Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Jurus Memetik Berry

Posted by putubuku pada Maret 27, 2008

Pada umumnya, penelitian tentang information retrieval (IR) berdasarkan asumsi one query one use.  Maksudnya: ada seseorang mendatangi sebuah sistem informasi lalu mengajukan satu query (permintaan/pertanyaan) dan sistem memberikan jawaban. Itulah intinya. Kalau pun ada perubahan, maka diasumsikan bahwa sistem dapat memberikan “jawaban sementara” berupa tawaran-tawaran. Lalu si pemakai akan memperbaiki permintaan/pertanyaan (biasanya dengan membuatnya lebih spesifik) untuk mendapatkan jawaban yang lebih mengena.  Selanjutnya, sistem dapat memberikan lagi tawaran, dan si pemakai punya pilihan untuk melanjutkan upayanya atau cukup puas dengan apa yang ditawarkan sistem. Di sepanjang proses itu, hanya satu query di awal pemakaian lah yang dijadikan patokan dasar.

Pada tahun 1980-an banyak peneliti IR yang menemukan kenyataan bahwa asumsi di atas seringkali tak sebagaimana kenyataan di lapangan. Ada banyak bukti yang memperlihatkan bahwa one query one use hanya terjadi pada orang-orang yang sudah tahu benar apa yang dicarinya. Dengan kata lain, one query one use nyaris tidak problematik karena si pencari sudah punya bayangan tentang apa yang akan diperolehnya. Keadaan seperti ini hanya berlaku pada orang-orang yang sudah sangat berpengalaman dalam mencari informasi. Sebagian terbesar orang lainnya, tidak punya pengalaman dan tidak melakukan one query one use. Apa yang “orang kebanyakan” itu lakukan?

Marcia J. Bates, seorang peneliti perilaku informasi yang kini jadi profesor di UCLA (University of California, Los Angeles) menemukan bukti bahwa dalam keadaan sesungguhnya di kalangan sebagian besar pemakai sistem informasi, terjadi 4 hal yang dapat membantah asumsi one query one use, yaitu:

  1. Sifat permintaan/pertanyaan selalu dinamis, berganti-ganti sejalan dengan waktu. Bahkan satu orang pemakai dapat mengubah-ubah permintaan/pertanyaan dalam jangka pendek; tidak hanya mengubah istilah yang dipakai, tetapi mungkin juga mengubah keseluruhan permintaan/pertanyaannya. Mungkin saja, seseorang yang datang dengan satu pertanyaan sejak dia berangkat dari rumahnya, tiba-tiba mengubah pertanyaannya begitu duduk di depan komputer di perpustakaan.
  2. Dalam proses mencari informasi, seseorang lebih sering memungut sedikit-sedikit dan belum tentu menggunakan satu hasil pencarian sebagai patokan kepuasannya. Dia bisa saja mengumpulkan satu jawaban dari sini, satu jawaban dari sana, satu jawaban dari situ, lalu menghimpun butiran-butiran informasi untuk mengambil keputusan apakah dia akan berhenti mencari atau melanjutkan lagi.
  3. Walaupun mencari berdasarkan subjek (subject searching) adalah yang paling populer, namun dalam kenyataannya orang juga melakukan backward searching (mencari “mundur” dengan mengintip catatan kaki di sebuah artikel dan menjadikan informasi di situ sebagai dasar pencarian berikutnya), atau forward searching (mencari “maju” dengan melihat siapa mengutip siapa, alias mengikuti pola sitasi), atau journal run (hanya mencari dengan patokan nama jurnal-jurnal yang dianggap paling berwibawa dalam satu bidang tertentu), dan juga area scanning (menelusur secara agak serampangan alias browsing terhadap bidang-bidang yang dianggap berkaitan dengan topik pencarian).
  4. Orang yang bergerak di satu bidang akan memperlihatkan cara dan kebiasaan mencari berbeda dari bidang lainnya. Misalnya, para pencari dari bidang kedokteran memperlihatkan kebiasaan berbeda dibandingkan yang datang dari bidang pertanian. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari perbedaan dalam perilaku yang berkaitan dengan tiga hal yang telah dijelaskan sebelumnya. Seorang peneliti biologi mungkin akan lebih sering melakukan forward searching daripada seorang sosiolog. Seorang peneliti ilmu politik mungkin akan lebih dinamis dalam mengubah-ubah pertanyaan dibandingkan seorang peneliti kimia.

Berdasarkan keempat kenyataan di atas, Bates lalu menyatakan bahwa cara orang mencari informasi sangat mirip dengan cara orang-orang di desanya memetik buah berry (atau arbei). Orang-orang itu tidak punya satu pola yang sama, cenderung berpindah-pindah lahan menuruti keadaan cuaca, memetik sedikit-sedikit dari satu pohon, dan sering berpindah-pindah pohon untuk menemukan berry yang terbaik.

Teorinya lalu diberinama berrypicking alias Jurus Memetik Berry.

Silakan kunjungi situs profesor Bates di http://www.gseis.ucla.edu/faculty/bates/ 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: