Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Virtual State

Posted by putubuku pada Maret 29, 2008

Perkembangan teknologi informasi yang pesat dan penggunaannya secara global menimbulkan kesan bahwa dunia “mengkerut” dan jarak fisik menjadi tidak berarti, maka batas-batas negara pun seperti tidak berarti. Dari keadaan ini, maka banyak spekulasi bahwa konsep negara akan pelan-pelan terhapus dari ingatan manusia. Tetapi, ternyata tidak juga. Banyak negara justru malah semakin kuat oleh adanya teknologi informasi. Menurut Everard (2000) negara seperti sebuah perangkat lunak, tampak stabil selama ada listrik mengalir dan tidak ada virus yang mengganggu kerjanya. Begitu ada interupsi dalam aliran listrik, atau jika ada “corrupt” karena virus, maka berantakanlah negara itu. Contohnya Uni Soviet dan Yugoslavia.

Secara tradisional, negara dianggap sebagai sekumpulan aktor yang relatif bersatu dan para aktor itu memiliki semacam identitas yang berdaulat. Apalagi dalam pandangan filsuf Thomas Hobbes, negara adalah ‘Leviathan’, sebuah wujudan sosial dari sebuah ‘corpus’ politik domestik. Terbayanglah, ada seorang kapten bagi sebuah “kapal negara”. Kapten ini benar-benar ‘kepala negara’ sebagaimana dibayangkan oleh Machiavelli. Sementara bagian-bagian negara lainnya adalah seperti layaknya bagian-bagian tubuh manusia:  ada kaki, tangan, dan sebagainya.

Tetapi sejak abad 17 sudah muncul gejala hubungan antar negara. Lalu ada persoalan perdagangan yang melahirkan kekuatan baru di kalangan saudagar, dan ada konflik antar berbagai bagian dari negara (misalnya antar para penguasa monarki), dan malah ada konflik dengan bagian lain dari negara lain. Pada saat sama juga ada penyebaran informasi gara-gara Gutteberg menciptakan mesin cetak. Maka ada problem dalam pemahaman negara secara tradisional. Apalagi sekarang ada persoalan lokasi identitas di tengah dunia yang sudah seperti jadi satu oleh jaringan kabel optik dan pulsa telepon.

Kalau kita pikir-pikir, identitas negara dan pengakuan kita tentang identitas itu sebenarnya adalah praktik-praktik membuat batas-pemisah, sehingga kita punya kesempatan bilang, “Kita” berbeda dari “Mereka”. Kalau semua pihak boleh membuat batas seperti ini, maka negara pun dapat dianggap memiliki banyak faset, masing-masingnya mencerminkan aspek tentang apa artinya sebuah negara jika dilihat dari suatu titik pandang tertentu. Tidak ada satu negara. Negara harus digambarkan dalam bentuk yang terpecah-pecah, muncul sebagai sebuah penegasan tentang perbedaan, bukan sebagai satu aktor tunggal yang moderen.

Negara pun akhirnya bisa jadi sekumpulan cerita, atau narasi, yang berbeda-beda. Hanya kalau ada kepentingan tertentu (misalnya olimpiade fisika untuk anak-anak SMA) kita bersemangat memunculkan identitas kolektif dalam bentuk negara. Tetapi konsep “negara sebagai identitas” berarti juga mengakui bahwa identitas itu menjadi tertampak ketika sedang lemah, yaitu ketika ada tantangan terhadapnya. Ide tentang kenegaraan dan kebangsaan memang paling kuat dimunculkan ketika kedudukan atau penting-tidaknya negara mendapat tantangand dari “identitas lain”, baik internal (pemberontak) maupun eksternal (negara lain).

Dengan bantuan teknologi informasi, persoalan narasi dan identitas negara ini bisa jadi urusan semakin banyak orang, terutama yang punya akses ke Internet dan bisa menulis atau chat atau pasang gambar atau menyebar virus atau memasang video tentang fanatisme mereka.

Negara menjadi virtual. Siapa bilang negara akan hilang?

Bacaan:

Everard, J. (2000), Virtual States : The Internet and the Boundaries of the Nation-State, London : Routledge.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: