Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Teori Kritis dalam Kepustakawanan

Posted by putubuku pada Mei 12, 2008

Trosow (2001), melakukan kritik keras terhadap Ilmu Perpustakaan dan Kepustakawanan. Ada tiga hal yang menurutnya selama ini menghantui Kepustakawanan. Pertama, kepustakawanan yang didukung oleh industri informasi tidak sungguh-sungguh memperhatikan kepentingan pemakai, tetapi justru mengarah kepada upaya menanggalkan kemampuan (disempowerment) pemakai agar mereka bergantung kepada industri informasi. Kedua, Kepustakawanan diam-diam mengabaikan penggunaan ilmu dengan alasan bahwa Kepustakawanan adalah masalah teknis-prosedural. Ketiga, Kepustakawanan justru mengaburkan potensi peran yang dapat dimainkan pustakawan dalam rekayasa sosial atau teori sosial dengan menyebarkan ilusi tentang ‘netralitas’.

Khusus mengenai hal ketiga di atas, kita mungkin perlu merujuk ke pandangan Morrow dan Brown (1994) yang membedakan rekayasa sosial (social engineering) dari teorisasi sosial (social theorizing).  Upaya rekayasa sosial adalah upaya ilmuwan sosial untuk ikut berperan dalam perubahan masyarakat lewat metodologi ilmiah. Upaya teorisasi sosial lebih berupa upaya memahami masyarakat tetapi kemudian juga ingin berperan mengubah struktur sosial. Pustakawan, menurut Trosow, seharusnya memahami masyarakat di mana mereka berada, lalu bersama-sama masyarakat mengubah keadaan hidup mereka. 

Ketiga ‘hantu’ Kepustakawanan di atas, menurut Trosow, harus dilawan yaitu dengan menempatkan ilmu perpustakaan dan informasi pada posisi epistemologi titik-pandang (stand-point epistemology). Posisi ini menempatkan pustakawan sebagai pemerhati isu-isu nyata di masyarakat. Misalnya, ilmu perpustakaan dan informasi harus melihat kenyataan bahwa ada konflik, kesenjangan dan keterasingan dalam hal sistem dan industri informasi. Dari sini, Trosow menganjurkan agar ilmuwan perpustakaan dan informasi menegaskan posisi mereka dan ikut berupaya dan berpartisipasi dalam mengatasi masalah-masalah sosial tersebut.

Sudah barang tentu, sebagaimana diakui penulisnya, pandangan dan anjuran Trosow di atas sangat berciri Teori Kritis. Dalam hal ini, Trosow tidak sendirian, karena Benoit (2002) juga menganjurkan hal yang sama ketika membahas kemungkinan penggunaan teori tindakan komunikatif (communicative action) karya Jurgen Habermas dalam ilmu perpustakaan dan informasi. Teori Habermas ini tentu saja sangat dipengaruhi pandangan Teori Kritis atau Sekolah Frankfurt yang menolak positivisme dan anti-kemapanan yang dibangun oleh ilmu-ilmu positivis. Pada intinya teori tindakan komunikatif menyatakan adanya situasi ideal (ideal speech situation) yang memungkinkan manusia melakukan komunikasi secara terbuka dan setara sebagai basis bagi terciptanya kesungguhan (sincerity), kejujuran (truthfulness) dan interaksi yang intelektual (intelligibility).

Melalui pemahaman tentang teori ini, Benoit menganjurkan agar ilmu perpustakaan dan informasi memfokuskan diri pada kajian tentang sistem kepercayaan (belief system) dan kesepakatan untuk berinteraksi yang ada pada diri para pemakai sistem informasi. Lewat penggunaan teori tindakan komunikatif Habermas pula, dapat dilakukan pemeriksaan apakah antara pemakai sistem dan perancang sistem telah ada situasi ideal.

Melalui Teori Kritis, Trusow dan Benoit mengajak Ilmu Perpustakaan dan Informasi secara jelas dan kongkrit memihak kepada bagian dari masyarakat pemakai informasi yang selama ini terbengkalai. Dengan demikian tidak saja mereka menolak netralitas, sebagaimana dilakukan para penganjur epistemologi lainnya, tetapi juga menetapkan pilihan keberpihakan secara jelas.

Posisi keberpihakan ini sebenarnya tidak sulit ditemui dalam praktek kepustakawanan kalau kita memeriksa, misalnya, sejarah perkembangan perpustakaan umum. Di berbagai negara, perpustakaan umum berkembang sebagai bentuk keberpihakan kepada anggota masyarakat yang kehilangan akses kepada informasi. Dalam retorika tentang perpustakaan umum di Amerika Serikat, tidak sulit menemukan pandangan yang mengaitkan perpustakaan dengan demokrasi dan penghapusan kesenjangan informasi. Di negara-negara berkembang, Manifesto Perpustakaan Umum (Public Library Manifesto) UNESCO menjadi dasar penyediaan jasa yang memihak kepada kaum tak berpunya. Justru sebaliknya sangat sulit mencari pandangan yang netral dalam praktik-praktik perpustakaan . Namun keberpihakan ini justru hilang ketika ilmu perpustakaan dan informasi mengkaji masalah-masalah di bidang informasi dengan alasan profesi pustakawan dan informasi memerlukan dasar-dasar ilmu yang netral. Paradoks seperti inilah yang diangkat oleh para pengritik dan dijadikan jawaban terhadap pertanyaan mengapa kepustakawanan terasa semakin terpisah dari masyarakatnya.

Bagi yang berminat pada Teori Kritis yang diterapkan dalam praktik perpustakaan, silakan tengok:

  1. http://www.webpages.uidaho.edu/~mbolin/doherty-ketchner.htm (penggunaan Teori Kritis dalam literasi informasi)
  2. http://informationr.net/ir/12-4/colis/colis30.html (artikel Benoit)
  3. http://www.wwwords.co.uk/pdf/viewpdf.asp?j=pfie&vol=4&issue=1&year=2006&article=9_Pyati_PFIE_4_1_web&id=58.175.117.11 (penerapan Teori Kritis, terutama teori Marcuse)

Bacaan:

Benoit, G. (2002), “Toward a critical theoretic perspective in information systems, dalam The Library Quarterly vol. 72 no. 4, hal. 441 – 471

Morrow, R.A. dan Brown, D.D. (1994), Critical Theory and Methodology Thousand Oaks : Sage Publications.

Trosow, S.E. (2001), “Standpoint epistemology as an alternative methodology for library and information science” dalam Library Quarterly, vol. 71 no. 3, h. 360-382.

2 Tanggapan to “Teori Kritis dalam Kepustakawanan”

  1. prita said

    ehm,ini juga yg jadi keresahan sy ne..memang qt ga menafikan perkembangan teknologi yg terus2an mengglobal, cuma sy pribadi jg lbh sepakat bahwa teknologi yang ikut mempengaruhi dinamika distribusi informasi saat ini, termasuk perpustakaan, harus berjalan beriringan dengan karakter sosial budaya yg berlaku di wilayah tersebut. Sehingga manusia tidak benar-benar hilang.kl qt mengkondisikan perpustakaan indonesia benar2 humanless, waduh rasanya koq kurang pas, budaya kita jauh banget ma budaya orang2 di luar sana yg sudah information minded…Sampai kapapun, pendekatan yg manusiawi menurut sy koq lebih menggigit, tentunya jg ga gaptek2 banget lah…

  2. aLee said

    saya sih lebih cenderung pada dalam apa yang dikemukakan Trusow dan Benoit yang mengajak Ilmu Perpustakaan dan Informasi secara jelas dan kongkrit memihak kepada bagian dari masyarakat pemakai informasi yang selama ini terbengkalai.akan tetapi harus pula dilihat pangsa pasar dari perpustakaan tersebut sehingg konsep dan layanan yang akan dilaksanakan sesuai dengan apa yang di butuhkan masyarakat pemakainya ( user need ) dan kebutuhan informasinya ( information need ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: