Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Keberaksaraan, Media, dan Sikap Kritis

Posted by putubuku pada Juni 19, 2008

Konsep keberaksaraan atau literasi mengandung harapan tentang keterampilan dan pengetahuan dalam membaca, memahami, dan menghasilkan teks sebagai bagian dari perangkat dan kapasitas intelektual seseorang jika ia ingin berpartisipasi secara penuh di kebudayaan dan masyarakat tempatnya hidup. Secara umum kita sepakat bahwa pendidikan dan keberaksaraan adalah dua hal yang saling berkait erat.

Secara spesifik, keberaksaraan adalah sebuah kompetensi yang terutama amat diperlukan agar seseorang dapat secara efektif mempelajari dan menggunakan berbagai format dan representasi komunikasi yang diciptakan oleh sebuah masyarakat. Kompetensi ini seringkali berkaitan pula dengan kesepakatan dan aturan yang ada di masyarakat bersangkutan. Itu sebabnya keberaksaraan seringkali terlihat sebagai hasi dari sebuah “konstruksi sosial” yang dilakukan di sekolah dan institusi-institusi budaya, baik secara formal maupun secara non-formal dan informal. Seringkali pula “konstruksi sosial” ini dilakukan melalui wacana atau diskursus terbuka. Tak jarang, wacana ini dibentuk secara populer dan “bergaya”, misalnya dalam bentuk kelompok-kelompok penggemar buku yang bertemu sebulan sekali untuk ngobrol dan ngopi di sebuah kafe.

Dalam dunia yang berputar amat cepat seperti sekarang ini, keberaksaraan seringkali juga melibatkan pergeseran-pergeseran dalam rangka menanggapi sebuah perkembangan baru. Misalnya, reformasi politik di Indonesia menimbulkan keinginan menggebu untuk membebaskan diri dari pembatasan informasi. Keinginan ini dapat berwujud dalam bentuk sebuah kelompok penggemar komik yang membahas berbagai karya komikus dunia. Atau dapat muncul sebagai tren menyukai kisah-kisah perjalanan ke negeri orang lain yang dilengkapi dengan diskusi dengan pengarangnya. Atau dapat pula menjelma menjadi kelompok penggemar buku “kiri” yang gandrung membahas karya-karya Marx  -sebuah nama yang tabu disebut secara terbuka di jaman Suharto.

Seringkali keberaksaraan juga muncul sebagai reaksi yang tak kalah kuatnya untuk mengembalikan hegemoni sebuah kelas, atau mengembalikan “ketertiban” yang sudah terganggu oleh kesukacitaan reformasi. Dus, apa yang disebut sebagai “gerakan membaca” seringkali berisi “titipan” daftar bacaan yang “patut dibaca”  -sebuah upaya halus untuk mengajak orang lain “ikut kita, yuk..”. Kelompok-kelompok bacaan bermunculan di desa-desa, membawa gaya hidup orang kota yang didukung buku-buku bersampul licin dan cerita-cerita tentang modernisasi. Kelompok-kelompok yang didukung ideologi besar, baik berbasis agama maupun partai politik, bermunculan dalam bentuk blog dengan teks yang riuh rendah membicarakan kehebatan dan “kemurnian” diri mereka masing-masing.

Tambah hiruk pikuk pula fenomena keberaksaraan saat ini manakala kita melihat bahwa teks bukanlah semata yang tertera di atas kertas atau pita seluloid. Format media sudah menjadi amat beragam, dan ucapan filsuf Marshall McLuhann bahwa the medium is the message terngiang-ngiang di telinga semua orang. Keberaksaran lalu bukan hanya menyangkut teks per se, melainkan juga menyangkut media. Dus, ada yang gemar berucap tentang keberaksaraan media alias literasi media (media literacy).

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat pada umumnya, muncul perdebatan tentang media, terutama tentang “media baru” yang kehadirannya bikin jantung deg-degan. Contoh paling kongkrit tentunya adalah kehadiran telepon selular (ponsel) alias hape yang menghadirkan media baru berupa video klip atau foto digital. Di saat sama ponsel ini digunakan oleh wartawan suratkabar online mengirim berita instan, anak-anak remaja yang “nakal” menggunakan alat serupa untuk saling tukar video klip “tidak senonoh”. Dan masyarakat  -terutama masyarakat “orang tua”- kerepotan memahami apa arti sopan santun di kepala remaja-remaja itu: mengapa yang “senonoh” saat ini dahulu kala disebut “kurang ajar”?

Lalu muncullah di masyarakat debat dan pro-kontra. DI satu sisi ada pihak yang memposisikan diri sebagai “pelindung kehormatan” alias kaum proteksionis yang konon ingin menjaga nilai-nilai bangsa dari gerusan “nilai-nilai asing”. Sementara di pihak lain ada yang bicara atas nama kebebasan dan pembebasan. Bentrokan antara keduanya pernah terjadi ketika keduanya tak sepaham tentang apa yang dimaksud “porno” di Indonesia ini. Dalam keadaan seperti itu, keberaksaraan media jadi penting. Lha.. wong yang bikin gara-gara tentang semua ini, kan, media itu; khususnya media massa dan media personal itu. Keberaksaraan media juga jadi penting ketika media personal (seperti ponsel, sebenarnya, kan, barang milik pribadi) sudah menjadi media massa (distribusi isyu santet dan berbagai isyu seram lainnya dilakukan lewat ponsel). Masyarakat kita sebenarnya sedang dalam situasi chaois karena ruang pribadi jadi ruang publik, dan industri infotainment harus ikut bertanggungjawab tentang hal ini.

Media elektronik dan digital, dari ponsel sampai blog sampai wiki sampai YouTube, adalah Kurusetra baru, tempat peperangan baru. Di “lokasi digital” inilah muncul keberaksaraan baru. Orang-orang yang terampil menggunakan ponsel, rajin mengisi blog, dan pandai memakai kamera digital untuk berkreasi di YouTube, adalah para kesatria baru. Persoalannya, sebagian kesatria itu adalah “Pandawa” dan sebagian lain adalah “Kurawa”, dan ada juga di antara mereka para “Dorna”, para “Sengkuni”, dan para “dasamuka” (yang terakhir ini memang banyak, lho!).

Kalau keberaksaraan memang nyangkut dan lengket dengan dunia pendidikan seperti prangko dan amplopnya, maka kita pun patut bertanya: apakah di dunia pendidikan Indonesia perlu memahami media baru dan tingkah polah para kesatria digital itu? Tidakkah kini waktunya para guru (dan para guru-pustakawan atau pustakawan-guru atau apa, lah, namanya!) mulai mengembangkan keberaksaraan media sebagai bagian dari upaya mempersiapkan para peserta didik untuk hidup di “dunia yang sebenarnya”?

Usulan tentang keberaksaraan media ini, antara lain, dapat dilihat di situs ini: http://www.medialit.org/ 

Di situ ada beberapa isyu yang patut diperiksa oleh para guru dan para guru-pustakawan. Sebagian dari isyu itu amat relevan dengan keadaan di Indonesia.

Jadi…, tunggu apa lagi? :-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: