Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Di Balik Kata-katanya

Posted by putubuku pada April 29, 2008

Pagi telah menjadi cerah kembali. Hujan baru saja usai, tanah basah menimbulkan aroma alam yang mengingatkan kita pada kebesaran Sang Pencipta. Pintu perpustakaan sudah lama terbuka. Seorang mahasiswa masuk dan menuju meja petugas layanan rujukan. Setelah menyapa sopan, ia bertanya, “Bu, saya mau cari informasi tentang orkestra, mohon bantuannya.”

Orkestra? Sang Pustakawan mengernyitkan dahinya yang belum berkeringat. Apa yang harus dilakukannya?

Hampir 80% dari pustakawan akan melakukan “jurus” paling mudah: lihat di kamus, lihat thesaurus, lihat katalog. Tindakan ini memang didasarkan pada pemikiran bahwa sebuah kata dapat diterangkan oleh kata lainnya; sebuah kata bermakna kata lainnya, dan sebuah makna dapat merujuk ke dokumen tertentu.

Benarkah hanya demikian yang dapat kita lakukan? Para petugas rujukan yang sudah berpengalaman, pasti akan melakukan lebih dari itu. Dari sisi pandang teori bahasa, pengaitan kata dengan kata seringkali belum cukup untuk memahami sesuatu. Memakai pandangan filsuf dan pemikir bahasa Georg Lakoff, kita dapat berteori bahwa di balik setiap kata-kata yang diucapkan (atau ditulis) oleh seseorang selalu ada struktur konseptual atau model kognisi yang lumayan rumit. Menurut Lakoff, setidaknya ada 5 macam model kognisi, yaitu: proposisi, skenario, pengelompokan ciri (feature bundles), selingkaran kategori (radial categories), dan penahapan kategori (graded categories). Penjelasan ringkasnya kira-kira sebagai berikut:

  • Proposisi adalah penyataan yang mengandung logika. Proposisi sederhana semata-mata mengaitkan suatu entitas dengan ciri-ciri atau property-nya. Proposisi yang lebih kompleks menggunakan proposisi sederhana ditambah dengan quantifiers (misalnya kata ‘seluruh’ atau ‘sebagian dari’ atau ‘salah satu dari..’) dan operator logika (seperti kata ‘dan’, ‘atau’, ‘jika…maka’) Misalnya, jika mahasiswa bertanya tentang ‘orkestra’, dapat muncul model proposisional:

Hari ini akan ujian
Kalau ujian, saya perlu mendengar musik klasik
Maka hari ini saya ingin mencari musik klasik di Internet

  • Skenario adalah model konseptual yang berisi sejumlah pikiran atau karakteristik yang mengandung nilai asumsi tertentu. Misalnya, setelah membaca di suratkabar bahwa akan ada orkestra bermain di kota, maka model kognisi kita langsung membuat asumsi bahwa ada penonton, ada orkestra, ada konduktor, para penonton duduk sopan, ada pemain biola, dan seterusnya. Jadi, perkataan ‘Bu, saya mau cari informasi tentang orkestra, mohon bantuannya..” belum tentu adalah tentang orkestra itu sendiri. Mungkin justru tentang konduktor!
  • Feature bundles adalah struktur konseptual yang didasarkan pada kategorisasi yang pada gilirannya terbentuk dari serangkaian ciri. Misalnya kalau saya melihat sebuah buku berjudul Orkestra dari Masa ke Masa maka struktur konseptual saya membayangkan negara-negara Eropa seperti Austria atau Jerman karena saya membayangkan asal muasal jenis musik itu, selain alat-alat musik seperti biola, cello, dan sebagainya.
  • Radial categories merupakan struktur konseptual yang memiliki kategori sentral dan periferal (pinggiran, tepian). Misalnya, mendengar kata “kursi” kita dapat membayangkan furnitur yang memiliki empat kaki dan digunakan untuk duduk. Tetapi kita juga bersedia membayangkan dingklik atau bahkan sebatang kayu di pinggir hutan sebagai kursi, dan kedudukan politik juga adalah kursi. Permintaan informasi tentang ‘orkestra’ mungkin saja berkaitan dengan biola atau justru tentang dekorasi panggung.
  • Graded categories merupakan struktur konseptual yang serupa dengan radial categories, tetapi memiliki batas antar kategori yang agak samar-samar. Misalnya, seseorang mungkin tidak tergolong ‘anak’ dalam pengertian ‘anak-anak membayar setengah harga”, tetapi dia adalah ‘anak’ dalam kategori ‘anak-anak mendapat warisan yang berimbang’ seperti tertulis pada sebuah wasiat.

Bahasa dan ujaran, menurut Latkoff, selalu mengandung makna sesuai dengan model-model kognisi di atas. Makna dari sebuah teks adalah apa yang dipahami seorang pengguna teks. Tidak ada yang bermakna di dalam dirinya sendiri; makna datang pengalaman seseorang sebagai dirinya di suatu situasi yang tertentu. Sebuah buku dan serangkaian teks dipahami jika kata-katanya bermakna, dan itu artinya kata-kata itu berkorespondensi dengan struktur konseptual pembaca. Teks bukan semata-mata representasi dari sebuah realitas eksternal tunggal.

Dengan bahasa sederhana, jika lain kali ada seorang mahasiswa datang dengan pernyataan, “Bu, saya mau cari informasi tentang orkestra, mohon bantuannya.” mungkin yang pertama harus dilakukan sang pustakawan adalah balik bertanya, “Kamu senang musik klasik, ya?”

———–

Pemikiran Georg Lakoff kemudian diperluas untuk mempelajari wacana (diskursus) dan framing. Bagi yang tertarik, silakan kunjungi: http://www.rockridgeinstitute.org/people/lakoff atau http://www.wwcd.org/issues/Lakoff.html    

2 Tanggapan to “Di Balik Kata-katanya”

  1. Rina said

    Walah… iya nih… suka lupa membaca di balik kata-kata.

    Terima kasih atas tulisan2nya Pak Putu, tentang Ilmu Perpustakaan, Informasi, Komunikasi, Bahasa dll. Sangat sangat membantu saya untuk lebih pintar. Walaupun kadang speechless untuk memberi komentar di setiap subjek.

    Bagi saya tulisan2 Bapak sangat berharga. Jadi, karena saya nggak bisa online seharian, saya minta ijin mengcopy mereka ke disket. Tapi untuk pribadi kok, nggak dikomersilkan hehe.

  2. putubuku said

    Speechless.. Masak, sih? :-O Saya mampir di blog kamu, wuihh.. tulisannya keren-keren, lho.. Kapan nulis (lebih sering) tentang perpustakaan?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: