Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Ingwersen dan Peta Kognitifnya

Posted by putubuku pada April 25, 2008

Ingwersen adalah salah seorang ilmuwan yang berupaya menunjukkan perbedaan penting dalam tradisi penelitian information retrieval, yaitu tradisi yang memperlihatkan sebuah perpindahan atau belokan ke arah pandangan kognitif (cognitive turn). Belokan ini memakai banyak sekali masukan dari penelitian-penelitian tentang kerja akal di tingkat individual, terutama yang didasarkan pada pandangan bahwa di dalam setiap benak manusia terdapat ‘struktur kognitif’ (cognitive structure). Biasanya struktur kognitif ini dianggap sebagai sebuah “model” atau “tiruan” tentang dunia sekeliling.

Di dalam struktur ini tercakup pula harapan, hasrat, emosi, intuisi, dan pengalaman sebelumnya. Masing-masing struktur di dalam benak manusia ini kemudian saling berinteraksi dan saling mengolah data, informasi, atau pengetahuan, sehingga terjadilah berbagai persepsi dan pemahaman tentang dunia sekeliling.

Dalam konteks sistem information retrieval, Ingwersen menggunakan teori kognitif ini untuk menggambarkan fungsi ingatan berkala pendek (short term memory) dan berkala panjang (long term memory). Ingatan berkala pendek berfungsi sebagai penyimpan elemen-elemen informasi yang diterima seseorang dari luar. Ingatan berkala panjang berfungsi sebagai penyaring (filter), yaitu dalam bentuk memori semantik (semantic memory) dan memori episodik (episodic memory).

Memori semantik terlihat dalam bentuk berbagai konsep yang digunakan seseorang untuk mendefinisikan sesuatu, sementara memori episodik merupakan ingatan seseorang tenang kejadian-kejadian masa silam yang dianggap penting. Jadi, kedua jenis memori ini berfungsi membantu manusia menyaring dan memilih berbagai kesan yang masuk lewat inderanya, sedemikian rupa sehingga dia dapat memberi makna kepada apa yang dihadapinya dalam berinteraksi dengan dunia luar (termasuk dengan manusia lain). Pemahaman tentang berbagai jenis memori ini kemudian digunakan untuk menggambarkan struktur kognisi atau struktur pengetahuan manusia.

Sebagai contoh, Ingwersen menggunakan bagaimana seseorang memaknai “MOBIL” dalam struktur memorinya dan menggambarkannya dalam bentuk empat “peta” (maps) seperti ini (gambar ini adalah hasil adaptasi):

 

Dalam gambar di atas terlihat bahwa seseorang dapat memiliki berbagai “peta kognitif” sekaligus. Berbagai peta tersebut mungkin mengandung hal yang sama, tetapi dalam konteks berbeda, seperti peta 1 dan 4 di atas. Mungkin juga, sebuah peta mengandung beberapa elemen kosong, seperti pada peta 3 dan 4. Sebagian peta mungkin mengandung hal-hal yang tidak dapat diverbalisasi (non-verbal), sementara seseorang mungkin tidak punya peta tertentu, misalnya yang mengaitkan mobil dengan ferry untuk menyebrang Selat Sunda.

Berbagai peta ini kemudian digunakan untuk berbagai hal dan dengan berbagai cara, berbaur dengan persoalan emosi dan ingatan lainnya. Seseorang dapat saja menambahkan satu elemen (mempelajari hal baru) di salah satu peta secara kebetulan dalam sebuah percakapan dengan orang lain (misalnya menambahkan elemen “navigasi lewat satelit” pada peta 2). Atau menambahkan peta baru sekaligus, misalnya kalau seseorang mengaitkan “MOBIL” dengan status sosial, sehingga ada peta 5 yang berisi berbagai elemen (misalnya, pandangan tetangga, hubungan dengan mertua, status di kantor, harga, tabungan, dan sebagainya).

Ingwersen selanjutnya menggambarkan bagaimana peta-peta kognitif ini digunakan dalam sebuah pencarian di Internet. Katakanlah, seseorang bermaksud menyewa mobil untuk berlibur dan mencari perusahaan penyewaan mobil di Internet. Pada awal pencarian, dia mungkin menggunakan salah satu peta yang dimilikinya, misalnya peta 3 di atas. Dengan peta ini dia mengetik berbagai teks yang dianggapnya relevan untuk kebutuhannya. Setelah itu, tergantung dari hasil pencarian pertamanya, dia mungkin akan menggunakan berbagai peta lainnya. Setelah berkali-kali mencari, mungkin akhirnya dia memiliki serangkaian informasi berikut:

*** Sewa Mobil – Honda Civic – 1 juta/hari berikut supir – telpon 5551234 ***
 
Informasi yang diterimanya itu mungkin perlu diingat-ingat, atau ditulis di secarik kertas, sehingga orang tersebut mulai menggunakan memori jangka pendeknya. Tetapi untuk memutuskan apakah harga sewa mobil itu masuk-akalnya atau tidak, mungkin dia perlu “memeriksa” peta-peta lain yang tersimpan di memorinya. Kalau dia tidak memiliki peta-peta yang relevan, mungkin dia harus melakukan kegiatan lain yang tidak menggunakan Internet, misalnya bertanya ke pasangannya atau menelpon seorang teman untuk meminta nasihat.

Dengan contoh sederhana di atas, Ingwersen bermaksud menjelaskan begitulah yang terjadi di dalam kepala setiap manusia ketika berhadapan dengan sistem informasi. Tentu saja, makin rumit persoalan yang dihadapi seseorang, makin rumit pula ‘peta’ yang ada di kepalanya.

Bacaan:

Ingwersen, P. (1992), Information Retrieval Interaction, London : Taylor Graham, dapat diambil secara lengkap di http://vip.db.dk/pi/iri/index.htm

 

 

 

 

 

2 Tanggapan to “Ingwersen dan Peta Kognitifnya”

  1. makin sip aja artikel artikel pak putu yang hampir setiap hari selalu di update

  2. terimakasih pak, materinya memudahkan saya dalam membuat laporan kuliah psikologi eksperimen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: