Konon lintah datang dari sawah turun ke kali, cinta datang dari mata turun ke hati. Lalu, darimana datangnya “membaca”? Sebagian orang mengatakan, kebiasaan membaca datang dari rumah. Anak-anak yang lahir dan besar di keluarga yang suka membaca, akan tumbuh menjadi anak yang suka membaca. Sebaliknya, anak-anak yang datang dari keluarga tak membaca, akan tumbuh menjadi anak yang kurang menyukai buku dan bacaan.
Hmmm… begitu sederhana dan linear, ya? Kalau memang “teori” di atas memang benar, malang betul nasib anak-anak yang lahir di keluarga tak mampu, yang tak punya bacaan selain koran bekas bungkus ikan asin atau majalah usang yang kebetulan tercecer di pinggir jalan. Beruntunglah anak-anak kelas menengah atas, yang keluarganya mampu menyisihkan lebih dari cukup uang untuk membeli buku selain permainan elektronik dan berbagai gadget musik+komunikasi+video (baca: telepon selular!).
Bagi anak-anak yang datang dari keluarga tak mampu, pergi ke sekolah mungkin jadi satu-satunya jalan untuk menjajal dunia baca-tulis. Dan mereka yang tinggal bersebelahan dengan perpustakaan desa atau perpustakaan umum mungkin akan lebih beruntung lagi. Apakah anak yang “dibesarkan” di sekolah dan di perpustakaan akan berbeda dalam hal membaca, dibanding mereka yang tak kekurangan pasok buku di rumah?
Pertanyaan ini bukan melulu soal teknik membaca -sesuatu yang seringkali diajarkan lewat sekolah semata. Artinya, anak dari keluarga mampu, keluarga sedang, maupun keluarga tak mampu sama-sama mendapatkan keterampilan mengeja dan membaca teks dari sekolah (dengan asumsi sekolah itu terjangkau orang miskin, lho..). Dengan asumsi ini, kita boleh menganggap bahwa setiap anak yang pergi ke sekolah dan tidak membolos pelajaran bahasa, akan sama-sama punya kemampuan teknik membaca, tak peduli dia anak saudagar atau anak buruh.
Persoalannya adalah pada: apa yang mereka anggap patut dibaca, bacaan-bacaan apakah yang mereka akhirnya pilih ketika dewasa kelak? Dengan kata lain, kita boleh menyoal apakah ada perbedaan diskursus (discourse) dalam membaca antara anak-anak yang dibesarkan oleh buku-buku pilihan orangtua mereka dan anak-anak yang mengenyam buku hasil pilihan guru atau pustakawan. Lalu, dengan asumsi bahwa pilihan guru dan pilihan pustakawan berbeda, apakah ada perbedaan selera antara anak-anak yang tumbuh dengan buku-buku di luar rumah, dan anak-anak yang tumbuh dengan buku pemberian orangtua?
Persoalan perkembangan diskursus membaca di masyarakat ini menjadi kajian menarik bagi para ahli membaca dan literasi. Dalam beberapa penelitian, terlihat bahwa ada semacam “tensi” (ketegangan akibat perbedaan) antara selera baca “rumahan” dan selera baca “luar rumah”. Kalau kita tahu bahwa membaca bukanlah melulu teknik mengeja teks, tetapi juga bagaimana mencerna, mengaitkan, memahami, dan bahkan mendebat isi buku, maka adalah wajar jika timbul kecurigaan bahwa kebiasaan membaca sangat dipengaruhi oleh di mana seorang anak dibesarkan.
Teori tentang pengaruh masa kanak-kanak sudah banyak dikaitkan dengan perkembangan budaya teks dan keterampilan membaca-menulis di perguruan tinggi (lihat Canagarajah, 2002; Delpit, 1995; Fox, 1994). Kemampuan menyerap pengetahuan dengan membaca buku ilmiah dan kemampuan menulis argumen untuk tugas-tugas kuliah, ternyata dapat dikaitkan dengan bagaimana seorang anak dibesarkan dan buku-buku apa yang dibacanya. Tak selalu bahwa anak-anak yang lahir di keluarga mampu, akan memiliki keterampilan membaca dan berargumentasi yang memadai ketika di perguruan tinggi. Mungkin saja, buku-buku pilihan orang tua mereka justru menjadikan mereka orang yang kurang kritis dan kurang mampu berargumentasi, sementara “anak-anak jalanan” yang besar dengan buku tanpa sensor, mungkin akan berkembang menjadi orang yang kritis dan pandai berargumentasi.
Bacaan dan ketersediaan bacaan di rumah dan di sekolah Juga dikaitkan dengan bagaimana seseorang bersikap terhadap bacaan ketika ia sudah dewasa (Dyson, 1997; Lillis, 2001; Tate, 1998). Jika muncul kontroversi tentang sebuah bacaan, maka kita dapat melacak sikap pro-kontra seseorang ke masa kanak-kanaknya. Misalnya, dapat diduga bahwa akan ada pro-kontra tentang buku pelajaran reproduksi manusia, yang sangat mungkin berisi penjelasan tentang hubungan kelamin. Dapat diduga, orang yang masa kanak-kanaknya tumbuh di keluarga liberal dan bersekolah di sekolah yang juga liberal, akan bersikap lebih relaks. Sementara mungkin ada orang yang terus bimbang, sebab barangkali ia dulu bersekolah di sekolah yang liberal, tetapi datang dari keluarga yang konservatif. Banyak pula orang yang mungkin menjadikan pengalaman di sekolah dan perpustakaan umum sebagai landasan sikap mereka.
Demikian pula kontroversi tentang buku-buku “terlarang” dan pornografi. Sangatlah menarik untuk menyelidiki seberapa jauh perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum punya peran dalam membentuk pro dan kontra di masyarakat. Ini topik yang menarik banget, yaa..
Bacaan yang mungkin perlu dibaca jika tertarik topik ini adalah:
Canagarajah, A.S. (2002). A geopolitics of academic writing. Pittsburgh, PA: University of Pittsburgh Press.
Delpit, L. (1995). Other people’s children: Cultural conflict in the classroom. New York: The New Press.
Dyson, A.H. (1997). Writing superheroes: Contemporary childhood, popular culture, and classroom literacy. New York: Teachers College Press.
Fox, H. (1994). Listening to the world: Cultural issues in academic writing. Urbana, IL: National Council of Teachers of English.
Lillis, T.M. (2001). Student writing: Access, regulation, desire. London: Routledge.
Tate, G. (1998). “Halfway back home”. dalam A. Shepard, J. McMillan, & G. Tate (Eds.), Coming to class: Pedagogy and the social class of teachers (hal. 252-261). Portsmouth, NH: Boynton/Cook.