Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Periodisasi Information Retrieval

Posted by putubuku pada Maret 29, 2008

Ketika para pengelola perpustakaan baru mulai menggunakan komputer, salah satu hal mendasar dan terpenting yang pertama mereka lakukan adalah menciptakan  katalog berbantuan komputer. Ini kemudian dikenal sebagai “online public access catalogue” alias OPAC. Pada awalnya, penerapan ini betul-betul hanya memindahkan katalog kartu ke dalam bentuk elektronik atau digital. Namun lama kelamaan, berbagai perkembangan teknologi memungkinkan sistem simpan dan temu kembali menjadi lebih rumit, lebih beragam, dan lebih luas.

Sementara itu, teknologi komputer sendiri sebenarnya juga berkembang secara spesifik ke arah penyimpanan dan penemuan kembali informasi. Sejak awal, teknologi ini di arahkan ke persoalan dasar “simpan dan temukan lagi” itu. Chu (2003) membagi seluruh perkembangan prinsip dan teknik menyimpan informasi berbantuan komputer ini dalam 4 periode, seperti ini:

  1. Periode Peningkatan Kebutuhan (Increased demand) 1940s – sampai awal 1950an, yaitu periode ketika Perang Dunia II sedang menuju penyelesaian, dan negara-negara sekutu (terutama Amerika Serikat) bekerja keras menghajar Jerman dan Jepang. Pada saat itu muncul keperluan besar untuk laporan dan dokumen teknis dari penelitian yang menyangkut persenjataan. Dari kebutuhan yang meningkat pada masa perang inilah lahir salah satu prinsip yang kemudian diterapkan dalam bidang komputer, yaitu coordinated indexes yang pertama kali disebut-sebut secara resmi pada tahun 1951.
  2. Periode Pertumbuhan Pesat (Rapid Growth) antara 1950an – 1980an, yaitu masa keemasan temu-kembali berbantuan komputer, saat teknologi ini diperkenalkan antara 1957 sampai 1959 oleh Hans Peter Luhn dalam bentuk mesin yang tidak hanya dapat melakukan penemuan informasi berdasarkan kecocokan kata kunci (keyword matching) saja, melainkan juga mengurutkan informasi secara sistematis (sorting), dan bahkan bisa melakukan analisis isi (content analysis) secara sederhana. Tahun 60an muncul DIALOG salah satu pionir dalam penyediaan informasi melalui jaringan terpasang (online database).
  3. Periode Penghapusan Mitos (Demystified Phase) antara 1980an – 1990an yaitu saat komputer pribadi (PC) dan keping penyimpan data (CDROM) semakin lama semakin besar daya tampungnya. Ketika online system sudah semakin berkembang, para pengguna sebenarnya tidak bisa memakai langsung. Jadi, harus ada para perantara (intermediaries) yang menggunakannya, antara lain karena sistem itu mahal dan sulit digunakan oleh orang awam. Maka lalu ada istilah end-users (orang yang tidak melakukan pencarian, tetapi minta bantuan pustakawan untuk melakukan pencarian). Keadaan baru berubah setelah PC dan CDROM ditemukan. Berbagai sistem informasi dibuat menjadi semakin mudah digunakan (user friendly), sehingga mitos tentang betapa sulitnya melakukan pencarian secara terpasang (online search) pun perlahan sirna.  Setiap orang lalu dapat melakukan pencarian tanpa harus meminta bantuan kepada pustakawan.
  4. Periode Jaringan (The Networked Era) tahun 1990an – sekarang, yaitu ketika teknologi telematika memungkinkan para pencari informasi ‘mengunjungi’ berbagai pusat penyimpanan data dan informasi yang berbeda-beda untuk melakukan pencarian secara bersamaan, atau dikenal juga dengan istilah pencarian berpencar (distributed searching). Perkembangan Internet pun akhirnya melahirkan fenomena pencarian tanpa bantuan siapa pun terhadap berbagai sumber informasi digital yang nyaris tak terhingga jumlahnya.

Pada saat komputer mulai digunakan dalam kegiatan menyimpan dan menemukan kembali informasi, diperkenalkanlah istilah information retrieval sebagai nama untuk bidang khusus yang memperhatikan persoalan penyimpanan dan penemuan kembali informasi elektronik atau digital. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah ini dibedakan dari data retrieval. Baeza-Yates dan Riberio-Neto (1999) merumuskan perbedaan antara keduanya sebagai berikut:

Information Retrieval (IR) deals with the representation, storage, organization of, and access to information items. The representation and organization of the information items should provide the user with easy access to information in which he is interested … Data retrieval, in the context of an IR system, consist mainly of determining which documents of a collection contain the keyword in the user query which, most frequently, is not enough to satisfy the user information need.

Jadi, information retrieval merujuk ke keseluruhan kegiatan yang meliputi pembuatan wakil informasi (representation), penyimpanan (storage), pengaturan (organization) sampai ke pengambilan (access). Semua ini harus memudahkan pemakai sistem informasi untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Sementara itu, data retrieval memiliki lingkup yang lebih sempit, yaitu bagaimana mencocokkan antara kata-kata yang terkandung di sebuah dokumen dengan kata-kata yang digunakan seseorang dalam mencari informasi (dengan asumsi bahwa yang dicari adalah kata-kata dan dokumennya berisi kata-kata).

Seringkali ada kesalahpahaman tentang katalogisasi-klasifikasi dan information retrieval. Ada yang mengganggap bahwa keduanya adalah hal serupa, ada yang menganggap keduanya tidak serupa sama sekali, ada yang menganggap information retrieval menggantikan katalogisasi-klasifikasi. Padahal keduanya adalah hal yang berkesinambungan, tidak saling menggantikan, memiliki perbedaan yang mendasar, tetapi dibangun oleh prinsip dasar yang sama tentang penyimpanan dan penemuan kembali pengetahuan.

Rujukan:

Chu, Heting (2003), Information Representation and Retrival in the Digital Age, Medford NJ : Information Today

Baeza-Yates, Ricardo dan Berthier Riberio-Neto (1999), Modern Information Retrieval, New York : ACM Press.

5 Tanggapan to “Periodisasi Information Retrieval”

  1. arupphala said

    menurut bapak, info retrieval dibangun atas prinsip dasar yg sama dgn katalogisasi-klassifikasi… tapi melihat sekilas perkembangannya kayaknya kat-klass mulai ketinggalan jaman… meski sekarang cataloging rules sdg diupdate tapi kayaknya gak bakalan bisa memenuhi kebutuhan user. bagaimana menurut bapak?

  2. putubuku said

    Kalau yang dimaksud cataloging rules itu adalah AACR, setahu saya memang selalu diperbaiki agar sesuai dengan perkembangan teknologi. Untuk deskripsi bibliografi, kayaknya cataloging rules itu komprehensif banget, jadi nggak bakal terhapus dari muka bumi. Kalau yang dimaksud adalah perkembangan metadata digital, memang sekarang udah banyak banget, dan metadata inilah yang memenuhi ‘kebutuhan user’ yang tak terpenuhi oleh cataloging rules. Lalu OPAC juga sudah berkembang amat pesat, selain dalam interface juga dalam teknik retrieval. Sedangkan mengenai klasifikasi, saya nggak melihat ‘ketinggalan jaman’ tuh, walau pendekatan dan cara pembuatannya terus berubah. Kayaknya sampai kapan pun klasifikasi tetap diperlukan, walau tidak selalu harus dikaitkan dengan DDC atau UDC.

  3. arupphala said

    sebagaimana kata bapak cataloging rules itu “komprehensif banget’ sehingga terkadang ia terlalu rumit dan kompleks bagi sebagian pustakawan. Sebaiknya mungkin aturan itu dibagi dua: cataloging untuk deskripsi dan cataloging untuk keperluan akses (retrieval). Dan AACR misalnya tdk perlu mengatur2 tampilan deskripsinya biar user tdk perlu tahu apa arti “/ ; : s.n. s.l.” dll terlaul mendikte.. atu apakah memang harus ada aturan yg ketat seperti itu agar ‘retrieval’ lebih berkualitas?

  4. putubuku said

    Waduh.. yang kamu maksud dengan tampilan deskripsi itu kan cuma penanda. Kayak tanda baca, gitu loh.. Jadi, emang ribet, tapi emang juga perlu. Ketika pertumbuhan informasi semakin cepat, maka rasanya aturan-aturan itu semakin memperlambat proses kerja. Makanya, lalu ada upaya memilah-milah, mana yang perlu dikerjakan dengan ribet, mana yang tidak. Sedangkan kualitas retrieval memang ikut ditentukan oleh penanda-penanda itu, selain juga oleh relavansi antara istilah indeks dengan keperluan pencari informasi.

  5. riki said

    apa sih perbedaan yang sangat signifikan antara AACR dan ISBD ?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: