Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Ada Genre di Dokumen

Posted by putubuku pada Mei 2, 2008

Selama ini dalam dunia perpustakaan dan informasi, sudah ada kebiasaan memberlakukan kandungan dokumen sebagai isi yang mengandung subjek. Dalam konteks information retrieval, khususnya untuk pengindeksan, sebuah dokumen seringkali disari atau diperas isinya menjadi istilah indeks yang kemudian dianggap sebagai subjek dan ‘tentang apa’-nya (aboutness). Ini memang cara mudah untuk membuat perwakilan dokumen (document surrogate).

Padahal, sebuah dokumen mengandung hal lain selain subjek atau ‘tentang apa’-nya. Sebuah dokumen mengandung juga tujuan pembuatan, dan di balik tujuan mungkin saja ada maksud-maksud tertentu, baik terselubung maupun terang-terangan. Maksud atau motivasi pembuatan dokumen ini seringkali tak nampak kalau kita hanya menggunakan pendekatan subjek atau hanya menyarikan isi dokumen sebagaimana yang tertampak dalam bentuk teks. Kita perlu memeriksa genre dokumen untuk mengetahui maksud-tujuan di balik sebuah tulisan. Pendekatan genre ini kita pinjam dari kalangan bahasa dan sastra.

Sejak 1980an, dunia bahasa dan sastra memang semakin gemar membicarakan genre sebagai sebuah fungsi komunikasi yang mengandung tujuan (goal-directed atau purposive). Penekanan pada tujuan ini nampak jelas dalam salah satu definisi seorang ahli bahasa, J.R. Martin: Genres are how things get done, when language is used to accomplish them. Definisi ini kemudian dikembangkan lagi sehingga memperlihatkan bahwa sebuah genre sebenarnya dimiliki oleh sebuah komunitas sebagai semacam kesepakatan tentang bentuk dan cara berkomunikasi. 

Secara umum ada yang dapat dijadikan patokan atau ciri-ciri (atau model) dari sebuah genre, yaitu:

  1. communicative purpose; realised by
  2. move structure; realised by
  3. rhetorical strategies.

Kita ambil contoh sebuah buku sebagai salah satu bentuk dokumen. Semua buku pasti mengandung ‘tujuan komunikasi’, yang tentunya adalah tujuan komunikasi si pengarang. Tentu sulit menemukan tujuan ini, kecuali jika si pengarang dengan gamblang menjelaskannya di kata pengantar. Lebih sulit lagi menemukan tujuan ini dalam konteks sebuah komunitas yang ‘menyetujui’ kehadiran buku itu. Setiap buku, kita seharusnya tahu, selalu memerlukan kesepakatan untuk dapat terbit, setidaknya kesepakatan penerbit dan masyarakat yang nanti akan membaca buku itu. (Bentuk ironisnya: setiap buku juga dapat hadir tanpa kesepakatan, dan akhirnya dilarang oleh sebuah masyarakat). 

Jika kita bermaksud menemukan genre sebuah buku, maka akhirnya tak cukup hanya dengan membaca isinya (apalagi cuma membaca daftar isinya.. he he he). Kita perlu memeriksa siapa pengarangnya, dari mana asalnya, apa latarbelakang pemikirannya, dan apakah ia punya kelompok tertentu yang memiliki pandangan dan tujuan-tujuan yang sama. Seringkali, untuk melakukan ini, kita harus membaca beberapa buku dari pengarang yang sama, selain buku-buku lain yang terkait dari pengarang berbeda. Dalam penelitian bahasa dan sastra, orang menggunakan kajian wacana (discourse analysis) untuk memahami sebuah genre.

Tujuan penulisan sebuah buku mengandung pula syarat-syarat penyampaian yang berbentuk struktur tulisan. Artinya, sebuah buku selalu mengandung tata-cara penulisan yang terstruktur dan disepakati oleh komunitas genre yang bersangkutan. Fenomena chicklit , misalnya, menunjukkan sebuah genre yang mengandung tujuan-tujuan penulisan, selain juga pola penulisan, dan urutan penuturan.

Lebih jauh lagi, sebuah genre juga memiliki gaya penuturan atau style yang khas sebagai bagian dari strategi penyampaian pernyataannya. Ini biasa disebut strategi retorika. Buku atau tulisan yang ber-genre sama akan cenderung menggunakan sytle yang serupa. Beberapa genre bahkan mudah dikenali karena sudah sangat sering muncul. Misalnya, kalimat “aduk merata dan biarkan selama 5 menit dengan api kecil” dapat diperkirakan merupakan teks resep masakan. Atau, kalimat “barangsiapa dengan tujuan memperkaya diri sendiri memanfaatkan kedudukannya..” dapat diperkirakan merupakan teks dari bidang hukum.

Dalam sastra dan jurnalistik, tentu saja genre tidak harus berarti keseragaman yang kaku. Kreativitas penulis seringkali menyebabkan kesamaan-kesamaan di atas (terutama dalam hal struktur semantik dan style), terbatas pada hal yang umum saja. Artinya, walaupun beberapa penulis bergabung dalam satu genre, tetapi setiap penulis dapat saja menampilkan ciri unik dirinya. Walaupun genre cerita detektif, misalnya, selalu memperlihatkan pola cerita yang serupa, namun ada perbedaan antara PD James dan Philip Kerr yang menyebabkan keduanya menonjol sebagai penulis.

Para pengelola perpustakaan dan institusi informasi yang menyimpan berbagai bentuk dokumen dapat memanfaatkan pengetahuan tentang genre ini untuk temu kembali. Selain itu, kegiatan keberaksaraan (literasi) informasi juga dapat memasukkan pengenalan tentang genre ini sebagai salah satu bentuk kemampuan memahami dunia informasi. Di tengah arus deras informasi digital saat ini, pengetahuan tentang genre ini juga semakin bernilai strategis. Kita dihadapkan pada begitu banyak informasi, sehingga kalau pemilihan dan pemilahan hanya dilakukan berdasarkan kata kunci atau subjek, maka seringkali kita tetap harus menghadapi seabrek-abrek informasi.

Pengetahuan tentang genre setidaknya dapat pula membuat kita lebih nyaman memilih informasi, sebab kita punya cukup pengetahuan tentang maksud-tujuan si pembuat atau penulis dokumen. Setidaknya, kita dapat memilih dokumen atau penulis yang sesuai dengan tujuan kita sendiri.

Jika berminat tentang genre dalam konteks perpustakaan dan informasi, bisa tengok situs-situs ini:

Bacaan:

Askehave, I dan Nielsen, A.E.(2005) “Digital genres: a challenge to traditional genre theory” dalam Information Technology & People Vol. 18 No.2, hal. 120-141

Martin, J.R. (1992), English Text: System and Structure, Benjamins, Philadelphia, PA.

 

 

3 Tanggapan to “Ada Genre di Dokumen”

  1. nina said

    Wah..bagus tuh.. informasi tentang genre. Pustakawan perlu tahu juga. Bisa dijadikan salah satu strategi untuk membantu memilah informasi. Dengan kemampuan itu, kita bisa tambah PD. Makasih ..

  2. arupphala said

    hmm tantangan baru buat kataloger/metadata generator… (meski menetukan subyek sederhana aja sudah ngos2an..)
    bisa gak ya penentuan subyek dan genre diproduksi oleh ‘mesin’… ya semacam text-based indexing..

  3. ichasep banget githu said

    foto dokumen di lakukan dokumen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: