Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Arsip untuk ‘Definisi’ Kategori

Definisi Zins

Posted by putubuku pada April 9, 2008

Zins (2006) mempertanyakan istilah ‘ilmu informasi’ karena ia berpendapat bahwa ‘informasi’ merupakan satu dari tiga serangkai data–informasi–pengetahuan. Mengapa tidak ada ‘ilmu data’ (data science), dan mengapa justru bukan ‘ilmu (tentang) pengetahuan’ (knowledge science)?

Pada umumnya kita menganggap ilmu perpustakaan dan informasi berurusan dengan data, informasi, dan pengetahuan. Lalu, jika di antara ketiganya, ‘pengetahuan’ berada di tingkatan tertinggi dalam urutan tersebut (sebab data adalah bahan mentah dari informasi, dan informasi adalah bahan mentah dari pengetahuan), maka tentunya yang lebih benar adalah ‘ilmu (tentang) pengetahuan’, bukan ‘ilmu informasi’.

Zins kemudian mengulas kesamaan antara data, informasi, dan pengetahuan sebagai sesuatu yang direpresentasikan atau diwujudkan dalam bentuk simbol empiris (simbol yang dapat dikenali pancaindera). Secara khusus Zins mengentarai bahwa ‘pengetahuan’ yang dipersoalkan dalam berbagai penelitian selama ini adalah pengetahuan dalam bentuknya yang objektif (objective knowledge), dan yang sebenarnya merupakan perwujudan atau pengejawantahan pengetahuan subjektif (subjective knowledge).

Dari cara pikir Zins ini, maka yang selama ini kita maksud dengan ‘data’, adalah serangkaian simbol yang dapat menimbulkan rangsang inderawi atau persepsi, sementara ‘informasi’ adalah serangkaian simbol yang menimbulkan pengetahuan empirik, dan ‘pengetahuan’ itu sendiri akhirnya adalah serangkaian simbol yang menimbulkan makna bagi seseorang yang percaya pada kebenarannya.

Dari cara berpikir di atas pula, maka manusia adalah faktor kunci dalam menentukan apakah serangkaian simbol dapat dianggap sebagai data, atau sebagai informasi, atau sebagai pengetahuan, atau sebagai sesuatu yang tidak ada maknanya sama sekali. Dari sini Zins menyimpulkan bahwa ilmu informasi terfokus pada domain objektif dan harus dipisahkan secara jelas dari ilmu kognitif atau neuroscience. Psikologi kognitif dan neuroscince meneliti proses berpikir dan belajar, sementara ilmu informasi mengurusi domain objektif, terutama dalam bentuk aspek-aspek meta-knowledge, terutama lagi aspek teknologi dan mediator.

Menurut Zins, ilmu informasi menyelidiki fenomena, objek, dan kondisi yang memfasilitasi aksesibilitas ke pengetahuan. Ilmu ini merupakan bagian sekelompok bidang yang membangun landasan meta-pengetahuan bagi pengetahuan umat manusia. Kelompok ini adalah: epistemologi, filsafat ilmu pengetahuan, sosiologi pengetahuan, metodologi ilmu, dan ilmu informasi.

Zins memperbaiki definisi yang dipakai Information Science Abstract, dengan  menambahkan:

  1. Ilmu informasi berurusan dengan lingungan (sosial, termasuk hukum, norma, kode etik), organisasi, isi informasi, dan aspek teknologi dari pengetahuan.
  2. Ilmu informasi mempelajari ‘industri pengetahuan (knowledge industry) dalam konteks sosial maupun teknologi. 
  3. Ilmu informasi tidak berurusan dengan penggunaan informasi. Alasannya: profesi informasi tidak menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah. Dalam sistem informasi manajemen, para manajerlah yang menggunakan informasi. Dalam sistem informasi medik, dokter lah yang menggunakannya. Jadi, ilmu informasi menekankan pada sisi peran perantara (mediatory) sumber dan pengguna.

Pendapat Zins yang nomor 3 di atas segera mengundang kritik, terutama dari peneliti yang selama ini melihat proses pencarian, penemuan, dan penggunaan informasi sebagai satu kesatuan.  Selain itu, butir ketiga di atas juga mengesankan netralitas di bidang infomasi  -suatu pandangan yang dianggap absurd oleh para peneliti yang memakai pandangan Teori Kritis (critical theory). Dalam pandangan Teori Kritis, keseluruhan sistem informasi pasti memiliki ‘maksud’ dan penggunaan informasi adalah bagian dari ‘maksud’ itu.

Bacaan:

Zins, C. (2006), “Redefining information science: from ‘information science’ to ‘knowledge science’” dalam Journal of Documentation, vo. 62 no. 4, h. 447 – 461.

Ditulis dalam Definisi, Teori | Leave a Comment »

Definisi Vickery & Vickery

Posted by putubuku pada Maret 30, 2008

Menurut Vickery dan Vickery (1987) ilmu informasi muncul dari persoalan komunikasi dalam masyarakat, terutama yang menyangkut transfer informasi dari sumber ke pengguna, dan terutama lagi transfer yang menggunakan sebentuk dokumen. Dalam dunia moderen, transfer dokumen ini meningkat dan menimbulkan berbagai persoalan. Fenomena tentang transfer dokumen inilah yang menurut mereka menimbulkan kegiatan pengelolaan. Pada awalnya kegiatan pengelolaan ini dilakukan sebagai “craft, with skills often learnt by apprenticeship” (pertukangan, berdasarkan keterampilan yang didapat lewat latihan magang). Baru belakangan ada upaya membuatnya ilmiah.

Ketika menjadi ilmiah, menurut Vickery & Vickery,  muncullah tiga wilayah studi, yaitu:

  1. Kajian di kalangan pihak yang berurusan dengan pengelolaan pengetahuan berdasarkan subjeknya (subject organization of recorded knowledge), yang kemudian menjelma menjadi apa yang disebut teori dan praktik klasifikasi. Kegiatan yang sebelumnya terlihat teknis-prosedural ini mendapat dukungan teori Ketika H.E. Bliss tahun 1926 mempublikasikan karyanya tentang bibliographic classification. Buku ini mendapat dukungan dari John Dewey, seorang filsuf, yang menulis kata pengantarnya.
  2. Studi kuantitatif terhadap produksi bibliografis (bibliographic production). Salah satu pencetus “statistical bibliography” adalah E.W. Hulme di tahun 1922. Lalu tahun 1934 Bradford dan Lancaster Jones pertama kali memperlihatkan hal yang menarik tentang distribusi bibliometrik.
  3. Pada periode sama dengan semakin populernya bibliometrik, muncul survei tentang bagaimana masyarakat menggunakan buku dan perpustakaan. Kajian awalnya dilakukan oleh Waples. Pada periode ini pula muncul Ranganathan yang membuat formulasi “five laws of library science”. Dia memang menegaskan bahwa hukumnya ini bukanlah generalisasi ilmiah (scientific generalizations), melainkan “norms, percepts, guides to good practice” dalam serangkaian kalimat yang amat terkenal “Books are for use; every reader his book; every book its reader; save the time of the reader, and of the staff; a library is a growing organism”.

Ketiga bidang kajian itu kemudian berkembang lebih lanjut. Menurut Vickery dan Vickery ada empat hal yang menjadi fokus perhatian:

  1. Fenomena dan persoalan dalam komunikasi di kalangan ilmuwan dan teknologi, yang melahirkan topik khusus bernama ‘informasi ilmiah’ (science information).
  2. Penggunaan teknologi, terutama teknologi komputer dan telekomunikasi, dalam pengelolaan informasi. Tajuk untuk topik ini seringkali secara umum disebut ‘teknologi informasi’ (information technology).
  3. Penerapan metode ilmiah untuk mengatasi masalah-masalah praktis di bidang informasi, atau disebut juga ‘kajian sistem informasi (information systems study).
  4. Penelitian ilmiah tentang komunikasi informasi di dalam masyarakat. 

Vickery dan Vickery menganggap no. 4 adalah pengertian ilmu informasi. Mereka juga menegaskan bahwa ilmu informasi tidak hanya berurusan dengan komunikasi informasi ilmiah, tetapi juga komunikasi informasi tentang berbagai aspek kehidupan lainnya.  Kita dapat melihat dengan jelas bahwa Vickery dan Vickery amat dipengaruhi oleh pandangan mekanistik tentang komunikasi, sebagaimana yang dipelopori oleh Shannon dan Weaver.

Bacaan:

Vickery, Brian C. dan Alina Vickery (1989) Information Science in Theory and Practice, London : Bowker Saur.

Ditulis dalam Definisi | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.