Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Archive for the ‘Ilmu informasi’ Category

Analisis Sitasi : Mengukur Mengutip

Posted by putubuku pada Oktober 18, 2008

Kehidupan ilmuwan dan pustakawan selalu bergelimang kutipan. Sejak awal kelahiran ilmu pengetahuan dan perpustakaan-perpustakaan ilmiah, kegiatan kutip mengutip sudah lahir. Maka tidaklah mengherankan kalau analisis sitasi dianggap cabang bibliometika dan informetrika yang paling besar, serta dinamakan juga citation studies. Fokusnya adalah pada kaitan antar publikasi (publication-publication link). Lebih tepatnya lagi, kajian sitasi ini mempelajari seberapa banyak atau sering sebuah karya atau seseorang dikutip oleh karya lainnya.

Ini agak sedikit berbeda dari analisis rujukan (reference analysis) yang mempelajari sisi “rujukan-ke” dari kaitan antar publikasi itu (atau sisi si pengutip). Perbedaan lain antara analisis sitasi dan analisis rujukan adalah pada kenyaaan bawa daftar rujukan di setiap dokumen bersifat tetap (dengan demikian berciri “ke dalam” atau intrinsic), sementara daftar rujukan ke sebuah dokumen bersifat “ke luar” atau extrinsic. Daftar rujukan merupakan serangkaian dokumen yang perujukannya dibalik (yang didaftar adalah dokumen yang dirujuk, bukan yang merujuk) serta dapat diperluas sejalan dengan waktu, karena sebuah dokumen bisa saja terus menerus dikutip sepanjang waktu.

Kajian sitasi memanfaatkan pangkalan data indeks sitasi yang dibuat oleh Institute for Scientific Information (ISI), walau ada juga analisis sitasi yang memakai pangkalan data regional atau bahkan lokal.

Analisis sitasi juga mengandung beberapa pengkhususan, yaitu:

Teori pengutipan (the theory of citing).

Sebuah topik khusus yang mempelajari bagaimana teks “berkomunikasi” atau berhubungan dengan teks lainnya. Tentu saja teori ini mengandalkan pengenaan ukuran-ukuran kuantitatif terhadap fungsi itu. Dalam cabang kajian tentang pengutipan ini biasa ada pembahasan tentang bagaimana sebuah dokumen dikutip di dokumen lain karena dokumen yang dikutip itu menyediakan informasi yang relevan terhadap riset yang sedang ditulis di dokumen yang mengutip, misalnya dalam hal metode, landasan pemikiran, dan sebagainya. Pengutipan tidak perlu menyeluruh. Jika kita asumsikan bahwa semua kutipan bersifat serupa dalam hal sumbangannya kepada artikel pengutip, maka ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik:

  • Semakin sering sebuah dokumen dikutip, maka semakin besar lah dokumen itu memberi kontribusi informasi, dan semakin besarlah pengaruhnya pada penelitian yang sedang dilaporkan di dalam dokumen pengutip. Ukuran dari pengaruh atau dampak (impact) ini adalah jumlah pengutipan.
  • Berapa kali sebuah dokumen dikutip dalam satu rentang waktu tertentu menunjukkan berapa banyak informasi di dalam dokumen tersebut berguna untuk sebuah riset. Jika frekuensinya menurun, maka dokumen tersebut semakin tidak relevan, sampai akhirnya menjadi usang alias obsolete.
  • Jika dua dokumen bersama-sama dikutip oleh dokumen ketiga, maka kedua dokumen tersebut bersama-sama memberi sumbangan. Semakin sering dua dokumen dikutip bersama (co-cited), maka semakin dekatlah hubungan kedua dokumen tersebut. Kayak dua orang yang sering jalan bareng pastilah ada “apa-apa”nya.. :-)

Kinerja sitasi dan ukuran pemanfaatan (citation performance and usage measure).

Secara awam kita dapat menyimpulkan bahwa frekuensi sebuah dokumen dikutip dapat dianggap sebagai ukuran dari dampak dan pegaruh dokumenter sebut. Premis ini dapat diperluas untuk kumpulan (agregat) dokumen, misalnya untuk karya-karya seorang penulis atau untuk sebuah jurnal tertentu. Daftar indeks sitasi yang diproduksi ISI selalu menggunakan pengukuran ini, yang disebut sebagai impact factor.

Berdasarkan pengukuran ini, ISI menetakan besaran dampak sebuah jurnal tertentu di tahun tertentu, yang merupakan jumlah sitasi di tahun itu ke artikel di jurnal yang bersangkutan pada periode dua tahun sebelumnya, dibagi jumlah total artikel yang muncul di jurnal itu dalam dua tahun. Besaran dampak ini juga dipakai untuk menghitung kontribusi ilmiah dari seseorang ilmuwan, sekelompok ilmuwan, departemen, institusi, displin, dan negara.

Pengukuran besaran dampak ini sebenarnya juga harus memperhitungkan perjalanan waktu dari pengutipan-pengutipan tersebut. Dari sini lah lahir kajian tentang tingkat penggunaan dan keusangan (obsolescence studies). Bagi buku atau monograf, profil penggunaan dan keusangan ini dapat dilihat dari data sirkulasi walau kegunaan ukuran ini agak terbatas karena hanya berlaku untuk lingkungan pengguna perpustakaan bersangkutan.

Untuk artikel ilmiah, jumlah pengutipan adalah lebih baik untuk mengukur manfaat. Namun ada yang harus digarisbawahi, yaitu biasanya ada jarak antara waktu publikasi dan waktu pertama artikel itu dikutip, lalu jumlah sitasi naik sejalan dengan waktu, sampai mencapai titik maksimum (disebut titik impulse atau titik kematangan), dan akhirnya tingkat pengutipan turun sampai menjadi nol, atau mencapai masa keusangan. Inilah yang dipelajari dan dipakai untuk melihat apa yang disebut “profil penuaan dokumen” (aging profiles). Iseng-iseng mungkin juga dapat dipakai untuk membuat “profil penuaan diri sendiri”.. he he he.

Analisis ko-sitasi dan pemetaan literatur (co-citation analysis and literature mapping)

Jika ada beberapa dokumen saling mengutip, tentunya kita dapat mengukurnya sebagai proses pertukaran informasi dan sebagai sebuah fenomena antar disiplin. Apa yang disebut sebagai hubungan pasangan (pairwise relationhsips) antar dokumen dapat dilihat sebagai ukuran kesamaan relevansi, atau kesamaan kandungan subjek. Lalu digunakan lah teknik taksonomi numerik untuk membuat sebuah klasifikasi hirarkis berdasarkan derajat kesamaan sebagai cara memahami sifat hubungan antar dokumen tersebut.

Untuk mengubah matriks kaitan ko-sitasi antar sepasang unit (baik itu dokumen, pengarang, dan jurnal) menjadi klasifkasi hirarkis berdasarkan derajat kesamaan yang terlihat di kaitan itu, diperlukan serangkaian keputusan, yaitu:

  • pemilihan ambang (threshold) sitasi dan ko-sitasi untuk memastikan bahwa matriks data mentah akan menghaslkan struktur persamaan yang masuk akal,
  • pemilihan indeks untuk mengukur derajat kesamaan yang akan didapat dari data ko-sitasi mentah, karena indeks yang berbeda akan menghasilkan hirarki berbeda (diusulkan memakai Jacard Index dan Salton’s cosine formula),
  • pemilihan prosedur pengelompokan (clustering) terhadap data yang sudah ditransformasi. Hasil dan data dalam matriks juga dapat diinterpretasi dengan cara berbeda, yaitu jika angka-angka sudah memadai, maka besaran ketidaksamaan antar objek dapat dipetakan ke bentuk hubungan biner yang memperlihat jarak antar objek, sehingga relasi dalam matriks dapat digambarkan dalam ruang fisik. Untuk mencapai ini, matriks objek dan jarak antar mereka harus ditempatkan dalam kerangka dimensional. Dalam teknik visualisasi ini persoalan utamannya adalah reduksi jumlah dimensi yang diperlukan untuk memasukkan semua jarak antar objek dalam satu gambar. Untuk ini, yang paling umum digunakan adalah multidimensional scalling (MDS).

Keseluruhan analisis sitasi terhadap karya-karya ilmiah ini kemudian dapat diletakkan dalam konteks perkembangan ilmu antar negara, atau di satu negara. Tentu saja, para peminat analisis sitasi ini bekerja dengan ukuran dan angka serta statistika. Mau coba? Belajar berhitung dulu, yaa.. :-)

Posted in Ilmu informasi, Teori | Dengan kaitkata: , | 3 Comments »

Berkenalan dengan Actor-Network Theory

Posted by putubuku pada September 17, 2008

Perkembangan teknologi informasi yang amat pesat, terutama yang berkaitan dengan Internet, sering membuat kita terpana. Setelah terpana, kita lalu juga sering bertanya: apa sesungguhnya yang menggerakkan perkembangan itu? Apalagi setelah kita melihat berbagai dampak teknologi  -entah itu ‘positif’, atau ‘negatif’, atau ‘netral’-  muncul pertanyaan: apakah kita, sebagai masyarakat, punya kendali atas perkembangan itu? Di bidang perpustakaan dan informasi, perkembangan teknologi selalu menimbulkan isyu dan kontradiksi antara kemudahan versus kesenjangan, kemerdekaan versus kontrol, kemajuan peradaban versus dekadensi.

Kekaguman pada teknologi informasi sering menjadi basis bagi pandangan positivistis dan deterministik. Pandangan ini menyatakan bahwa teknologi informasi sudah pasti menimbulkan dampak yang sudah dapat diduga sebelumnya. Misalnya, pandangan-pandangan deterministik selalu yakin bahwa komputer dan Internet pasti menghasilkan liberalisasi informasi, memajukan perekonomian, dan membawa kesejahteraan. Atau sebaliknya, pandangan fatalis menganggap bahwa Internet pasti akan menimbulkan kekacauan moral, dekadensi, kejahatan antar-negara. Di bidang perpustakaan dan informasi, teknologi selalu dilihat sebagai pisau bermata-dua: di satu sisi mempermudah akses, di sisi lain menimbulkan kekacauan organisasi informasi dan kesenjangan digital.

Pandangan yang berlawanan dari kaum deterministik adalah pandangan strukturasi, mengambil basis dari kaum kontruktivistis dan teori strukturasi Giddens. Menurut pandangan ini, teknologi tak punya dampak langsung dan bukan faktor penentu, sebab ia merupakan alat semata sehingga tergantung pada masyarakat yang menggunakannya. Secara ekstrimnya muncul anekdot, “It’s not the gun, but it’s the man behind the gun..”.  Namun pandangan ini dianggap justru mirip pandangan deterministik, sebab menganggap bahwa pasti masyarakat lah yang menentukan dampak sebuah teknologi. Pandangan yang lebih “lunak” dari kaum kontruktivistis menganggap bahwa teknologi adalah sebuah struktur-sosial, dan karenanya ia bukan satu-satunya penentu walaupun dapat memengaruhi perkembangan sebuah masyarakat.

Dalam pandangan kaum penganut konstruktivis dan strukturasi, semua inovasi dan pemanfaatan teknologi selalu merupakan proses tawar-menawar antara alat dan penggunanya. Setiap teknologi selalu punya dua potensi, yaitu mendukung (enabling) dan menghalangi (constraining) tindakan-tindakan manusia. Penulis-penulis di bidang sistem informasi seperti Wanda Orlikowski dan Geoff Walsham gemar menggarisbawahi keadaan ini. Almarhum Rob Kling adalah penulis lain yang gigih menentang pandangan determinisme teknologi, terutama dengan menegaskan sisi kemasyarakatan dalam aplikasi teknologi informasi, sehingga kini kita mengenal istilah social computing. Dari kubu ilmu perpustakaan, nama-nama seperti Wilson dan Saracevic telah sejak lama mengajak peneliti memperhatikan aspek pengguna, diikuti oleh penulis-penulis Eropa Utara seperti Savolainen dan Tuominen.

Namun pandangan konstruktivistis yang berbasis strukturasi pun dianggap kurang memadai untuk memahami kompleksitas teknologi. Terutama, pandangan yang meminjam teori sosial dari Giddens kurang jelas menggambarkan sisi teknis dari sebuah teknologi,  dan dianggap terlalu condong ke persepsi orang tentang sebuah mesin. Pihak pembuat dan perancang teknologi seringkali tersamarkan, atau bahkan tak ada dalam gambar strukturasi. Secara becanda, orang sering bilang, pandangan strukturasi ini “terlalu sosialis”.

Untuk memperjelas sisi mesin atau sisi fisik dari sebuah teknologi, Orlikowski pernah mencoba membagi dua teknologi menjadi: technological artifact dan technology-in-practice. Sebagai artefak, jelaslah bahwa teknologi terlihat ‘berbentuk fisik’, sementara ‘praktik berteknologi’ terlihat sebagai aktivitas manusia (tentang technologi practice pernah dibahas pula di blog ini dengan judul Kepustakawanan Sebagai Praktik Teknologi). Persoalannya sekarang adalah: bagaimana menjelaskan kaitan antara teknologi sebagai artefak (disain, prosedur, mekanisasi, proses kerja) dengan praktik penggunaannya (norma, aturan, kebiasaan, tujuan hidup).

Dari kritik terhadap kekurangan-kekurangan pandangan strukturasi inilah lahir serangkaian teori yang disebut ANT alias Actor Networks Theory. Pionir dari teori ini adalah dua jawara Prancis, yaitu Michel Callon (lihat situsnya di sini) dan Bruno Latour (di sini). Walaupun ANT bukan teori yang spesifik dikembangkan untuk memahami teknologi informasi, tetapi teori ini membantu banyak peneliti teknologi dan sistem informasi dalam memahami praktik teknologi sebagai sebuah jaringan antar manusia dan antar aktor. Inti dari teori ini menyatakan bahwa segala hal dapat dilihat sebagai keterkaitan antar aktor (manusia dengan manusia, manusia dengan non-manusia, non-manusia dengan non-manusia). Di dalam teori ini, secara kasarnya, manusia maupun non-manusia (misalnya komputer atau artefak teknologi lainnya) adalah sama, “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”.

Dalam bidang informasi dan perpustakaan, ANT dianggap cocok untuk menjelaskan kaitan antara artefak dan konteks sosial, termasuk proses penyesuaian antara karakteristik teknologi dan kemauan manusia. Dengan teori ini, maka semua aktor, baik dari pihak artefak maupun dari pihak pemanfaat atau pengguna, masuk dalam hitungan. Dus, misalnya kita ingin mengkaji penerapan teknologi komputer dalam bentuk perpustakaan digital (digital libraries) di perguruan tinggi, maka kita memberikan perhatian yang adil, baik terhadap disain teknologi mapun pemanfaatannya oleh mahasiswa .  Secara khusus, teori-teori yang berkategori ANT dapat membantu kita memahami bagaimana ide, nilai, atau pun norma masyarakat manusia tertanam di dalam sebuah teknologi. Perhatikanlah bahwa biar bagaimana pun ANT adalah “teori sosial”, sehingga teknologi tetap dianggap sebagai bagian dari masyarakat manusia.

Kelebihan ANT dibandingkan strukturasi terletak pada pengakuan yang cukup pada peran disain dan tujuan pembuatan alat (keduanya melibatkan manusia juga, lho..), selain pada peran masyarakat pengguna. Lewat teori ANT, peneliti sistem informasi dapat memasukkan tahap-tahap teknis dalam pengembangan sebuah aplikasi komputer di sebuah organisasi manusia, dan dapat melihat proses pengembangan itu sebagai sebuah jaringan antar aktor yang saling memengaruhi. Dus, pada akhirnya teori-teori yang merujuk ke ANT ini melihat teknologi sebagai sebuah keseluruhan dan gabungan dari potongan-potongan yang saling nyangkut tanpa dapat dipisahkan begitu saja. Teknologi bukan melulu artefak, dan bukan melulu pemanfaatannya, melainkan negosiasi yang terus menerus antara keduanya, melibatkan berbagai aktor baik berupa manusia maupun non-manusia.

Internet dan perkembangan social network dalam bentuk blogging, Web 2.0, dan Facebook merupakan lahan amat subur bagi penerapan teori-teori berbasis ANT. Anda mau mencoba? :-)

Silakan tengok dulu situs ini:

Bacaan:

Hanseth, O., Aanestad, M., dan Berg, M. (2004), “Actor-network theory and information systems. What’s so special?”, dalam Information Technology & People Vol. 17 No. 2, hal. 116-123.

Mahring, M., Holmstrom, J., dan Montealegre R. (2004), “Trojan actor-networks and swift translation : Bringing actor-network theory to IT project escalation studies” dalam Information Technology & People Vol. 17 No. 2, hal. 210-238.

Posted in Ilmu informasi, Organisasi, Teori | Dengan kaitkata: , | 4 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.