Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Kajian Perilaku Pemakai

Posted by putubuku pada Maret 29, 2008

Penelitian tentang  perilaku pencarian informasi (human information seeking behavior) dipicu oleh ketertarikan ilmuwan pada perilaku pengguna jasa perpustakaan dan penerbitan ilmiah pada umumnya. Masa-masa seusai Perang Dunia II di Eropa dan Amerika Serikat merupakan masa peningkatan jumlah penelitian ilmiah, dan di Inggris pun diselenggarakanlah the Royal Society Scientific Information Conference (1948). Konferensi ini dianggap merupakan titik-tolak penelitian terhadap perilaku pencarian informasi. Walaupun demikian, sebenarnya sudah ada penelitian yang dilakukan sebagai bagian dari survei pemanfaatan perpustakaan sejak tahun 1916, diikuti beberapa studi serupa di tahun 1920an dan 1930an.  Penelitian ini terutama tentang penggunaan perpustakaan, dan kurang memperhatikan faktor kebutuhan yang mendorong orang menggunakan jasa perpustakaan. Survei tersebut juga biasanya lebih untuk memeriksa komposisi demografi atau latarbelakang sosial pemakai jasa perpustakaan. 

Sebagian besar kajian-kajian awal tentang perilaku pemakai informasi ini terfokus pada kelompok ilmuwan. Salah satu sebab dari kecenderungan ini adalah karena badan-badan donor yang membiayai para peneliti pada umumnya adalah badan -badan riset juga. Wajar, lah, badan-badan donor itu lebih ingin mengetahui perilaku ilmuwan yang bekerja untuk mereka. Juga harus diingat, pada masa seusai Perang Dunia II, negara-negara barat sangat getol mengembangkan lembaga riset mereka. Kajian tentang perilaku para ilmuwan pun laku keras.

Pada awalnya, fokus perhatian para peneliti adalah pada penggunaan dokumen, terutama dalam bentuk abstrak, paten, tinjauan literatur (review), dan artikel jurnal. Artinya, orientasi penelitian perilaku pemakai informasi pada awalnya adalah pada kinerja sistem, untuk menguji seberapa jauh sebuah sistem informasi (dalam bentuk sebuah perpustakaan) mampu menyediakan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Tujuan utama penelitiannya adalah mencari tahu bagaimana mengefektifkan pemanfaatan dokumen yang sudah dikumpulkan susah payah dan memakan biaya besar itu. Sampai sekarang, ciri khas ini masih membekas di kalangan para peneliti perilaku pemakai informasi. Misalnya, kajian-kajian tentang perilaku pengguna Internet banyak sekali didasarkan pada pemikiran-pemikiran awal tentang kajian pemakai jasa perpustakaan.

Lebih dari 20 tahun setelah konferensi pertama Royal Society Scientific Information, para peneliti mulai mengalihkan fokus penelitian secara khusus ke “kebutuhan informasi”  (information need), dan bukan semata-mata perilaku penggunaan dokumen. Salah satu penelitian paling terkenal yang cukup besar tentang hal ini adalah penelitian tahun 1972 dan 1973 di Baltimore, Amerika Serikat. Objek penelitiannya bukan ilmuwan, melainkan anggota masyarakat biasa. Tiga pokok persoalan dikaji oleh penelitian ini, yaitu:

  • Informasi apa yang dibutuhkan oleh penduduk kota besar?
  • Bagaimana kebutuhan ini dapat dipenuhi?
  • Bagaimana lembaga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan ini secara efektif?

Dari penelitian inilah antara lain Brenda Dervin mulai membangun model dan teori yang mengaitkan penduduk kota besar dengan kebutuhan informasi, solusi informasi, dan sumber-sumber informasi. Dia juga mulai memperhatikan aspek-aspek psikologis, intelektual, institusional, dan konteks sosial dari kebutuhan informasi.

Setelah sepuluh tahun berkutat dengan konsep “kebutuhan informasi” (dan sampai sekarang masih ada perdebatan tentang ini), maka pada 1980-an muncul kecenderungan baru, yaitu penelitian yang berkonsentrasi pada pengguna sistem, bukan pada sistemnya. Jadi, dalam bahasa ilmiah, terjadi perpindahan dari “system-centred” ke “person-centred”. Bersamaan dengan perpindahan ini, metode kuantitatif yang sejak 1948 digunakan sebagai metode utama penelitian perilaku pemakai, kini didampingi oleh metode kualitatif. Empat peneliti yang paling sering dikaitkan dengan perpindahan fokus maupun metode ini adalah Ellis, Dervin, Kuhlthau, dan Wilson.

Dervin kemudian mengajukan teori Sense-Making.  Sedangkan Ellis menulis teorinya yang terkenal tentang 7 langkah pencarian informasi, yaitu: Starting, Chaining, Browsing, Differentiating, Monitoring, Extracting, Verifying, dan Ending. Teori Ellis ini termasuk teori yang sangat sering dikutip dan dimodifikasi di Indonesia, terutama setelah ada program studi pasca sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Universitas Indonesia.

Teori lain yang juga cukup laku, adalah teori usulan Kuhlthau yang diberinama ISP (information search process). Seperti halnya teori Ellis, teori ini juga menggunakan pentahapan pencarian informasi, terdiri dari Initiation, Selection, Exploration, Formulation, Collection dan Presentation. Berbeda dari teori Ellis yang bersifat deskriptif (menggambarkan ciri-ciri saja), teori Kuhlthau mengaitkan setiap langkah itu dengan aspek psikologis manusia  (kognitif, afektif, motorik). Wilson kemudian menggabungkan berbagai model tentang perilaku pencarian dan penggunaan informasi menjadi apa yang disebut Model Wilson untuk Pencarian dan Penggunaan Informasi.

2 Tanggapan to “Kajian Perilaku Pemakai”

  1. suwondo said

    terima kasih atas artikel nya sehingga membantu saya dalam tugas mata kuliah saya di kajian pemakai

  2. Yuana said

    wondo…./ ternyata sudah baca …siiip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: