Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Dapat Teman, Dapat Informasi

Posted by putubuku pada Juni 3, 2008

Menjadi ‘aktivis’ di mailing list atau menghabiskan waktu dengan chatting terkadang menimbulkan kesan negatif. Apalagi ada stigma bahwa Internet adalah tempat orang-orang berleha-leha atau menikmati ‘yang enggak-enggak‘. Pornografi dan cybercrime menambah seram gambaran tentang Internet, dan hiruk-pikuk provokasi informasi di dunia virtual ini membuat orang cepat mengaitkan Internet dengan hal-hal negatif. Padahal, sebaliknya dari itu Internet adalah sebuah ruang maha luas bagi jutaan komunitas.

Biasanya kita menggunakan istilah ‘komunitas online‘ (online community) untuk himpunan manusia di Internet. Dalam kamus, ‘online community’ diartikan secara luas dan sempit, seperti ini:

  1. A generic reference to the Internet at large.
  2. A specific reference to Web sites where people congregate online to discuss a subject or to introduce themselves for possible meeting in person.

(lihat: http://www.pcmag.com/encyclopedia_term/0,2542,t=online+community&i=55986,00.asp)

Ada juga yang menggunakan istilah “virtual community” dengan definisi:

Frontierless, geographically dispersed community of people and organizations connected via internet or other networks. Also called online community or web community. virtual community is in the Internet & World Wide Web subject. 

(lihat: http://www.businessdictionary.com/definition/virtual-community.html)

Di dalam online communities para pesertanya saling bertukar informasi dan dari pertukaran ini seringkali muncul informasi-informasi baru yang tampaknya semakin lama semakin ‘kaya’. Beberapa penelitian di bidang informasi mulai rajin menyimak perkembangan tabiat manusia ketika menjadi anggota komunitas maya ini. Terutama, yang paling menarik untuk dipahami adalah bagaimana para anggota sebuah komunitas memanfaatkan akses online untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Asumsinya, jika seseorang mau bergabung dan ikut aktif dalam sebuah komunitas online, tentu ada hal-hal yang bermanfaat baginya, khususnya dalam kaitan dengan pemanfaatan informasi. Bagaimana sebenarnya orang-orang itu menarik keuntungan dari bergabung dengan komunitas online? Itulah persoalannya!

Salah satu model yang digunakan untuk penelitian komunitas ini adalah Heuristic-Systematic Model of Information Processing sebagaimana yang digunakan Wei dan Watts (2008). Bagi kedua peneliti ini, komunitas online adalah: “communities that focus on facilitating information sharing between their members“. Mereka berpendapat bahwa ada dua faktor yang ikut menentukan apakah seseorang akan memanfaatkan komunitas maya untuk menerima atau mengambil informasi baru. Pertama adalah seberapa konsisten informasi baru tersebut dengan hal-hal yang sedikit-banyaknya sudah diketahui sebelumnya oleh seseorang. Kedua, seberapa aktif seseorang mengungkapkan kebutuhannya akan sebuah informasi spesifik ketika ia berkomunikasi dengan sesama anggota komunitas.  Penelitian Wei dan Watts sebenarnya menegaskan bahwa proses penerimaan dan pengambilan informasi selalu bersifat kontekstual, selain juga berkaitan dengan canggih-tidaknya fasilitas yang tersedia di komunitas tersebut. 

Penelitian tentang perilaku informasi di dalam komunitas online ini relevan untuk kajian-kajian tentang budaya berbagi pengetahuan yang banyak dilakukan di bidang knowledge management. Asumsinya adalah, jika komunitas online memang bertahan hidup dalam jangka waktu lama, tentu keberadaan komunitas ini bermanfaat bagi para anggotanya. Jika memang anggota komunitas itu saling bertukar informasi, tentu dapat pula bertukar dan berbagai pengetahuan. Atas dasar asumsi ini maka organisasi-organisasi bisnis mulai serius memperhatikan perkembangan komunitas online di antara pegawai mereka. Selain membentuk komunitas internal antar-pegawai, juga muncul kegiatan membentuk komunitas yang melibatkan klien atau konsumen untuk memperlancar layanan produk. 

Salah satu karakteristik komunitas online yang menarik untuk diteliti lebih jauh adalah kemampuannya untuk menjadi semacam penghimpun dan penyimpan informasi (information repositories) bagi para anggotanya. Dari sisi pandang kepustakawanan, maka perilaku komunitas ini menarik untuk diikuti, untuk melihat apakah para anggota akhirnya memerlukan semacam aturan dan tata-cara penyimpanan informasi. Jika para pustakawan atau pengelola sistem informasi dapat berperan di komunitas online, maka sebenarnya akan banyak sekali manfaat yang dapat dihasilkan bagi para anggota komunitas tersebut. Informasi yang sliweran di komunitas tersebut dapat dihimpun secara sistematis dan digunakan kembali bila mana perlu.

Berkaitan dengan isyu tentang simpan-menyimpan informasi tersebut,  menarik pula untuk dikaji lebih lanjut: bagaimana para anggota komunitas online menentukan nilai informasi; bagaimana mereka menetapkan mana informasi yang “baik” dan mana informasi yang “buruk”; mana informasi yang perlu disimpan karena bernilai tinggi, dan mana informasi yang sifatnya sambil-lalu saja sehingga tak perlu disimpan. Seringkali sebuah komunitas online terdiri dari orang-orang yang belum pernah bertemu muka. Bagaimana orang-orang ini membangun kesepakatan tentang nilai-nilai informasi, menarik sekali untuk diteliti.

Para peneliti tentu harus pula memperhatikan karakterisitik komunitas online yang akan sangat memengaruhi pola komunikasi informasi antara anggotanya. Jelaslah bahwa komunitas yang bercokol di Internet pada umumnya berciri “minimum level of interactivity” sebab para anggota sangat jarang bersama-sama online dalam jumlah besar. Ketika seseorang mengirim (posting) informasi, ia tidak bisa berharap bahwa akan segera ada balasan dari anggota yang lain. Sebuah komunitas online pada umumnya juga berciri “minimum level of sustained membership” sebab keanggotaan mereka tidak bersifat wajib dan masing-masing anggota tidak merasa harus selalu menyatakan kehadirannya. Selain itu, ada kesan “common-public-space” yang amat kental di sebuah komunitas online, sehingga kesan “bebas” lebih kuat daripada kesan “teratur”. Ini tentu akan sangat memengaruhi cara, frekuensi, dan intensitas komunikasi para anggotanya.

Selain memperhatikan karakteristik komunitas online, para peneliti tentu juga perlu memperhatikan proses kognitif yang terjadi di masing-masing anggota sebagai individu. Faktor kognisi ini akan memengaruhi bagaimana sebuah informasi diterima atau ditolak oleh seseorang. Dalam penelitian oleh Wei dan Watts, fokus perhatiaan diarahkan ke apa yang disebut “information adoption” alias adopsi informasi, atau bisa disebut penerimaan seseorang terhadap sepotong informasi tertentu. Adopsi ini terutama ditentukan oleh dua hal: seberapa bermakna informasi tersebut bagi seseorang, dan seberapa mudah orang tersebut melakukan validasi terhadap isi informasi. Proses adopsi ini dilakukan di tingkat individual, dan para peneliti sangat tertantang untuk mengungkapkan, bagaimana proses di tingkat individu ini dipengaruhi (dan mempengaruhi) kondisi komunitas online.

Kita dapat menduga, seseorang akan memanfaatkan komunitasnya untuk keperluan menguji validitas sebuah informasi. Misalnya, ini terjadi ketika seseorang melemparkan sebuah isu ke sebuah mailing list dan kemudian mengamati reaksi sesama anggota. Dari reaksi sesama anggota itu, dapat dilihat seberapa “sahih” kandungan informasi yang ada di isu yang dilemparkan seorang anggota. Dari keikutsertaan di sebuah mailing list pula, seseorang dapat mempersoalkan makna sebuah informasi. Misalnya, ketika seorang anggota menanyakan sebuah istilah, seringkali tanggapan-tanggapan dari anggota lain akan beragam, lalu akan muncul diskusi untuk menambah kejelasan.  

Ada banyak sekali topik yang dapat berkembang dari isu tentang pemanfaatan komunitas online dalam konteks perilaku informasi. Beberapa penelitian dan aplikasi yang menarik untuk dilihat, misalnya, adalah:

Begitu beragam persoalan dan dinamika komunitas di Internet ini, sehingga rasanya mustahil jika para peneliti bidang perpustakaan dan informasi kehabisan topik penelitian🙂

 Bacaan:

Wei, z. dan, Watts, S.A (2008). “Capitalizing on Content: Information Adoption in Two Online communities” dalam Journal of the Association for Information Systems. Vol. 9, no. 2; hal. 73 – 95.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: