Ilmu Perpustakaan & Informasi

diskusi dan ulasan ringkas

Membumi Bersama David Ellis

Posted by putubuku pada Mei 17, 2008

Salah satu teori paling populer di kalangan peneliti perilaku informasi (information behaviour) adalah teori karya David Ellis (1987, 1989a, 1989b, 1990). Ia mengembangkan teori perilaku pencarian informasi yang dikaitkannya secara langsung dengan sistem information retrieval. Di dalam argumentasinya, Ellis mengatakan bahwa perilaku lebih mudah ditelusuri daripada kognisi, dan bahwa pendekatan perilaku lebih layak digunakan untuk mengembangkan sistem daripada model kognitif.   

Ellis mengadakan penelitian di kalangan para ilmuwan yang sedang melaksanakan kegiatan sehari-hari mereka, yaitu mencari bacaan, meneliti di lapangan atau di laboratorium, menulis makalah, mengajar, dan sebagainya. Hasil dari penelitian itu adalah sebuah teori untuk menjelaskan perilaku informasi secara umum dalam bentuk serangkaian kegiatan yang terdiri dari:

  1. Starting – terdiri dari aktivitas-aktivitas yang memicu kegiatan pencarian informasi. 
  2. Chaining – kegiatan mengikuti rangkaian sitasi, pengutipan atau bentuk-bentuk perujukan antar dokumen lainnya. 
  3. Browsing – merawak, mengembara tetapi dengan agak terarah, di wilayah-wilayah yang dianggap punya potensi. 
  4. Differentiating – pemilahan, menggunakan ciri-ciri di dalam sumber informasi sebagai patokan untuk memeriksa kualitas isi/informasi. 
  5. Monitoring – memantau perkembangan dengan berkonsentrasi pada beberapa sumber terpilih. 
  6. Extracting – secara sistematis menggali di satu sumber untuk mengambil materi/informasi yang dianggap penting. 

Ellis menyatakan bahwa enam butir di atas saling berkaitan untuk membentuk aneka pola pencarian-informasi, dan seringkali bukan merupakan tahapan-tahapan yang teratur. Selain itu, ia juga menemukan bahwa ada beberapa perbedaan di kalangan ilmuwan yang bergelut dengan bidang berbeda. Misalnya, di kalangan peneliti budaya dan sastra ada tiga tambahan kegiatan spesifik, yaitu Surveying – semacam upaya ‘mengenal medan’ dengan membaca berbagai literatur di suatu bidang atau topik tertentu; Selection and sifting – semacam kegiatan ‘tebang pilih’ untuk menentukan sumber mana yang patut dicermati dan diikuti; dan Assembly and dissemination – kegiatan menghimpun materi tertulis untuk publikasi dan diseminasi. 

Ini agak berbeda dengan kalangan peneliti ilmu kimia yang punya dua kebiasaan khusus, yaitu Verifying  (kebiasaan mengulang cek ketepatan sebuah informasi), dan Ending (secara khusus menetapkan akhir kegiatan pencarian informasi).  Sementara kalangan insinyur dan peneliti ilmu pasti-alam merasa perlu melakukan dua hal khusus, yaitu Distinguishing (kebiasaan membuat urut-urutan sumber informasi berdasarkan nilai-pentingnya, dan Filtering (melanjutkan kegiatan distinguishing untuk menyaring informasi yang relevan, menggunakan kriteria dan mekanisme yang digunakan ketika melakukan kegiatan distinguishing). 

Yang agak ‘ceriwis’ mungkin adalah kalangan ilmuwan dan peneliti fisika, karena mereka punya kebiasaan khusus yang paling banyak dibandingkan kalangan lain, yaitu:

  1. Initial familirization – upaya pengenalan awal dan familiarisasi dengan sumber-sumber informasi yang ada, dilakukan di awal kegiatan pencarian informasi. 
  2. Chasing – atau ‘mengejar’ sitasi dari satu dokumen ke dokumen lain dengan seksama. 
  3. Source prioritization – mirip dengan kebiassaan distinguishing dan filtering yang para insinyur, yaitu dengan menetapkan prioritas sumber yang dianggap paling penting. 
  4. Maintaining awareness – semacam kegiatan memantau perkembangan dengan tujuan membuat diri selalu up-to-date
  5. Locating – secara khusus menyediakan waktu khusus untuk menemukan sendiri sumber yang diperlukan. 

Temuan-temuan Ellis menjadi salah satu picu bagi berbagai penelitian selanjutnya tentang perilaku informasi ilmuwan. Rincian aktivitas yang berbeda-beda di kalangan ilmuwan berbagai cabang di atas juga telah melahirkan penelitian tentang perilaku komunitas peneliti, dan akhirnya juga membantu strategi pengembangan jasa perpustakaan dan informasi yang lebih terarah. Misalnya, hasil penelitian Ellis ini dapat dijadikan acuan untuk membentuk cluster (pengelompokan) jasa rujukan atau jasa current awareness di sebuah universitas yang punya berbagai fakultas dan jurusan.

Hal lain yang tak kalah pentingnya dari penelitian dan teori Ellis ini adalah metode penelitian yang digunakannya. Berbeda dengan rekan-rekan peneliti di jamannya, Ellis memberanikan diri ‘menyimpang’ dari tradisi survei dan eksperimen. Ia menggunakan metode yang dikenal dengan nama Grounded Theory atau biasa disingkat GT  Metode ini memang merupakan metode penelitian yang paling banyak dirujuk dan dianggap sebagai wakil dari metode kualitatif. Metode ini dikembangkan di pertengahan 1960-an oleh dua sosiolog dari University of California, yaitu Barney Glaser dan Anselm Strauss. 

Salah satu ciri penting dari metode GT adalah penggunaan cara yang seksama untuk secara perlahan dan hati-hati ‘menyaring’ data dari lapangan, memilah-milah dan mengaitkannya menjadi konsep yang semakin lama semakin abstrak. Istilah grounded dalam metode GT merujuk ke tekad peneliti untuk ‘apa adanya’ dan selalu menggunakan data lapangan yang benar-benar ditemukan langsung. Dalam kasus Ellis, misalnya, semua data diperoleh langsung dari peneliti dan langsung dari keterlibatan Ellis dalam pergaulan kelompok peneliti yang sedang ditelitinya.

Dalam bentuk diagram, proses metode GT ini dapat digambarkan sebagai berikut:


 Metode GT dalam diagram di atas jelas sekali mengandalkan kegiatan lapangan, atau boleh lah kita katakan bahwa penelitian GT ini cenderung lebih ‘membumi’. Teori David Ellis tentang perilaku ilmuwan dalam mencari informasi bolehlah kita katakan teori yang membumi.

Jika Anda tertarik pada teori Ellis, silakan baca yang berikut ini:

  • Ellis, D. (1984) “Theory and explanation in information retrieval research”, dalam Journal of Information Science, vol. 8, h. 25 – 38.
  • Ellis, D. (1987), The Derivation of a Behavioral Model for Information System Design, disertasi doktoral, tidak diterbitkan, University of Sheffield, Inggris.
  • Ellis, D. (1989a), “Behavioral approach to information retrieval system design”, dalam Journal of Documentation, vol 45 no. 3, halaman 171-212.
  • Ellis, D. (1989b) “A Behavioral model for information retrieval system design” Special Issue. Journal of Information Science, vol. 15, no. 4/5 hal. 237-247.
  • Ellis, D., D. Cox dan K. Hall (1992), “A Comparison of the information seeking patterns of researchers in the physical and social sciences” dalam Journal of Documentation, vol. 49 no. 4, hal. 356 – 369.

 Beberapa penjelasan tentang metode GT dapat dilihat di sini:

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: