Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Informasi dan Pikiran Manusia

Posted by putubuku pada April 15, 2008

Ada dua pertanyaan yang cukup mengganggu dalam hidup kita yaitu: “Apa yang kita maksud dengan informasi itu?” atau “Apa makna informasi bagi manusia”. Pertanyaan kedua ini bahkan bercabang menjadi pertanyaan baru, “Apa yang sebenarnya kita maksud dengan ‘makna’ itu sendiri?”.

Untuk mencoba menjawabnya, orang pun menengok ke filsafat, dan pandangan filsfuf Ludwig Wittgenstein ketika membahas persoalan makna bahasa menjadi salah satu pilihan menarik. Ia menyatakan bahwa filsafat tidak hanya harus menjawab “apa makna dari sesuatu” tetapi juga “apa yang kita maksud dengan makna itu sendiri”. Frohmann (2004) menggunakan pandangan ini untuk memfokuskan persoalan filsafat informasi kepada cara bagaimana manusia memberikan makna kepada informasi.

Dalam bahasa ada simbol. Manusia menggunakan bahasa sebagai serangkaian simbol-simbol. Sebuah simbol mendapatkan maknanya karena ada kegiatan intelektual di dalam benak manusia yang mengubah sesuatu yang mati  -misalnya goresan tinta di atas kertas, sebuah citra di layar komputer, atau sebuah ujaran dari mulut seseorang-  menjadi sebuah tanda atau simbol bermakna. Jadi, jika kita mengatakan bahwa huruf ‘c-i-n-t-a’ adalah serangkaian 5 tanda yang mengandung makna, maka kita menggunakan pikiran untuk menghubungkan 5 huruf itu dengan maknanya. 

Frohmann menggunakan logika di atas untuk menyatakan bahwa dokumen mengandung sesuatu yang memerlukan pikiran manusia untuk dapat berubah menjadi “informasi yang hidup” (living information). Sebuah dokumen dikatakan “menyampaikan informasi” (informing) jika alam pikiran si pemakai dokumen dapat terbentuk (formed) sebagai sebuah pemahaman. Dokumen itu sendiri semata-mata adalah media yang dapat menjadi usang dan hanya berfungsi memindahkan “informasi itu sendiri”. Dalam pengertian ini, maka dokumen bisa saja berupa kertas, atau dahan pohon, atau jejak dinosaurus, atau gelombang radio.

Gambaran informasi yang seperti di atas berkembang menjadi pandangan tentang informasi sebagai sesuatu yang teoritis alias berada di akal manusia. Dengan cara pandang di atas, maka kita mengesahkan kesimpulan cara seseorang memperoleh informasi dengan menggunakan pikirannya, sehingga jelaslah bahwa ke-informasi-an sebuah dokumen akan bergantung pada kondisi atau kemampuan berpikir seorang yang menggunakan dokumen itu. Inilah pandangan tentang informasi sebagai sesuatu yang teoritis, dan yang juga melahirkan berbagai kajian tentang orang-orang yang menggunakan pikirannya untuk mencari informasi (information seekers).

Lalu, pengertian “menggunakan informasi” menjadi langsung berkaitan dengan penggunaan pikiran untuk memahami dokumen. Akhirnya, dalam konteks sosial, orang juga mengaitkan antara peningkatan akses ke informasi dan demokratisasi dengan peningkatan tingkat melek-huruf (literasi), pencerahan para warganegara, dengan asumsi bahwa tanpa kemajuan cara berpikir maka kehadiran dokumen tidak ada gunanya.

Namun benarkah informasi semata-mata mendapatkan maknanya melalui proyeksi di tingkat intelektual seperti itu? Frohmann lebih jauh mengulas pengertian informasi ini, yaitu dengan memakai salah satu teori Wittgenstein yang dikenal dengan nama “language game”. Kutipan paling terkenal tentang hal ini adalah cerita tentang seseorang yang pergi ke toko membeli buah apel.

Mari kita baca baik-baik dan kita coba mengartikannya  -harap bersabar sewaktu membaca, sebab ini adalah kalimat dari seorang filsuf!🙂

I send someone shopping. I give him a slip marked “five red apples.” He takes the slip to the shopkeeper, who opens the drawer marked “apples”; then he looks up the word “red” in a table and finds a colour sample opposite it; then he says the series of cardinal numbers—I assume that he knows them by heart—up to the word “five” and for each number he takes an apple of the same colour as the sample out of the drawer.—It is in this and similar ways that one operates with words.—“But how does he know where and how he is to look up the word ‘red’ and what he is to do with the word ‘five?’”—Well, I assume that he acts as I have described. Explanations come to an end somewhere.—But what is the meaning of the word “five?”—No such thing was in question here, only how the word “five” is used.

Terjemahan bebasnya:

Saya menyuruh seseorang berbelanja. Saya berikan selembar kertas bertuliskan “lima apel merah”. Dia membawa kertas itu ke toko dan memberikannya ke penjaga toko, yang kemudian membuka lemari bertulisan “apel”. Penjaga toko mencari kata “merah” di sebuah daftar dan memperhatikan contoh warna yang tertera di sebelah kata itu. Lalu dia mulai mengeja serangkaian angka  -saya asumsikan penjaga ini mengucapkannya berdasarkan hapalan-  mulai dari 1 sampai 5, sambil mengambil sebuah apel yang warnanya sesuai dengan contoh warna di daftar tadi. Begitulah persisnya cara seseorang menggunakan bahasa. Pertanyaannya: bagaimana si penjaga toko itu tahu ke mana dia harus mencari kata “merah”, dan bagaimana dia mengartikan kata “lima”? Nah, saya beranggapan si penjaga toko bertindak saja seperti yang saya gambarkan di atas. Tampaknya tidak ada penjelasan lain untuk itu. Bagaimana dia mengartikan kata “lima”? Pertanyaan ini tampaknya bukan soal bagaimana seseorang memaknai kata, tetapi soal bagaimana seseorang menggunakan kata “lima”.

Apakah Anda punya jawabannya? Gunakanlah pikiran Anda!🙂

Bacaan:

Frohmann, B. (2004), “Documentation redux: prolegomenon to (another) philosophy of information” dalam Library Trends, vol 52 no. 3, hal. 387 – 407.

12 Tanggapan to “Informasi dan Pikiran Manusia”

  1. Sulfan said

    Terimakasih Pak Putu untuk pencerahannya…betah saya baca2 di blog BApak, klo ga inget kerjaan, bisa seharian nih memebaqca dan merenung hehehe.. Pak, ajari saya nulis donk!saya juga baru aja ‘resmi’ jadi bloger hihihi,mampir ya pak?

  2. debby said

    hehehe…language game-nya ngegemesin pak. itulah hebatnya otak manusia, bisa mengasosiasikan begitu banyak informasi menjadi sesuatu yang bermakna dan actionable. hebat juga para filsuf, dengan usahanya memahami cara kerja otak dalam memaknai informasi. jadi inget film jadulnya nicholas cage “the city of angels”, dalam satu scene dia meminta meg ryan mendeskripsikan rasa buah pear ke dalam bahasa verbal, dan meg yang seorang dokter kewalahan mendeskripsikannya. ternyata verbal language tidak kuasa mendeskripsikan rasa sebenarnya sebuah pear. you have to touch it, taste it, and understand it by yourself. jadi proses memahami juga melibatkan proses sensorik.

    just a thought: bagaimana seorang buta mengenali apel merah dan apel bukan merah? karena dia tidak dapat melihat warna merah, dapatkah dia memaknai kata “merah”? dengan cara apa dia memaknai “merah”

  3. putubuku said

    Sulfan, blog kamu yang mana? Nasihat saya untuk blogger sih cuma satu: jangan nulis panjang-panjang. Saya dulu cenderung panjang juga, akibatnya nggak ada yang baca🙂 Sekarang, saya paksa diri untuk menulis 300 kata. Ternyata syusyah juga🙂 Jadi inget ucapan TS Elliot, seorang penulis terkenal, “I am sorry, I cannot write any shorter because I don’t have time!” Maksud dia, untuk menulis pendek, perlu waktu yang panjang!

  4. putubuku said

    Deb, orang buta (total) pasti nggak bilang ‘apel merah’, mungkin dia bilang ‘apel yang mateng’ atau ‘apel yang mengkel’. Tauk, deh, darimana dia tahu bahwa itu apel dan bukan kedondong. Yang repot adalah orang buta warna. Semua dia bilang merah.. he he he he.. Tapi pertanyaan kamu membantu banget dalam memahami ulasan tentang ‘language game’ di atas. Kita memang diajak berpikir, kalau kata “merah” tentu mudah “dilihat” (menggunakan mata). Tetapi bagaimana dengan kata “lima”, bukankah “lima” itu nggak bisa dilihat? Kalau lima jari, yang kelihatan kan jarinya, bukan “lima”. Kalau “apel” juga bisa dilihat, bahkan bisa dinyam-nyam grauk-grauk (kalau apelnya renyah, begitu bunyinya di mulut kita!). Kata “lima”, atau “demokrasi”, atau “cinta” (wuihhh…), itu susah banget dilihat apalagi dikunyah.. he he he..

  5. debby said

    kita kan punya panca indera plus sixth sense pak…untuk membantu kita berhubungan dengan dunia luar. jadi proses memaknai ‘lima’, ‘demokrasi’, atau ‘cinta’ terjadi setelah rangsang nyampe di otak (lewat indera). pertama kali kita tau kata ‘lima’ barangkali lewat pendengaran, lalu kita belajar bahwa lima masuk kelompok angka, urutannya setelah angka 4. coba kasih kata ‘lima’ (bukan dengan angka 5) kepada orang jordan yang gak pernah belajar bahasa indonesia, doesn’t make sense buat dia karena gak punya info sebelumnya bahwa “lima” itu adalah 5. memaknai demokrasi lebih sulit lagi, karena macam-macam informasi dibutuhkan untuk kita dapat memahami kata ini. makanya sampai sekarang, meski udah 10 tahun kita “belajar” demokrasi, gak juga tamat belajarnya. lha wong amerika aja yang udah born democratic masih suka kepleset…tapi apa sebetulnya makna ‘demokrasi’ itu? buat setiap orang beda-beda (tergantung prior knowledgenya). orang amerika bilang ‘ketika semua orang bebas menentukan pilihannya tanpa rasa takut’ (eh ini sih demokrasi versi saya :P), orang indonesia bilang ‘demokrasi pancasila’. apa pula itu? saya aja yang sedikit2 tahu makna ‘demokrasi’ dan sedikit2 tahu makna ‘pancasila’, agak-agak malas disuruh menjelaskan apa itu ‘demokrasi pancasila’ takut gak sepakat dengan bangsa indonesia yang lainnya heehhe….

  6. Sulfan said

    blog saya di sulfan.dagdigdug.com pak!

  7. putubuku said

    Untuk Debby, makasih sudah melengkapi ulasan. Kamu mustinya bikin tulisan, terus kasiin Clara buat ngisi buletinnya. Atau udah punya blog? Promosiin di sini, dong.
    Untuk Sulfan, blog-nya masih se-iprit gitu🙂 Tapi teruslah menulis!

  8. Debby said

    maaf pak kemarin2 tidak ngasih situs web, malas ngetiknya hehehe. saya sudah punya blog tapi isinya hampir semua personal issues. akhir-akhir ini jarang nulis pula karena lagi ‘kehilangan’ passion buat nulis. nanggapin tulisan orang lebih enak. vita jauh lebih produktif daripada saya dalam hal tulis menulis. dia juga punya blog, bapak tau? http://mhevita.multiply.com (saya promosiin blognya vita juga, yang agak lebih intelek daripada blog saya). mba clara punya buletin? saya malah baru tau…

  9. Purwoko said

    Membaca tulisan pak putu, serasa saya dibawa meliuk-liuk dalam jagad intelektualisme ilmu perpustakaan dan informasi yang tanpa batas. Kadang heran, kadang kagum….

    Terimakasih untuk semua tulisannya, maaf belum bisa memberi komentar “berbobot” di blog ini….

    salam pustaka
    dari Jogja
    Purwoko

  10. Rifnal said

    tulisan pak putu sangat menarik dan bermanfaat buat saya. namun alangkah baiknya jika ditambahkan kumpulan teori tentang infomasi. saya mengalami kesulitas dalam mencari teori tentang iformasi untuk skripsi saya ^_^ mohon pak putu dapat memberikan bantuan.

    salam
    rifnal alfani
    ilmu informasi dan perpustakaan, Unair
    rif_nal@yahoo.co.id

  11. putubuku said

    Rifnal, kan udah dikumpulin di kategori ‘teori’ di blog ini. Klik di situ, dan semua tulisan di situ berisi teori. Emang belum cukup sih, karena tangan saya cuma dua, dan jari saya cuma sepuluh🙂 Rajin-rajin saja ke sini dan siapa tahu ada teori yang ‘nyangkut’ di pikiran kamu.

  12. Suryadi said

    Otak manusia itu alaminya random dalam berpikir, tidak memiliki pola, dan lebih mudah menghafal dengan gambar. Oleh karena itu untuk memanfaatkan fungsi otak kita secara maksimal gunakanlah Peta Konsep agar tidak melulu kita menggunakan kemampuan teks (hitam putih pula) yang sangat MONO-TONE –> monoton –> boring garing –> sehingga tak heran baru baca 5 lembar teks mata langsung menutup, karena otak mengirimkan isyarat ke mata: kamu tutup aja deh, aku udah boring banget.

    Kita menerima informasi sepotong sana, sepotong sini, apalagi kalau menaruhnya sembarangan di otak, dan kalau dibiarkan maka informasi2 yang masuk di kepala itu akhirnya jadi sia-sia saja. Ibarat kita bermain jigsaw (puzzle) peta konsep akan membantu untuk menaruh keping informasi sepotong itu di tempat yang mungkin benar (karena bisa saja sambil berjalannya waktu, keping itu dipindahkan lagi ke tempat yang lebih benar).

    kunjungi http://pkab.wordpress.com untuk menemukan ratusan artikel mengenai peta konsep, peta pikiran dan aplikasi2nya.

    semoga anda dapat mengolah informasi lebih baik.

    salam,
    Suryadi
    aku paham dan bisa!

    nb: salut buat bung Putu untuk merawat IPerPin ini. Maju dunia/ Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: