂

Bacaan:

Day, Ron (1996), “Beyond the Oedipus Age: profesionalism and information” dalam Journal of Education for Library and Information Science, v. 37 no. 4, h. 55 – 63.

2 Tanggapan to “Dari Kampus, kah, Datangnya Profesi?”

  1. nufan said

    Satu minggu sebelum sidang skripsi, saya mendapat panggilan di sebuah perusahaan logistik, bayangan saya, pada waktu itu saya akan diwawancara untuk mengisi lowongan di bagian perpustakaan?begitu saya datang ke kantor tersebut, saya tidak menemukan rak buku2/ ruang perpustakaan. Dan belakangan baru mengetahui bahwa perusahaan tersebut mewawancarai saya untuk posisi document controller, kata yang asing bagi saya, karena sewaktu kuliah saya merasa tidak pernah mendapatkan ilmu tersebut. Padahal Klasifikasi dan katalog yang menjadi ruhnya ilmu perpustakaan pernah saya pelajari, dan kedua ilmu tersebut tentunya berguna ketika menyusun pola klasifikasi dokumen di perusahan tersebut agar mudah diketemukan ketika dibutuhkan.Tentunya bukan DDC karangan dewey yang kita pakai, tapi tantangan bagi seorang sarjana ilmu perpustakaan untuk bisa menyusun pola klasifikasi berdasarkan dokumen yang tercipta di perusahaan tersebut. Ironisnya di lapangan kerja, posisi untuk document controller, record manager banyak diisi oleh orang yang backgroundnya manajemen informatika, administrasi negara, sekretaris…Jadi sudah saatnya pendidik ataupun calon/ sarjana ilmu perpustakaan melepas kacamata kudanya…teori-teori bidang perpustakaan “belum jadi dan belum selesai”…coba explore di sekeliling kita, jangan hanya nongkrong di lab…selamat meneliti.

  2. maba ilmu perpustakaan 2010 said

    saya tahun ini telah diterima di jurusan ilmu perpustakaan sebuah universitas negeri di depok. namun saya masih bingung seperti apa nantinya karir saya setelah menamatkan pendidikan tersebut? bagaimana taraf kesejahteraannya? dan negara mana yang bisa saya jadikan tujuan jika nantinya saya berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang s2? saya mohon pencerahan dari pak Putu atau rekan-rekan alumni jurusan ilmu perpustakaan ataupun siapa saja yang bisa mencerahkan saya.
    terimakasih
    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: