Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Modal Sosial, Ongkos Informasi

Posted by putubuku pada Mei 24, 2008

Bicara tentang “modal” (capital) tentu saja bukan cuma bicara duit sebagai “modal usaha” dalam omongan sehari-hari, tetapi juga modal pengetahuan dan modal sosial (social capital). Berbeda dari modal dalam bentuk uang yang mudah dilihat (dan mudah dihitung!), modal sosial lumayan terselubung dan terwujud dalam berbagai kegiatan atau aktivitas yang tidak seragam. Apalagi jika kita ingin melihatnya secara lebih rinci, ternyata modal sosial ini cukup rumit walaupun sebenarnya terjadi sehari-hari di sekitar kita.

Sebenarnya ada dua macam modal sosial, sebagaimana diulas oleh McElroy, Jorna dan Engelen (2006), yaitu modal sosial yang psiko-sentris, dan modal sosial yang sosio-sentris. Modal psiko-sentris berbentuk kemampuan seseorang dalam memanfaatkan jaringan atau relasi sosial untuk melakukan sesuatu. Istilah sehari-harinya, orang yang punya modal sosial psiko-sentris ini adalah “orang gaul”, pergaulannya luas, banyak teman, suka nraktir (dan ditraktir)🙂, dan pandai memanfaatkan hubungannya untuk memperlancar urusan. Kadang bentuk kemampuan ini dilihat secara rada sinis, karena orang yang memilikinya cenderung terlihat suka berkolusi dan pandai “memanfaatkan teman”. Padahal seringkali kemampuan bergaul ini bersifat positif dan memang diperlukan di segala bidang (tidak hanya bisnis atau politik).

Modal sosial akan tampak lebih “netral” jika kita melihatnya sebagai modal yang sosio-sentris. Dalam bentuk sosio-sentris, modal ini terlihat sebagai sebuah tindakan kolektif yang di dalamnya mengandung hubungan-hubungan pribadi. Misalnya, modal sosial ini sering terucapkan secara bercanda dalam kata-kata “Bersatu kita teguh, bercerai kita… kawin lagi!”🙂 Maksudnya adalah betapa penting bagi sebuah komunitas untuk bertindak secara kolektif, dan tindakan kolektif ini kemudian dapat dimanfaatkan (atau istilah kerennya: diapropriasikan) oleh seseorang yang memerlukannya, baik dalam bentuk organisasi atau sistem sosial itu sendiri. Pemanfaatan ini menimbulkan keberuntungan (baik keberuntungan finansial maupun keberuntungan lain) bagi orang itu maupun bagi sesama anggota komunitas yang lain. Kita sering bilang, “Elu untung, gue untung.. sama-sama senang, lah!”

Kalau kita mengabaikan perbedaan antara psiko-sentris dan sosio-sentris di atas, sebenarnya segala bentuk modal sosial terdiri dari 5 komponen penting:

  1. Trust. Fukuyama mendefinisikan trust sebagai “the expectation that arises within a community of regular, honest, and cooperative behavior, based on commonly share norms, on the part of other members of that community” (Fukuyama, 1995, hal. 26). Sementara Ostrom dan Ahn (2003), menggambarkan trustworthiness sebagai nilai yang tertanam dalam diri (intrinsic values) dan motivasi dalam diri (intrinsic motivation) seseorang untuk selalu bertindak secara kooperatif, selalu bekerja sama. (hal. xix). Pendek kata, istilah “trust” di sini berhubungan dengan kejujuran dan kerjasama yang ada di antara orang-orang dalam sebuah komunitas.
  2. Beliefs. Menurut Coleman (1990) sebuah komunitas manusia selalu perlu kepercayaan bersama (shared beliefs) sebagai “bahan bakar” penting bagi tindakan kolektif. Secara khusus beliefs ini sangat erat berkaitan dengan alur informasi dalam sebuah jaringan. Coleman mengatakan bahwa segala hal yang dipercaya oleh sebuah komunitas selalu berkaitan dengan segala informasi yang masuk ke, dan keluar dari, komunitas itu. Lalu, menurut Adler dan Kwon, nilai shared belief dalam modal sosial ini menciptakan semacam kenyamanan bagi para anggota komunitas untuk saling bertukar pikiran (ide) dan secara bersama-sama memahami dunia sekeliling mereka. Berdasarkan beliefs ini pulalah sebuah komunitas membangun semacam “dunia ide” bersama (Lesser, 2000).
  3. Norms. Menurut Coleman, sebuah norma selalu “specify what actions are regarded by a set of persons as proper or correct, or improper or incorrect” (1990, hal. 242). Dengan kata lain, sebuah norma menentuka apa yang baik dan apa yang buruk. Norma ini kemudian diekspresikan dalam bentuk bahasa formal maupun informal sebagai semacam kebijakan, sehingga semua orang yang memiliki norma ini harus menyadari keberadaan dan isi kebijakan tersebut. Maka itu, norma hanya akan muncul jika ada komunikasi dan keberadaannya bergantung pada komunikasi yang reguler. Elinor Ostrom (2005) membedakan norma dari peraturan dengan melihat sintaksis kalimatnya. Baik norma maupun peraturan sama-sama merupakan pernyataan tentang apa yang boleh dilakukan, tetapi “peraturan” mengandung penegakan (enforcement). Sebuah peraturan juga mengandung kata “JIKA TIDAK” yang diikuti dengan sangsi. Jadi, “norma” terkesan lebih lunak daripada peraturan (rules).
  4. Rules. Menurut Coleman, “social capital requires investment in the designing of the structure of obligations and expectations, responsibility and authority, and norms (or rules) and sanctions which will bring about an effectively functioning organization” (1990, hal. 313). Sedangkan menurut Putnam, di dalam setiap “peraturan” di sebuah komunitas, terkandung asas resiprokal (berbalasan) dan harapan (ekspektansi) tentang tindakan-tindakan yang patut dilakukan secara bersama-sama. Melalui peraturan-peraturan inilah setiap anggota komunitas menata tindakannya. (hal. 178-179). Ostrom dan Ahn (2003) menyatakan: “Rules are the results of human beings’ efforts to establish order and increase predictability of social outcomes […] therefore a rule of law, a democratic atmosphere, and a well-structured government (if these exist) are valuable social capital for any society”.
  5. Networks. Sebagaimana dikatakan Putnam, pemikiran dan teori tentang modal sosial memang didasarkan pada kenyataan bahwa “jaringan antara manusia” adalah bagian terpenting dari sebuah komunitas. Jaringan ini sama pentingnya dengan alat kerja (disebut juga modal fisik atau physical capital) atau pendidikan (disebut juga human capital). Secara bersama-sama, berbagai modal ini akan meningkatkan produktivitas dan efektivitas tindakan bersama. (Putnam, 2000, hal. 18-19).

Dari penjabaran ilmiah tentang 5 komponen di atas, kita sebenarnya dapat melihat modal sosial sehari-hari sebagai bentuk kebersamaan yang di pemerintahan sering jadi slogan “bersama kita bisa” dan yang sering diplesetkan menjadi “bersama kita bisa…. tetapi bisa apa ya?” [diucapkan dengan nada bingung!] atau “bersama kita berbisa”🙂

Modal sosial juga mudah terlihat sebagai sebuah kekompakkan sosial atau sebuah solidaritas sosial atau semangat bergotong royong, walau yang terakhir ini jadi kelihatan “maksa” kalau diubah menjadi mobilisasi atau gerakan sosial yang dilakukan oleh satu kelas elit di masyarakat. Mobilisasi seringkali mengesankan ada satu kelompok yang digerakkan oleh kelompok lain. Modal sosial sebenarnya bukan “siapa menggerakkan siapa”, melainkan “bersama-sama bergerak”.

Lalu apa hubungannya semua ocehan ini dengan “informasi” dan “pengetahuan”?

Kalau kita lihat butir 2 di atas, kata “informasi” disebut secara eksplisit sebagai semacam sarana untuk memelihara kepercayaan (beliefs) dan menyalurkan ide tentang hal-hal yang dipercaya oleh sebuah komunitas. Sebagian dari informasi yang masuk ke dalam sebuah komunitas seringkali disimpan secara baik-baik karena mengandung ide penting yang berkaitan dengan hal-ha yang dipercaya oleh sebuah komunitas. Perpustakaan, pusat dokumentasi, atau pusat arsip sebenarnya adalah fungsi-fungsi “simpanan ide dan kepercayaan” komunitas. Simpanan informasi ini kemudian bisa disebut sebagai “pengetahuan eksplisit bersama” (explicit common knowledge) yang akan dibaca dan dicerna oleh anggota-anggota komunitas, lalu dijadikan panduan bertindak.

Secara lebih tersembunyi (tacit) ada juga pengetahuan yang terkandung di dalam butir 1 (trust) di atas. Jika kita menjadi anggota dari sebuah komunitas, maka di dalam pikiran kita seringkali ada semacam keyakinan bahwa rekan yang lain (sesama anggota komunitas) akan berbuat baik atau melakukan sesuatu yang bermanfaat, serta mau bekerjasama untuk mewujudkan manfaat. Kalau pengetahuan tacit yang berisi harapan dan keyakinan ini dikomunikasikan antar sesama anggota komunitas, maka terjadilah pertukaran informasi. Pengetahuan yang tadinya tersembunyi (tacit) berubah menjadi eksplisit, keluar dari persembunyiannya.

Pertukaran informasi ini akan lancar, mulus, tanpa hambatan di dalam sebuah jaringan (network) yang mengandung norma dan peraturan yang sudah disepakati dan diaati bersama. Perpustakaan, pusat dokumentasi, sistem informasi, atau sistem rekod merupakan bagian utuh dari jaringan ini. Di dalam jaringan ini memang terdapat alat-alat fisik atau teknologi-sempit seperti kabel, komputer, bangunan, dan sebagainya. Selain itu, jaringan fisik ini juga dilengkapi dengan sumberdaya manusia (human capital). Namun tentu saja jaringan fisik dan jaringan manusia ini akan jadi jaringan mati, jika di dalamnya tidak ada roh (soul) berupa trust, ide, pikiran bersama, norma, peraturan, dan tindakan kolektif.

Nah… sekarang mudah-mudahan terlihat bahwa modal sosial memang berkaitan dengan informasi dan pengetahuan. Lalu juga terlihat bahwa modal sosial langsug berkaitan dengan “ongkos informasi”. Mengapa kita menyebut “ongkos informasi”? Sebab kita memang perlu ongkos (biaya, baik dalam bentuk uang, energi, maupun waktu) untuk “memelihara” keberlangsungan proses menyimpan, mengkomunikasikan, mendiskusikan, menyebarkan, mempelajari, memahami informasi yang mengandung ide dan pengetahuan itu.

Begitulah kira-kira

Rujukan

Adler, P.S dan Kwon, S. (2000), “Social capital: the good, the bad, and the ugly” dalam Lesser, E.L. (editor) Knowledge and Social Capital: Foundations and Applications, Butterworth-Heinemann, Burlington, MA, hal. 89 – 115.

Coleman, J.S. (1990), Foundations of Social Theory, Belknap Press, Cambridge MA.

Coleman, J.S. (1993), “The rational reconstruction of society” dalam American Sociological Review vol 58, pp. 1 – 15.

Fukuyama, F. (1995) Trust: the Social Virtues and the Creation of Prosperity, Free-Press Paperbacks, New York, NY.

Fukuyama, F. (1997), “Social capital and the modern capitalist economy: creating a high trust workplace” Stern Business Magazine, vol. 4 no. 1.

McElroy, M.W., Jorna, R.J dan van Engelen, J. (2006), “Rethinking social capital theory: a knowledge management perspective” dalam Journal of Knowledge Management, vol 10 no 5 p. 124 – 136.

Putnam, R. (1993), Making Democracy Work: Civic Traditions in Modern Italy, Princeton University Press, Princeton, NJ.

Putnam, R. (1995), “Bowling alone: America’s declining social capital” dalam Journal of Democracy, vol 6, hal. 65-78.

Putnam, R. (2000), Bowling Alone, Simon and Schuster, New York, NY.

3 Tanggapan to “Modal Sosial, Ongkos Informasi”

  1. Subhan said

    Tulisan Pak Putu tentang modal sosial yang pertama kali saya baca berjudul “Modal Sosial, Inklusi Sosial dan Perpustakaan Umum”.

    Baru-baru ini, makalah itu saya jadikan rujukan atau lebih tepatnya saya jadikan sebagai perspektif, ketika saya mencoba membuat sebuah bahan presentasi mengenai perpustakaan yang saya lihat sebagai ruang publik yang berpotensi untuk menanggulangi kemerosotan modal sosial. Tapi saya gagal menuliskannya🙂

    Saya membaca lagi tulisan mengenai modal sosial ini, setelah saya merawak situs IFLA, khususnya bagian prosiding konferensi tahun ini. Di situ saya menemukan makalah yang sangat berharga bagi saya, makalah tentang modal sosial dan perpustakaan umum.

    http://www.ifla.org/IV/ifla74/papers/091-Varheim-en.pdf

    Saya menjadi bersemangat untuk membaca lagi kajian tentang perpustakaan umum yang dikaitkan dengan modal sosial, demokrasi, dan ruang publik yang selama ini masih sulit untuk saya pahami.

  2. putubuku said

    Subhan, betul bahwa modal-sosial dapat segera dikaitkan dengan ruang publik dan perpustakaan umum. Adapun artikel ini lebih merupakan keinginan mengaitkan antara modal sosial dan informasi dan jaringan. Tentu saja, semua aspek ini ada di fenomena yang kita sebut sebagai “perpustakaan umum” itu.

  3. Made Yogiswara said

    Pak putu, saya sedang membuat tulisan kualitatif menggunakan teori modal sosial, bila saya bole berkonsultasi mengenai teori ini tolong d balas ke email saya, terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: