Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Menengok ke Kibernetika

Posted by putubuku pada Mei 8, 2008

Sehari-hari, kita sekarang sudah sangat akrab dengan istilah-istilah ‘proses’ atau ‘pengolahan’ yang langsung kita asosiasikan dengan ‘masukan’ dan ‘luaran’ sebagai bagian dari sebuah ‘sistem’. Kita juga memakai kata ‘kendali’ atau ‘kontrol’ dan mengaitkannya dengan ‘komando’ atau ‘perintah’. Demikian pula kata ‘tujuan’ atau ‘sasaran’ yang kita kaitkan dengan ‘kinerja’. Kata-kata itu juga bertaburan di dunia perpustakaan dan informasi. Bukanlah hal yang asing kalau kita bicara tentang ‘pengolahan dokumen’ (document processing) atau ‘kinerja sistem’ (system performance). Sehari-hari kita juga menggunakan istilah ‘kosakata terkendali’ (controlled vocabulary) atau ‘perintah’ (command) dalam pembicaraan tentang sistem simpan dan temu-kembali.

Kapan sebenarnya kita pada awalnya menggunakan kata-kata itu?

Istilah-istilah tersebut menjadi perhatian para akademisi pada tahun 1940an dan 1950an. Di masa itu, ilmuwan mulai serius mengutak-atik istilah di atas melalui serangkaian seminar yang diselenggarakan Macy Foundation dengan tajuk Circular Causal and Feedback Mechanisms in Biological and Social Systems. Berbagai ilmuwan dari berbagai bidang ikut terlibat dan mengajukan berbagai pikiran. Tercatat misalnya, McCulloch, Norbert Wiener, Gregory Bateson, Margaret Mead, dan Ross Asbhy.

Para pemikir dan akademisi dan pihak yang menyelenggarakan seminar Macy itulah yang pada awalnya mulai mempopulerkan sebuah disiplin yang diberi nama cybernetics, mengambilnya dari bahasa Yunani, kybernetes (yang berarti steersman alias pengendali atau mungkin juga dapat diterjemahkan sebagai nakoda atau supir). Pada 1948, Wiener menerbitkan karya klasik Cybernetics:  Control and Communication in the Animal and Machine, dan seminar Macy pun diberi judul Conferences on Cybernetics, dan cybernetics pada awalnya disebut ‘art and science’ dan yang berkaitan dengan ‘pengaturan’ (governance)  sistem manusia.

Salah satu penggerak seminar Macy, Ross Ashby, mendefinisikan cybernetics sebagai kajian tentang segala bentuk mesin atau ‘all possible machines’. Kata ‘mesin’ di sini merujuk ke segala entitas yang mengandung mekanisme tertentu, termasuk di dalamnya mekanisme biologis. Dalam bukunya, An Introduction to Cybernetics, Ashby menggunakan notasi set theory untuk menggambarkan berbagai konsep seperti perubahan, stabilitas dan regulasi dalam sistem yang rumit (complex systems). Salah satu formulasi sederhana tetapi amat ampuh yang merupakan inti dari cybernetics adalah konsep ‘proses’ dan ‘produk’. Kedua konsep ini dapat diterjemahkan menjadi metodologi dan model, serta dapat diberlakukan di segala hal. Artinya, kibernetika melakukan klaim menyeluruh bahwa segala sesuatu  -termasuk manusia-  adalah sistem yang terdiri dari proses dan produk.

Buku asli Ashby ini sekarang dapat diperoleh dalam bentuk digital di http://pespmc1.vub.ac.be/ASHBBOOK.html. Di situs induknya, kita dapat pula menemukan berbagai buku yang merupakan pondasi kibernetika. Silakan tengok ke sana kalau Anda berminat.

Sejak awal kelahirannya, sebagai sebuah disiplin kibernetika memiliki dua ciri umum, yaitu:

  • Interdisipliner, sebagai bahasa induk alias lingua franca antar disiplin. Ambisi kibernetika adalah menghimpun berbagai disiplin untuk menggunakan model yang serupa, baik untuk kepentingan rekayasa (engineering), biologi, urat syaraf, ekonomi, psikologi, dan sebagainya. Semua bidang ini dapat membuat model tentang proses dan produk. Juga boleh menggunakan istilah yang sama. Misalnya ‘memory’ bisa dipakai dalam penyimpanan data maupun dalam biologi, dan ‘remembering’ di psikologi boleh dipakai sebagai ‘retrieval’ di ilmu informasi.
  • Transdisipliner, model dan terminologi kibernetika dihimpun menjadi konsep-konsep yang saling berkaitan, menjadi semacam ‘window of the world’. Menurut kibernetika, segala hal di dunia yang fana ini dapat dilihat sebagai fenomena yang mengandung ‘duet’, misalnya kendali & komunikasi, belajar & adaptasi, organisasi-diri & evolusi.  Otak mahluk hidup dan masyarakat dilihat sebagai sistem hirarkis dan heterarkis (heterarchical), baik yang berisi maupun tidak berisi pengendali umum. Semua proses di semesta ini dapat dianggap sebagai pararel, sinkron, atau non-sinkron.

Pengaruh pandangan kibernetika ini amat merasuk. Tidak terkecuali, Ilmu Perpustakaan dan Informasi juga ikut kerasukan. Baca saja halaman tentang ‘Interdisiplin’ di blog ini (https://iperpin.wordpress.com/interdisiplin/). Kentara sekali pengaruh kibernetika di situ, ya?!

Selain merasuki berbagai bidang, kibernetika tentu juga dirasuki banyak pikiran. Kita dapat mencatat pemikiran Alfred O. Korzybski yang mengusulkan teori ‘general semantics‘. Di dalam bukunya yang terkenal  Science and Sanity (1933, 1958, hal. 12), ia menulis

Language… represents the highest and lates physiological and neurological function of an organism. It is … uniquely human circular structure, to use a logical term – or a of spiral structure, to use a four dimensional or a physico-chemical-aspect term … In these processes an ‘effect’ becomes a causative factor for future effects, influencing them in a manner particularly subtle, variable, flexible, and of an endless number of possibilities. ‘Knowing’, if taken as an end-product, must be considered also as a causative psychopysiological factor of the next stage of the semantic response… This structural and functional circularity introduces real difficulties… Before we can be fully human…, we must first to know ho to handle our nervous responses  – a circular affair

Korzybski bersikukuh bahwa sistem apa pun di semesta ini sebenarnya mengandung ‘bahasa’ dan dengan demikian mengandung pula ‘semantik’. Bahasa ini ‘tertanam’ di dalam sistem fisik maupun syaraf yang menggerakkan sebuah organisme. Ciri khas dari bahasa ini adalah bentuknya yang melingkar (circular) atau spiral. Misalnya, bentuk melingkar itu terlihat kalau kita hendak mengartikan sebuah kata. Bahasa apa pun di dunia ini selalu mengartikan kata dengan kata lainnya, dan kalau kita ikuti terus artian itu, maka kita akan berputar-putar saja. Bukalah sebuah kamus. Kata ‘pohon’ diartikan dengan ‘tumbuhan yang berdahan’, dan kata ‘dahan’ lalu diartikan dengan ‘bagian dari pohon’. 

Sumbangan pandangan Korzybski juga amat berpengaruh dalam diskusi tentang makna, sebab itu teorinya disebut ‘teori umum tentang makna’. Teori ini membahas apa yang kita maksud dengan ‘mengetahui sesuatu’ (to know), apa yang dimaksud epistemologi, bagaimana mahluk menjadi tahu (the knower) dan apa saja yang bisa diketahui. Kelak teori inilah yang mendorong kelahiran apa yang dikenal dengan nama second-order cybernetics, yaitu kibernetika yang peduli tentang epistemologi pihak yang diobservasi (epistemology of the observer).

Jelas pula, pengaruh Korzybski amat kuat dalam Ilmu Perpustakaan dan Informasi, terutama dalam cara ilmu ini memandang data, informasi, dan pengetahuan. Beberapa artikel di blog ini sudah membahas pengertian ‘informasi’ dari berbagai sudut. Misalnya, Apa Sesungguhnya Sistem Informasi dan Terinformasi dan/atau Berpengetahuan. Nampak sekali bahwa pandangan-pandangan di kedua artikel itu dipengaruhi oleh kibernetika dan teori makna. Untuk bacaan lebih lanjut tentang pandangan-pandangan Korzybski, silakan tengok situs-situs ini:

Tidak berapa lama bertautan dengan kesibukan seminar Macy tentang kibernetika dan diskusi-diskusi oleh Korzybski tentang ‘makna’, seorang ilmuwan bernama Ludwig Von Bertalanffy mengusulkan sebuah teori tentang sistem. Kalau Korzybski bicara tentang makna dan sistem internal organisme, maka von Bertalanffy menekankan pada upaya pengembangan pengertian umum tentang sistem (general system theory atau sering disingkat GST) untuk menjelaskan bentuk dari sebuah sistem.  Dalam perkembangan selanjutnya, GST terus berusaha menjadi taksonomi bagi berbagai sistem. Di kalangan ilmuwan yang suka berdiskusi tentang GST atau ‘ilmu sistem’, kibernetik sering dianggap sebagai sub-disiplin tentang proses kendali dan komunikasi. Ada juga anggapan di awal, bahwa GST dan kibernetika sebenarnya sinonim. Ross Ashby menyimpulkan dengan kata-kata:

cybernetics might in fact be defined as the study of systems that are open to energy but closed to information and control – systems that are ‘information tight’ (Ashby, 1956).

Penting diperhatikan di sini penggunaan kata ‘informasi’ di ucapan Ashby tersebut. Ia memakai kata ‘informasi’ yang sedikit berbeda dari pengertian dalam ‘information processing’ (yang terakhir ini dianggap lebih menyoal data processing, transmisi data, dan transformasi dari satu pola data ke pola data lainnya). Pengertian ‘informasi’ Ashby juga berbeda dari pengertian Shannon & Weaver (pengukuran sebuah ‘pesan’), atau dari Stonier (ukuran tentang seberapa ‘tertata’-nya sebuah sistem).

Penggunaan istilah informasi oleh Ashby pada dasarnya sama dengan pengertian yang dipakai oleh tiga pemikir berikutnya, yaitu:

  • Bateson (1972) dalam aphorism-nya “Information is a difference that makes a difference
  • Konroski (1962), “Information cannot be separated from its utilisation”, dan
  • von Foerster (1970, 1973), “The environment contains no information; it is as it is”.

Dengan kata lain, menurut kibernetika atau GST, sebuah organisme atau sebuah sistem tidak ‘menerima informasi’ secara pasif sebagai sesuatu yang dikirim dari luar kepadanya. Sebuah organisme adalah sebuah circularly organised system alias sistem yang tertata secara melingkar (sesuai pandangan Korzybski). Artinya lagi, sebuah organisme selalu menginterpretasi atau memberi makna secara aktif terhadap sekelilingnya. Jika organisme ini melihat ada gangguan (pertubations), maka gangguan itulah yang dianggap bersifat informatif. Dalam definisi informasi seperti inilah kita lihat kemunculan salah satu konsep kunci yang mengarah ke second-order dan epistemology of the observer.

Seperti apa pandangan second-order cybernetics? Wah.. perlu artikel terpisah, nih🙂

 

2 Tanggapan to “Menengok ke Kibernetika”

  1. nanda said

    Bravo… selain bagus sungguh mengilhami saya untuk membagikan pengalaman saya walaupun saya tidak biasa menulis, menyelami dunia maya ini saja baru sekarang2.suatu kehormatan bagi saya klau pak Putu bersedia melihat wordpress saya walaupun baru sedikit isinya tapi saya telah berketetapan hati ingin terus mengembangkan paling tidak membagikan pengalaman saya seperti pak putu ini… mohon sarannya ya pak

  2. putubuku said

    Thanks Nanda.. terus aja nulis, nulis, dan nulis.. sambil terus juga perbaiki bahasa tertulisnya. Menurut salah satu tokoh blogger Indonesia, bikin blog itu perlu cinta. Saya nggak terlalu ngerti apa maksudnya🙂 tapi kira-kira “cinta” itu sama dengan “semangat” kale yaa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: