Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Ongkos Informasi

Posted by putubuku pada April 14, 2008

Dibandingkan perhatian mereka terhadap arus barang dan jasa, perhatian para ilmuwan ekonomi terhadap arus informasi dapat dikatakan sebagai fenomena sangat baru. Setelah berabad-abad menganggap barang dan jasa sebagai satu-satunya hal yang harus diperhatikan dalam ekonomi, maka pada pertengahan abad XX dimulailah penyelidikan terhadap peran data dan informasi tentang barang dan jasa itu dalam pengelolaan ekonomi.

Menurut Casson (1997) ada tiga ilmuwan yang dapat dianggap sebagai pionir dalam fokus baru ini, yaitu Friedrich von Hayek, George B. Richardson, dan Jacob Marschak. Ketiganya mengarahkan perhatian peneliti kepada fenomena institusi ekonomi/bisnis sebagai organisasi yang mengendalikan proses pengambilan keputusan dan pengolahan informasi.

Sisi pandang ekonomi tentu saja diawali oleh asumsi bahwa lembaga-lembaga ekonomi/bisnis akan secara sewajarnya memberi respon rasional terhadap perkembangan lingkungan mereka dengan mengatur penggunaan informasi seekonomis mungkin. Dengan kata lain, semua institusi ini sewajarnya memperhitungkan ongkos informasi dalam kegiatan mereka. Pada saat ongkos informasi ini berubah, maka struktur ekonomi pun akan berubah, sedemikian rupa sehingga akan selalu tercapai keadaan stabil atau ekuilibrium. Misalnya, ketika teknologi informasi mendorong penurunan ongkos komunikasi jarak jauh, institusi ekonomi/bisnis bereaksi dengan memperluas jangkauan aktivitas mereka.

Bagaimana para ekonom memandang informasi, berikut ini ringkasan dari uraian Casson tentang mereka:

Hayek, F. A. von (1937), “Economic and knowledge”, dalam Economia, no. 4, hal. 33-54. Juga muncul di F. A. von Hayek (1959), Individualism and Economic Order, London : Routledge and Regan Paul.

Hayek (1937) mengawali perhatian terhadap ongkos informasi ini dengan memberi penekankan pada peran informasi dalam koordinasi kegiatan bisnis. Menurutnya, sistem pasar akan mendorong para pengusaha untuk mencari informasi yang dapat digunakan bagi kepentingan swasta mereka. Informasi ini kemudian dikomunikasikan kepada pihak lain secara tidak langsung dalam bentuk penawaran harga. Denga cara ini, maa setiap pihak yang terlibat dalam bisnis dapat mengenali langka-tidaknya sebuah produk, dan menetapkan tinggi-rendahnya harga yang pantas.

Richardson, G. B. (1960), Information and Investment, Oxford : Oxford University Press.

Richardson (1960) juga menaruh perhatian khusus pada koordinasi kegiatan bisnis, tetapi memperluas pembahasannya bukan hanya pada kegiatan individual atau mikro, melainkan pada bagaimana keseluruhan unsur-unsur dalam sistem ekonomi yang amat rumit itu memberlakukan informasi dalam kegiatan koordinasi mereka. Dia juga secara khusus memperhatikan persoalan koordinasi investasi, dan fenomena informal dalam bentuk kolaborasi para pelaku ekonomi untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan. Sumbangan pemikiran Hayek dan Richardson ini memang menjadi penting karena menantang pandangan neo klasik yang menganggap bahwa ekuilibrium ekonomi selalu dicapai oleh pengaturan informasi yang sedikit-banyaknya tidak mengandung ongkos karena dilakukan oleh suatu badan sukarela.

Marschak, J. (1974), Economic Information, Decision and Prediction, Dordrecht : D. Reidel.

Namun koordinasi bukanlah satu-satunya kegiatan dalam ekonomi/bisnis yang membutuhkan informasi. Marschak (1974) kemudian secara sistematik mengungkapkan peran informasi dalam ekonomi, terutama dengan mengaitkannya dengan proses pengambilan keputusan. Penjelasannya sangat penting karena memakai asumsi dasar ekonomi yang menyatakan bahwa “mahluk ekonomi” pada dasarnya adalah “mahluk pengambil keputusan”, sehingga setiap penyelidikan informasi dari sisi ilmu ekonomi seharusnya memang memperhatikan peran informasi dalam segala jenis dan bentuk pengambilan keputusan.

Bacaan:

Casson, M. (1997), Information and Organization, Oxford : Clarendon Press.

Satu Tanggapan to “Ongkos Informasi”

  1. rifqi said

    Tepat banget..!
    Sepekan yang lalu (Sabtu,18/10/08), dari kuliahnya Pa’Agus Rusmana di kelas pasca Ilmu Informasi&Perpustakaan Fikom Unpad terkuak bahwa nilai jual informasi dapat diukur dari:
    1.tingkat kesulitan dalam mendapatkannya cth. hasil jepretan paparazi
    2.eksklusifitas/kelangkaannya
    3.subjektifitas penyajinya
    4.usernya serta manfaat bagi user tsb.
    5.durasi, masa pakai

    Thanks

    -rifqi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: