Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Keberaksaraan sebagai Kompetensi Sosial

Posted by putubuku pada April 21, 2008

Konsep keberaksaraan informasi (information literacy) perlu dilihat lebih dari sekadar kemampuan dan kepandaian memanfaatkan fasilitas perpustakaan untuk mencari informasi. Bagi Andersen (2006), keberaksaraan informasi bahkan terkait dengan keseluruhan kemampuan hidup bermasyarakat. Kemampuan menemukan dan menggunakan sepotong informasi dapat dilihat sebagai kemampuan sosial-politik, bukan semata-mata keterampilan menggunakan fasilitas perpustakaan (OPAC, pangkalan data, online sources).  Instruksi-instruksi tentang tata cara penggunaan perpustakaan secara baik dan benar hanyalah sebagian kecil dari keberaksaraan informasi.

Mengapa demikian? Pertama-tama, kemampuan dan keberhasilan seseorang dalam menemukan informasi ditentukan pula oleh keberadaan sumber informasi. Sebelum seseorang dapat dengan mudah menemukan informasi, ia perlu cukup pengetahuan tentang  sumber informasi dan bahwa mencari dan menggunakan sumber informasi itu ditentukan oleh pengetahuan tentang bagaimana sumber-sumber itu dikelola di sebuah masyarakat. Setiap sumber informasi di masyarakat memiliki ciri, dan ini tidak hanya menyangkut ciri fisik atau isi sumber informasi. Ciri tersebut dapat juga berkait dengan kepemilikian, tujuan, sejarah, dan sebagainya. Sebuah jurnal ilmiah yang digunakan di universitas bukan hanya memiliki nama (judul) dan editor, tetapi juga memiliki tujuan penerbitan, kebijakan editorial, dan perusahaan pendukung. Secara keseluruhan, jurnal ilmiah itu adalah sebuah media yang dikelola oleh organisasi dan manajemen tertentu yang mendapatkan legitimasi dari masyarakatnya. 

Kita tentu tahu pula bahwa media apa pun (termasuk media ilmiah) punya tujuan, motivasi, dan arah pemikiran yang khas dan khusus. Di dalam konteks kehidupan sosial setiap media selalu dapat dilihat sebagai bagian dari ‘wilayah publik’ (public sphere). Teori sosial selama ini selalu menjelaskan bahwa media merupakan bagian dari genre (communication genres) yang berkembang dan digunakan di dalam pengaturan sosial-ideologi di berbagai belahan dan wilayah masyarakat. Demikian pula setiap dokumen memiliki document genres dan fungsinya di masyarakat menentukan bagaimana cara kita mencarinya. Dengan kata lain, mencari dokumen sama dengan berurusan dengan cara pengorganisasian sosial tertentu, bukan semata-mata menelusur di Internet atau di OPAC. Setiap pencari informasi sebenarnya juga terlibat dalam ‘pertarungan ideologi’, apalagi kalau kita sadari bahwa setiap media dan setiap dokumen selalu dapat menjadi bagian dari kontroversi di mayarakatnya.

Lebih jauh lagi, teori tentang wilayah publik selalu menjelaskan perkembangan masyarakat modern (borjuis) untuk menjelaskan peran berbagai media komunikasi dalam pengaturan dan transformasi masyarakat moderen, dalam pembentukan pandangan publik (public opinion) dan bagaimana semua ini berkaitan dengan moda produksi kapitalis. Teori wilayah publik juga dapat dipakai untuk memahami pengorganisasian dokumen dan pengetahuan di masyarakat. Apa yang disimpan dan dikoleksi oleh sebuah perpustakaan, adalah apa yang telah diseleksi, dan apa yang telah diseleksi adalah apa yang telah disetujui. Tidak mungkin ada seleksi yang tidak menggunakan sisi pandang tertentu. Setiap pencarian informasi di sebuah sumber formal (seperti perpustakaan), akan dipengaruhi oleh sisi pandang ini. Selain itu, pada umumnya apa yang dapat diseleksi oleh seorang pustakawan adalah apa yang telah diterbitkan, dan apa yang diterbitkan telah diseleksi pula oleh industri media komunikasi yang seringkali adalah industri kapitalis.

Berdasarkan teori-teori wilayah publik inilah Andersen kemudian menempatkan information literacy dalam konteks critical literacy, yaitu yang mencakup kemampuan untuk menjauh dari teks dan memandangnya secara kritis sebagai sesuatu yang beredar di dalam konteks sosial dan tekstual yang lebih luas.Termasuk di dalamnya kapasitas untuk melihat di bawah permukaan suatu diskursus, memahami ideologi dan agenda yang implisit.  Seseorang yang literate adalah seseorang yang kritis dan tidak sekadar pandai menggunakan alat temu-kembali. 

Bacaan

Andersen, Jack (2006), “The Public sphere and discursive activities: information literacy as sociopolitical skills”, dalam Journal of Documentation, vol. 62 no. 2, h. 213-228

7 Tanggapan to “Keberaksaraan sebagai Kompetensi Sosial”

  1. em said

    wah pak Putu.. yang bapak paparkan adalah media literacy, karena berhubungan dengan propaganda. Saya juga sedang tertarik dengan tema ini. media literasi dan literasi informasi sendiri dianggap berbeda. media literasi berfokus pada pemikiran kritis mengenai pesan, sementara literasi informasi berfokus pada analisa sumber informasi-nya sendiri. mungkin bisa jadi bahan diskusi tersendiri. karena saya dan bu hann juga sedang berdebat mengenai hal ini.

  2. putubuku said

    Em (ini siapa ya?), tulisan itu memang pikirannya si Andersen. Saya cuman nerjemahin🙂 tapi emang sedang ada debat tentang lingkup literasi informasi dan si Andersen mengajukan satu pandangan. Kayaknya doi memang lebih senang memperluas literasi informasi ke segala macam literasi. Nanti kalau ada tentang media literacy, saya muat di sini deh.. Atau kamu sendiri punya tulisan? Mbok ya dikirim ke milist gitu loh..

  3. Ahmad said

    pak putu, information literacy itu butuh apa saja sih. saya dan teman-teman kan membuat kurikulum ttg Information literacy. tema apa saja yang bisa diangkat kira-kira. a.l kami mengangkat: 1. etika dalam Il,2. kajian informasi,3. strategi penelusuran informasi,4. Teknologi informasi dalam Info literacy,5. teknik pengemasan informasi,6. teknik pendayagunaan informasi,7. pengantar keberaksaraan informasi. mohon sharing ya pak. makasih.

  4. putubuku said

    Ahmad, kalau saya yang njawab, ntar disangka kelewat sok tau🙂. Gimana kalau diskusi dengan APISI (Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia) yang dipimpin Hanna Latuputty (blognya http://apisifoto.multiply.com/), atau dengan teman-teman di Perpustakaan Pusat UI di Depok, mereka biasa menyelenggarakan information literacy program.

  5. Clara Naibaho said

    Rekan Ahmad, menurut saya materi-materi yang Anda sebutkan di atas sudah mencakup apa yang ada dalam IL. Satu hal yang perlu dicatat bahwa tujuan IL itu kan ‘menciptakan’ makhluk2 yang berpkir kritis dan menjadi pembelajar seumur hidup. Apa yang diberikan pustakawan sebetulnya hanya secuil dari apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Pada hakekatnya IL harus menjadi tanggung jawab setiap warga masyarakat. Perpustakaan hanyalah salah satu media yang bisa meliteratkan pengguna.

  6. Endro DH said

    Dear Pak Putu,
    Terma information literacy (IL) berlingkup lebih dari sekedar “searching information”, namun dapat merujuk kepada kemampuan hidup bermasyarakat-kemampuan sosio dan kultural”. Menurut hemat saya, pernyataan ini merupakan sebuah proposisi yang dipaksakan Pak. Kenapa? Kemampuan hidup bermasyarakat dan ‘social and cultural ability’adalah sebuah masalah yang kompleks, pleks. Ia berhubungan dengan bukan hanya ‘to know’ tetapi ‘to be’. Kemampuan “menjadi manusia” memerlukan proses-sekali lagi- “to be”. Nah,adalah pendapat yang tergesa-gesa ketika kita menyerahkan tanggung jawab untuk melakukan proses ‘social engineering’ kepada sebuah ketrampilan yang disebut ‘information literacy’. Menurut pendapat saya, IL hanya menjadi satu dari aparatus dari proses pendidikan saja.

  7. putubuku said

    Endro,

    Kalau dipikir-pikir, iya juga, bahwa IL cuma salah satu bagian dari proses pendidikan. Kalo nggak salah, pikiran seperti ini memang ada di kalangan pendidik. Artikel yang saya kutip itu memang ingin meluaskan lingkup IL, makanya jadi mirip Media Literacy yang kemarin dikomentari EM. Ada perdebatan tentang IL, dan ada bagusnya kita dengarkan semua pihak. Nanti kalau ketemu artikel lain, saya baca dan saya share lagi deh di sini. Thanks for your comment!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: